Baru tadi malam, saya nyampai di rumah, setelah dua hari pergi luar kota. Hari Kamis, tanggal 8 Mei 2014, saya diundang ke Bandung oleh Irjen Kementerian Agama (seperti tulisan saya kemarin). Setelah itu, saya meneruskan perjalanan ke Tanjung Pinang untuk juga diminta berceramah di sana. Hari Jum'at siang meneruskan perjalanan harus ke Batam, dan malamnya pulang, nyampai di Surabaya sudah jam 01.30 dengan pesawat terakhir dari Jakarta.
Malam itu, dari Surabaya, saya tidak langsung pulang, karena Sabtu pagi saya harus berceraman di Pondok Pesantren Tambak Beras, dan sorenya masih harus rapat Yayasan di Pondok Pesantren Tebu Ireng. Agar perjalanan itu lebih praktis, pada tengah malam itu, saya langsung ke Jombang. Saya bersyukur, selama ini, saya dicatat sebagai anggota Yayasan Pondok Pesantren yang didirikan oleh KH. Hasyim Asy'ari di Jombang itu. Sekalipun sebenarnya sudah sangat capek, saya harus mengikuti rapat hingga sore.
Sesampai di rumah, ------kemarin malam, dari perjalanan panjang dan terakhir dari Jombang itu, saya segera membuka internet, melihat website dan juga facebook. Ketika itu, saya benar-benar terharu. Betapa banyaknya teman, sahabat, mahasiswa, sesama dosen, dan lain-lain dari berbagai daerah, berkirim pesan melalui website dan facebook. Pesan itu sangat melegakan saya, berupa dukungan, harapan agar tegar, sabar, tabah, doa, dan sejenisnya.
Atas kiriman pesan yang seluruhnya indah itu, tergambar pada pikiran dan hati saya, bahwa ternyata sedemikian banyak orang yang memahami bahwa sebenarnya saya tidak salah. Selama ini, mereka mengenal saya sebagai orang yang mau bekerja keras untuk memajukan lembaga pendidikan tinggi Islam. Lebih terharu lagi, mereka juga mengataan bahwa, selama ini saya dianggap jujur, pekerja keras, mau berkorban untuk kemajuan umat. Selain itu, mereka mengatakan, bahwa saya ini sudah bekerja di jalan yang benar.
Secara jujur, dalam keadaan lelah, tatkala membaca pesan-pesaan itu, saya amat terharu. Tidak terasa, ternyata saya menangis di hadapan komputer. Terbayang di dalam pikiran dan hati saya, ternyata sedemikian banyak orang yang begitu mendalam perhatiannya terhadap saya. Pengakuan mereka sedemikian tulus. Saya dikakan tidak salah. Semua itu, sangat mengharukan saya. Benar-benar bahwa, pada sore kemarin, saya mendapat kalimat penghibur atau penyejuk hati yang tidak pernah saya dapatkan sebelumnya. Lewat tulisan ini,saya ingin menyampaikan terima kasih yang amat mendalam atas kebaikan, ketulusan, dan keikhlasan dari semua teman itu.
Di antara semua pesan indah tersebut, ada yang mengutip peristiwa sejarah yang dialami oleh Nabi Ibrahim, ketika beliau menghadapi hukuman Raja Namrud. Tatkala api sudah menyala-nyala, yang tentu bagi siapapun, akan takut mendekatinya, Nabi Ibrahim masih menunjukkan ketengannya. Bahkan di tengah peristiwa itu, Jibril datang dan menawarkan diri untuk mematikan api yang dikobarkan Raja Namrud. Tawaran itu, oleh Nabi Ibrahim ternyata ditolaknya. Jibril juga mengusulkan supaya Nabi Ibrahim memohon kepada Allah, agar api yang siap membakarnya itu dimatikan. Menurut kisah itu, Nabi Ibrahim mengatakan, tidak perlu memohon, sebab Tuhan sendiri sudah tahu keadaan itu.
Lewat kisah Ibrahim tersebut, ia menghendaki, agar saya tabah, sabar, ikhlas, dan berserah kepada Tuhan, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi yang mendapatkan gelar dari Allah swt., dengan sebutan Kholilullah. Apa saja yang terjadi di dunia ini sebenarnya tidak ada satu pun yang lepas dari pantauan dan ijin Allah swt. Maka sikap yang paling penting, dari pesan dimaksud adalah, bahwa dalam menghadapi apapun, maka harus sabar, ikhlas, tabah, dan selalu memohon pertolongan dari Allah swt. Bagi saya, berbagai pesan termasuk kisah Ibrahim tersebut, sangat besar artinya pada saat menghadapi tuduhan pada akhir-akhir ini. Saya selalu mengikuti nurani saya, bahwa saya sedikitpun tidak pernah bermaksud merugikan negara, apalagi korupsi dari lembaga yang selama ini saya besarkan bersama-sama. Wallahu a'lam.



