Petunjuk Tuhan Kepada Para Pemimpin
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 20 Mei 2014 . in Dosen . 2336 views

Sudah menjadi hal biasa, seorang calon pemimpin diragukan oleh sementara orang dan apalagi oleh pendukung kompetitornya. Dianggapnya seseorang kurang layak menduduki jabatan tertentu, tidak terkecuali menjadi presiden. Calon pemimpin dimaksud dianggap kurang berpengalaman, penampilannya kurang meyakinkan, jaringan komunikasinya kurang luas, dan bahkan juga penilaian itu menyangkut kualitas keberagamaan dan ketaqwaan, dan lain-lain. 

Kesan yang demikian itu rupanya berlaku umum, terjadi di mana dan kapan saja, dan lagi pula terhadap jabatan apa saja. Seorang calon kepala desa misalnya, pada awalnya dianggap tidak akan mampu mengemban amanah kepemimpinan. Sebab orang dimaksud tidak pernah bersentuhan dengan tugas-tugas itu. Saya juga memiliki pengalaman pribadi, yakni tatkala dicalonkan menjadi pimpinan perguruan tinggi yang pertama kali, pada waktu itu banyak orang yang meragukan terhadap kemampuan saya. 

Pada waktu itu, saya dianggap masih muda. Umur saya baru sekitar 30 tahun, oleh beberapa pimpinan kampus dicalonkan untuk menjabat sebagai pembantu rektor I. Banyak orang mengkritik dan bahkan merendahkan diri saya. Mendengar kritikan itu, saya berusaha tidak membantah. Saya rasakan, dalam hal-hal tertentu, kritikan itu memang benar. Banyak sekali kekurangan saya. Bahkan suatu ketika, saya mencoba merespon kritikan itu dengan kelakar, yaitu dengan mengatakan bahwa, semua orang yang mengenventarisasi kekurangan saya tidak akan ada yang benar atau apalagi sempurna. Sebab, kekurangan dan kelemahan saya adalah jauh lebih banyak dari sekedar yang disebutkan oleh banyak orang itu. 

Namun, setelah jabatan itu saya emban selama 4 tahun, ternyata saya masih dipilih kembali untuk masa jabatan yang kedua. Bahkan, tatkala masa jabatan yang kedua itu selesai, saya masih dipilih kembali untuk menduduki jabatan itu pada periode yang ketiga. Rupanya masyarakat dalam hal memilih calon pemimpin tidak cukup hanya atas dasar keterangan, kata orang, hitungan-hitungan di atas kertas, dan bahkan juga analisis para ahli. Sebelum menentukan pilihannya, masyarakat ingin melihat bukti atau kenyataan terlebih dahulu. 

Begitu pula, ketika saya dicalonkan untuk memimpin Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Malang untuk yang pertama kali, saya mendengar, beberapa orang meragukan kemampuan saya untuk memimpin lembaga pendidikan tinggi Islam itu. Banyak hal yang dianggap kurang dari pribadi saya untuk menduduki posisi penting dan strategis itu. Oleh karena itulah maka, banyak orang ragu, khawatir, dan bahkan takut manakala lembaga yang saya pimpin akan mundur atau tidak akan mengalami kemajuan. Lagi-lagi, menghadapi kritik semacam itu, saya berusaha menahan diri dan sabar. Bagi saya, kritik tidak perlu dijawab dengan kritik, melainkan dengan usaha-usaha dan tindakan nyata. 

Sebagaimana disebutkan di muka, bahwa orang biasanya ragu terhadap kemampuan dan kualitas pribadi seseorang yang akan menduduki posisi strategis tertentu. Keraguan itu sebenarnya boleh-boleh saja, apalagi sikap itu dibaca sebagai bentuk ekspresi kecintaan mereka terhadap keadaan masyarakat di masa depan. Keadaan masyarakat selalu dipengaruhi oleh pemimpinnya. Manakala pemimpinnya hebat, maka masyarakat itu akan hebat, dan begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu, pemimpin harus dipilih di antara yang paling hebat. 

Akan tetapi sebenarnya, melihat kualitas seseorang tidak cukup hanya dari penampilan fisiknya dan bahkan juga dari rekam jejaknya. Aspek penting yang harus dilihat tatkala memilih orang adalah kualitas hatinya. Hanya sayangnya, melihat aspek yang dimaksudkan itu tidak mudah. Selain itu, bahwa kemampuan dan bahkan perilaku Manusia ternyata bisa berubah-ubah. Seseorang yang semula tampak tidak memiliki kelebihan, setelah yang bersangkutan menduduki posisi penting yaitu menjadi pemimpin, ternyata bisa menunjukkan kelebihan-kelebihannya. Pemimpin itu ternyata cerdas, mampu merumuskan visi dan misi kepemimpinannya, memiliki kemampuan menggerakkan orang dengan bijak, serhingga akhirnya ia menjadi pemimpin yang dicintai oleh mereka yang dipimpinnya. Dampaknya, lembaga yang dipimpinnya menjadi maju dan berkembang pesat. 

Membaca dari kenyataan tersebut, maka sementara orang bertanya-tanya, misalnya dari mana pemimpin yang semula diragukan itu memperoleh ide, inspirasi, dan sumber-sumber pengetahuan yang digunakan sebagai bekal kepemimpinannya. Bagi orang yang memahami dengan baik kitab suci, mereka akan mengatakan bahwa petunjuk atau hidayah itu berasal dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Tuhan bisa saja memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki dan sebaliknya, membiarkan kepada siapa saja yang dikehendaki. Oleh karena itu, di masa pemilihan calon pemimpin, atau tegasnya pemilihan calon presiden seperti sekarang ini, kita boleh meragukan kepada seorang calon pemimpin, tetapi kita juga harus yakin bahwa Allah swt., sangat mungkin memberi petunjuk atau hidayah kepada pemimpin yang semula diragukan itu. Siapapun, termasuk pemimpin, tatkala telah dikaruniai petunjuk atau hidayah oleh Allah, maka tindakan dan keputusannya akan tepat. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up