Pilihan Peran Hidup Di Masa Sekarang
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 11 Mei 2014 . in Dosen . 1034 views

Di tengah malam di dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta, saya dengan mobil avanza, hanya bersama staf Inspektorat Jenderal Kementerian Agama, Jakarta. Perjalanan di tengah malam itu, saya merasa harus menjaga diri agar tidak tidur, kasihan pengemudi yang sebenarnya juga sama-sama capek, dan tidak ada yang diajak ngomong. Dengan demikian kami berdua, dalam perjalanan kurang lebih 4 jam itu, berbincang-bincang agar tidak mengantuk

Pembicaraan yang terasa relevan adalah tentang pilihan peran hidup pada masa sekarang, sekalipun pilihan itu sebenarnya juga tidak mudah didapatkan. Kita boleh-boleh saja memilih, tetapi ternyata, pilihan itu tidak tersedia. Hal yang menyangkut lapangan kerja, status atau jabatan, ------ di Indonesia ini, sulitnya bukan main. Orang belum berpeluang untuk memilih, tetapi baru mencari dan tatkala mendapatkannya juga sudah merasa beruntung.

Sekalipun demikian itu keadaannya, tidak ada larangan bagi siapapun untuk memperbincangkannya, apalagi sekedar untuk mengisi waktu. Pengemudi Avanza yang kebetulan sehari-hari bertugas sebagai auditor di inspektorat jendrak kementerian agama, menanyakan jenis pekerjaan atau pilihan hidup yang sekiranya menjadikan seseorang meraih ketenangan dan selamat. Dia kemudian menyebut, bahwa orang perguruan tinggi lebih aman dibanding sesama PNS yang bertugas di kantor dan mendapatkan banyak proyek yang harus diselesaikan.

Staf Irjen tersebut menyebutkan bahwa mengerjakan proyek, baik pengadaan barang maupun jasa, di masa sekarang tidak sama dengan dulu. Pada zaman sekarang semua harus mengikuti aturan atau SOP yang telah ditetapkan. Manakala ketentuan itu dilanggar, maka di dalam pemeriksaan akan ditemukan kesalahannya dan harus dipertanggung jawabkan. Gagal membuat argumentasi agar tidak dijadikan temuan, maka yang bersangkutan harus mengembalikan anggaran yang telah digunakan ke kas negara.

Oleh karena itu, bahwa resiko itu sedemikian berat. Lantas dia menyebut, mungkin yang lebih enak itu adalah menjadi guru, dosen, atau sejenisnya. Saya menyebutkan bahwa selama masih berada di lingkungan instansi pemerintah, pada saat sekarang ini adalah sama saja. Semua jenis birokrasi pemerintah harus menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Guru, dosen atau sejenisnya adalah sama, harus bekerja sesuai dengan standard.

Saya menambahkan bahwa, bekerja di perguruan tinggi juga harus mengikuti standard yang ditetapkan. Semua birokrasi yang dijalankan di lingkungan pemerintah sekarang ini adalah mengikuti birokrasi mesin. Bahwa semua hal digerakkan bagaikan gerak mesin. Semuanya serba terstuktur, terpola, dan atau tidak boleh keluar dari standard yang ditetapkan itu.

Bahkan seorang rektor perguruan tinggi agar selamat dalam menunaikan tugasnya, harus mengikuti tupoksinya. Berani keluar dari tupoksi dianggap menyimpang, dan jika hal itu benar-benar terjadi, maka resikonya yang bersangkutan diadukan atau dilaporkan ke kejaksanaan. Beberapa pejabat di perguruan tinggi,----- pada akhir-akhir ini, banyak yang terkena resiko itu.

Oleh karena itu, di dalam birokrasi mesin, cara mudah adalah jangan kreatif. Sebab kreatifitas akan membahayakan bagi pejabat yang bersangkutan. Cara berpikir harus linier dan sama sekali tidak boleh lateral. Dibandingkan dengan soal ujian di sekolah, maka harus menggunakan jenis soal obyektif, atau soal dengan jawaban pilihan ganda. Oleh karena jumlah siswa terlalu banyak, agar tidak kesulitan mengoreksinya, maka dipilih type soal obyekif. Tentang apakah dengan birokrasi mesin yang kaku, atau soal pilihan berganda itu, lalu orang-orang menjadi kreatif, maka rupanya bukan dianggap masalah. Yang penting, semua berjalan.

Diskusi di dalam mobil dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta di tengah malam itu ternyata tidak menghasilkan kesimpulan apa-apa, sekalipun sebenarnya juga tetap penting. Selama ini, kita menghendaki agar kreatifitas menjadi tumbuh, setidak-tidaknya, yang ada di perguruan tinggi. Namun demikian, sekalipun kreatifitas itu dianggap penting, tetapi ternyata masih harus mengedepankan pilihan yang bersifat praktis. Jika demikian itu yang diperankan, resiko bangsa ini akan menjadi tertinggal terus. Bngsa ke depan tidak saja memerlukan kreatifitas, melainkan juga adanya langkah-langkah strategis, menerobos, mengubah, dan bahkan juga melompat-lompat. Siapa yang bisa ? Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up