Saling Berwasiatlah !
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 30 Mei 2014 . in Dosen . 3508 views

Ajaran Islam yang sedemikian indah, ternyata seringkali masih dilupakan oleh umatnya sendiri. Ajaran yang dimaksudkan itu di antaranya adalah agar di antara sesama saling memberikan wasiat. Disebutkan di dalam kitab suci al Qur'an bahwa, semua manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang oprang-orang yang beriman, beramal shaleh, dan saling wasiat mewasiati di dalam kebenaran dan kesabaran.

Anjuran agar saling mewasiati di dalam kebenaran dan kesabaran tidak terbatas pada orang-orang tertentu, melainkan terhadap semuanya saja. Boleh saja wasiat itu datang dari pemimpin kepada rakyatnya, dan begitu juga sebaliknya, dari rakyat kepada pemimpinnya, atau sesama pemimpin, antara ulama kepada umara' dan bahkan sebaliknya, dari umara' terhadap ulama'. Ajaran Islam ini menggambarkan adanya egaliter.

Semua orang di hadapan Tuhan adalah sama. Oleh karena itu saling wasiat mewasiati antar sesama adalah niscaya dilakukan. Manusia tidak pernah luput dari salah dan lupa. Oleh karena itu manusia yang merasa tidak pernah salah justru pandangannya itu salah. Siapapun tidak mungkin berkeadaan sempurna atau tidak pernah melakukan kesalahan. Masih berbuat kesalahan dan lupa adalah menjadi ciri khas semua orang.

Betapa seriusnya peringatan bahwa setiap manusia berpotensi berbuat salah, hingga pada setiap hari, paling tidak 17 kali, orang dianjurkan untuk memohon petunjuk sepada Allah. Bacaan 'ihdinasshiraathal mustaqiem' yang selalu diulang-ulang pada setiap shalat bisa ditangkap, bahwa betapa manusia selalu membutuhkan petunjuk atau hidayah langsung dari Tuhan. Kewajiban mengulang-ulang permohonan petunjuk itu bisa dimaknai bahwa betapa pentingnya persoalan itu bagi setiap manusia untuk meraih kebenaran dan keselamatan, baik di dunia maupun di akherat.

Selain dianjurkan agar selalu memohon petunjuk, manusia juga supaya selalu saling berwasiat di antara sesama tentang kebenaran dan kesabaran. Rupanya anjuran ini oleh kaum muslimin sendiri tidak terlalu ditangkap esensinya. Berdalih menegakkan kebenaran dan keadilan, anjuran ini dilupakan. Di antara sesama tidak dilakukan saling menasehati, melainkan justru ditunggu peluangnya untuk dibidik dan dicari kesalahannya. Mendapatkan kesalahan orang lain dianggap berprestasi dan bahkan semakin meningkat prestasinya ketika orang yang dianggap salah dimaksud berhasil dimasukkan ke penjara.

Mekanisme, kebiasaan, tradisi, adat istiadat untuk saling berwasiat di antara sesama ternyata sudah semakin tidak tampak. Padahal ajaran itu bersumber dari al Qur'an yang tentunya harus dipegangi oleh umat Islam sendiri. Di antara makna Islam itu sendiri adalah selamat dan menyelamatkan. Maka, di antara sesama kaum muslimin harus berupaya agar saling melindungi, mengamankan, dan menyelamatkan. Namun rupanya, ajaran agung dan mulia itu dilupakan dan bahkan justru membidik sesama atas dalih melakukan kebaikan dan nahyu anil mungkar. Rupanya pesan al Qur'an agar saling selalu berwasiat tentang kebenaran dan kesabaran sudah semakin tidak didengarkan lagi. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up