Umpama Hubungan Majikan Dan Buruh Mengikuti Konsep Berjama'ah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 1 Mei 2014 . in Dosen . 1403 views

Sepanjang sejarahnya, buruh merasa belum diuntungkan. Mereka masih banyak yang merasa dirugikan. Upah yang mereka peroleh sebagai buruh belum mmencukupi untuk meraih kesejahteraan dan bahkan sekedar kecukupan. Gambaran kehidupan buruh seperti itu terjadi di mana-mana. Akibatnya, seringkali terdengar berbagai bentuk perjuangan, berupa protes, dan bahkan demonstrasi menuntut kenaikan upah atau kesejahteraan buruh.

Berbagai organisasi buruh dibentuk di mana-mana, agar dengan organisasi itu mereka bisa memperjuangkan nasipnya. Pemerintah sendiri juga membuat berbagai peraturan dan undang-undang untuk melindungi para buruh dan perusahaan yang mempekerjakannya. Pemerintah berkempetingan terhadap keduanya, baik kepada perusahaan maupun kepada para buruh. Tanpa perusahaan, para buruh tidak akan bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Demikian pula, tanpa buruh, perusahaan tidak akan berjalan.

Sedemikian penting memperhatikan kehidupan buruh, hingga pada hari ini, tanggal 1 Mei ditetapkan sebagai hari buruh. Bahkan, sejak tahun ini di Indonesia hari buruh tersebut ditetapkan sebagai hari libur nasional. Kebijakan ini tentu besar artinya bagi bangsa ini, setidaknya untuk memberi peringatan betapa pentingnya bagi bangsa ini memperhatikan kehidupan sesama yang dari sisi upah atau penghasilan ekonominya, -------pada umumnya, belum dianggap cukup untuk mensejahterakan keluarganya.

Persoalan mendasar dari hubungan antara perusahaan dan buruh, sebenarnya terletak pada adanya kesenjangan yang dirasakan. Perbedaan penghasilan yang mencolok itulah sebenarnya yang memicu terjadinya gejolak itu. Umpama perbedaan penghasilan atau kekayaan itu tidak terlalu jauh, dalam arti masih bisa dipahami, maka para buruh pun akan menerima apapun perlakuan yang diberikan oleh perusahaan. Para buruh memprotes kecilnya upah yang diterima oleh karena mereka melihat dan merasakan diperlakukan secara tidak adil. Keuntungan yang diperoleh perusahaan terlalu besar, sementara imbalan yang diterima oleh para buruh tidak seimbang dengan keringat yang dikeluarkannya.

Persoalan hubungan perusahaan dan buruh yang terjadi di mana-mana sebenarnya dipicu oleh adanya perasaan tidak adil itu. Umpama para buruh mengetahui bahwa keuntungan perusahaan masih dianggap wajar, tidak berlebih-lebihan, dan bahkan sering merugi, maka para buruh juga tidak akan memprotes dan apalagi menuntut secara berlebih-lebihan. Para buruh pasti memiliki nurani, atau nurani buruh. Nurani siapa saja , tidak terkecuali nurani para buruh, selalu berbicara obyektif, rasional, dan selalu menuntut keadilan.

Ttkala sama-sama mendasarkan pada hati nurani, hubungan majikan dan buruh kiranya mirip hubungan antara ayah dan anak. Anak-anaknya orang miskin tidak akan menuntut ayahnya secara berlebih-lebihan. Mengetahui orang tuanya hidup dalam kondisi terbatas atau pas-pasan, anaknya tidak akan sampai hati menuntut untuk memiliki fasilitas yang tidak terjangkau. Bahkan, mengetahui orang tuanya dalam keadaan miskin, keinginan masuk sekolah berbiaya tinggi pun ditahan. Mereka takut menjadikan orang tuanya semakin menderita. Sikap anak menjadi seperti itu, karena mereka memiliki hati nurani yang bersih. Hal itu sangat berbeda, misalnya manakala orang tuanya tampak kaya, tetapi tidak mau membiayai kebutuhan anaknya. Anak-anak akan memprotesnya.

Oleh karena itu untuk menyelesaikan persoalan hubungan perusahaan dan buruh sebenarnya dapat diselesaikan, --------dalam ajaran Islam, dengan konsep jama'ah. Islam memberikan pelajaran tentang betapa pentingnya berjama'ah. Pahala sholat berjama'ah jauh lebih tinggi dibanding dengan shalat sendirian. Berjama'ah tidak sekedar bersama-sama atau berkumpul, dan bahkan bersatu. Orang yang sedang bersama-sama, berkumpul, dan bahkan bersatu belum tentu, hati mereka benar-benar sama, dan apalagi terjalin hubungan kasih sayang. Hubungan hidup berjamaah bisa dicontohkan dalam shalat. Dalam shalat berjama'ah, semuanya menyatu, dan gerakannya pun sama. Tatkala imamnya membaca surat al fatekhah, makmumnya mendengarkan, tatkala imamnya ruku', maka jama'ahnya ruku', dan seterusnya. Seorang Imam dipilih di antara yang lebih sempurna dari semua makmumnya.

Dalam berjama'ah, manakala imamnya melakukan kesalahan yang tidak disengaja, maka makmumnya memberi peringatan dengan cara tertentu, ialah membaca tasbih. Peringatan itu tidak dilakukan dengan cara sembarangan, dan apalagi dengan menuduh dan atau menyakiti hati imam. Suasana saling menghormati, menghargai, memuliakan, dan yang lebih penting lagi adalah saling kasih sayang di antara sesma jama'ah dan juga kepada imam terbangun secara mendalam. Dan, yang lebih penting lagi, antara pahala imam dan pahala makmum, -------dalam konsep Islam, tidak ada kesenjangan dan bahkan sama. Semua memperoleh pahala yang sama. Bahkan kekeliruan, ----umpama terjadi, di antara makmum, atau imamnya dengan tidak disengaja itu, maka semuanya bisa ditutupi oleh yang lain.

Umpama hubungan perusahaan atau majikan dan buruh mengikuti konsep berjama'ah, maka tidak akan ada lagi pihak-pihak yang merasa dirugikan dan bahkan ditindas. Konsep itu begitu indah, hingga karena indahnya itu, tidak semua orang mampu menjalankannya. Berjamaah tidak sama dengan bersama-sama, berkumpul, dan bahkan sekedar merasa bersatu. Sebab dalam berjama'ah semua aspek dalam diri manusia secara total menyatu, baik fisik, pikiran, perasaan, maupun hati nuraninya. Lebih dari itu, orang-orang yang menyatu dalam sebuah jama'ah, -------sholat secara khusu' misalnya, akan merasakan bahwa tujuan hidupnya juga satu, ialah memperoleh ridha dari Allah. Bukan sebaliknya, sebagaimana tujuan dalam konsep perusahaan pada umumnya, yaitu sekedar bermasud untuk mendapatkan kekayaan dunia belaka. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up