Antar Kompetitor Sebaiknya Tidak Saling Merendahkan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 5 Juni 2014 . in Dosen . 1211 views

Merendahkan orang lain itu sebenarnya bukan perilaku atau cara-cara hebat. Seseorang disebut hebat manakala yang bersangkutan mampu menghargai, melihat kelebihan, dan kehebatan orang lain. Kemampuan melihat orang lain hanya dari sisi kelemahan, kekurangan, dan bahkan keburukannya, adalah sebagai pertanda bahwa yang bersangkutan sendiri adalah lemah.

Islam sebagai agama yang dipeluk oleh mayoritas penduduk Indonesia mengajarkan agar tidak melakukan su'udzan atau berprasangka buruk. Sebaliknya, mengajarkan khusnudzan atau berprasangka baik. Islam juga mengajarkan agar ber-fastabiqul khairaat, atau berlomba-lomba dalam kebaikan. Perlombaan itu hendaklah dilakukan di antara mereka yang sama-sama baiknya, sama-sama jagoannya, sama-sama hebatnya.

Berlomba di antara mereka yang berbeda, yaitu di antara baik dan jelek, kuat dan lemah, terlalu besar dan terlalu kecil, adalah mudah menebaknya, siapa yang akan kalah dan siapa yang akan menang. Perlombaan itu seharusnya dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kemampuan setara. Diumpamakan perlombaan bertinju, seharusnya dipilih diantara juara yang sama-sama kelas berat atau sebaliknya, sama-sama kelas ringan. Jangan sekali-kali petinju kelas berat dipertandingkan dengan kelas ringan. Tidak akan menarik.

Begitu indahnya ajaran Islam, pertandingan atau perlombaan itu hendaknya dilakukan di dalam kebaikan, atau fastabiqul khairaat. Maka, dalam pertandingan itu, semuanya akan menang. Sebab, semuanya sudah melakukan kebaikan. Hal yang membedakan di antara mereka yang bertanding itu adalah seberapa banyak kebaikan yang dilakukan. Mereka yang lebih banyak kebaikan yang dilakukan, maka mereka itulah pemenangnya.

Pada saat sekarang ini, bangsa Indonesia sedang menghadapi kegiatan pilihan presiden dan wakil presiden. Ternyata yang bertanding hanya dua pasang, yaitu antara Pak Joko Widodo dan Pak Yusuf Kalla dengan Pak Prabowo dan Pak Hatta Rajasa. Kedua pasangan ini tampak sama-sama idealnya. Dilihat dari calon wakil presidennya saja, Pak Hatta Rajasa kelahiran Sumatera, sedang Pak Yusuf Kalla kelahiran Sulawesi. Dilihat dari asal daerah kelahirannya saja tampak ideal. Tidak kebayang misalnya, umpama kedua calon wakil presiden itu berasal dari wilayah yang sama.

Kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden itu juga sama-sama hebat. Siapa yang belum paham dengan Pak Prabowo. Namanya sangat terkenal sejak lama. Perhatiannya terhadap kaum tani, nelayan, dan orang-orang kecil, semuanya sudah diketahui banyak orang. Kecintaan dan Integritasnya terhadap bangsa ini sudah dibuktikan sejak lama. Begitu pula Pak Joko Widodo. Beliau pernah menjadi walikota Solo, dan sukses. Akhirnya, atas keberhasilannya itu orang-orang DKI Jakarta memilihnya menjadi gubernur. Kiranya, kelebihan di antara kedua calon presiden dan wakil presiden ini tidak mungkin diungkap dalam tulisan sependek ini. Keduanya telah menyandang kelebihan.

Kedua pasang calon pemimpin bangsa itu kini sedang berfastabiqul khairat. Keduanya ingin berbuat terbaik untuk bangsanya. Oleh karena itu, tidak selayaknya, di antara para pendukung capres dan cawapres saling merendahkan, mencari kelemahan, bersu'udzan, dan apalagi mengeluarkan kalimat atau kata yang tidak menyenangkan. Bahkan akan menjadi lebih terhormat dan mulia, manakala para pendukungnya masing-masing, selain mampu mengiventasisasi kelebihan pasangan yang dijagokan, juga sekaligus menunjukkan kelebihan kompetitornya.

Manakala hal itu yang terjadi, maka pilpres yang akan datang ini adalah benar-benar merupakan kompetisi antar orang-orang yang benar-benar pilihan, antar orang hebat, antar juara, antar orang yang sama-sama baiknya, dan sama-sama dibanggakan oleh bangsa ini. Akan tetapi bila sebaliknya, yaitu saling merendahkan, mengiventarisasi kekurangannya, dan apalagi mengejek, maka yang akan dianggap berkekurangan adalah bangsa Indonesia sendiri. Mengapa orang berkekurangan masih dicalonkan sebagai presiden dan wakil presiden. Tetapi, bukan begitulah, kedua-duanya sudah merupakan sama-sama orang hebat dan dibanggakan oleh semua. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up