Tatkala menginventarisasi kekayaan bangsa ini, maka orang segera menyebut bahwa negeri ini memiliki tanah yang subur dan luas, aneka tambang yang melimpah, kekayaan hutan, laut, jumlah penduduk yang besar, masyarakat majemuk tetapi bersatu, dan lain-lain. Namun sebenarnya, penyebutan kekayaan itu belum sempurna, manakala belum disebut di antaranya lagi adalah para ulama dan kyai yang berada di mana-mana. Sumbangan mereka untuk bangsa ini tidak kecil. Sejak sebelum merdeka, pada saat pergolakan mengusir penjajah, hingga pasca kemerdekaan, mereka itu selalu mengambil peran penting untuk negeri ini.
Para ulama dan kyai mendapatkan pendidikan dari pesantren dan bahkan juga belajar ke luar negeri. Lembaga pendidikan yang didirikan itu juga atas kekuatannya sendiri, dan tidak pernah meminta bantuan dari pemerintah. Jutaan generasi muda dididik oleh para kyai atau ulama atas prakarsa dan kekuatannya sendiri. Para santri itu dididik agar mencitai ilmu pengetahuan, berakhlak mulia, mencintai orang tua, guru dan juga bangsanya. Para santrinya diajarkan bahwa mencintai bangsa dan negaranya adalah merupakan bagian dari keimanan.
Tatkala para putra-putri kyai itu pergi ke luar negeri untuk memperdalam ilmunya yang kemudian setelah kembali, mereka juga menjadi kyai dan atau ulama dan tidak pernah meminta bantuan pemerintah. Atas biaya dan kekuatannya sendiri, mereka berangkat ke luar negeri dan sepulangnya mendirikan lembaga pendidikan untuk kepentingan masyarakat. Sumbangan para kyai yang sedemikian besar kepada bangsa ini tidak selalu memperoleh respon dari pemerintah secara memadai. Hadiah yang diberikan biasanya hanya disebut-sebut telah berpartisipasi dan atau ikut memberi andil membangun bangsa. Pada saat tertentu, menjelang pemilu misalnya, pesantren didatangi oleh mereka yang sedang bersaing menjadi kandikat anggota legislatif maupun eksekutif. Namun pasca pemilihan, biasa dilupakan dan akan didatangi lagi menjelang pemilu berikutnya.
Kemarin, pada hari Sabtu tanggal 7 Juni 2014, saya diundang ke pondok pesantren al Islah di Paciran, Lamongan. Pesantren itu dirintis dan dikembangkan oleh Kyai Muhammad Dawam Shaleh. Ribuan santri belajar di pondok pesantren itu. Model pendidikan yang dikembangkan, merupakan perpaduan antara tradisi pesantren dan madrasah. Seluruh santri yang berjumlah sekitar 2. 000-an sehari-hari dibimbing oleh Kyai dan isterinya serta dibantu para asatidz dan asatidzah, menjalankan kehidupan atas petunjuk al Qur'an dan tauladan nabi, misalnya selalu mengucap salam ketika bertemu dengan siapapun, belajar bersama, menjalankan shalat berjama'ah, puasa, mendoakan kedua orang tua, tadarrus al Qur'an, dan lain-lain.
Para santri sehari-hari juga diajari berbahasa Arab dan Bahasa Inggris, mengembangkan ketrampilan sesuai dengan bakatnya masing-masing. Tidak saja diajar tentang ilmu dan ketrampilan, para santri juga selalu didoakan oleh kyainya. Dalam sambutan pada acara wisuda ketika itu, kyai mengaku selama ini pada setiap hari selalu berpuasa dan memohon kepada Allah agar semua santri yang belajar di pesantrennya menjadi orang baik, selalu mendekatkan diri pada Allah, berbakti kepada kedua orang tua, memperoleh ilmu yang bermanfaat, dan kelak berhasil memberikan sesuatu kepada masyarakatnya. Semua santri, diharuskan untuk belajar di madrasah formal, sehingga para lulusannya tidak akan mengalami kesulitan meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi di manapun.
Sebagai sebuah pesantren, di tempat itu terdapat rumah kyai beserta keluarganya, masjid, dan asrama para santri. Di atas tanah kurang lebih dua hektar, dibangun berbagai fasilitas untuk memenuhi kebutuhan belajar dan bermukim bagi seluruh santrinya. Sudah bisa ditebak, bahwa semua fasilitas pendidikan di pesantren itu, termasuk gedung asramanya, adalah merupakan hasil usaha kyai sendiri secara mandiri. Pesantren tidak pernah memperoleh anggaran dari pemerintah secara rutin pada setiap tahunnya. Manakala ada dan diterima, maka pemberian itu sifatnya hanyalah sebatas bantuan. Begitu pula para asatidz dan asatidzah yang mengajar, juga hanya mendapatkan imbalan dari pesantren yang besarnya juga tidak terlalu berlebih-lebihan. Mereka bekerja atas dasar semangat mengabdi, beribadah, dan berdakwah untuk kepentingan agamanya.
Secara sepintas, saya melihat bahwa pesantren yang dikelola oleh Kyai Dawam Shaleh, sudah dikelola secara modern. Kebersihan tempat tinggal santri, begitu pula masjid dan lingkungan pesantren terjaga dengan baik. Kesan kumuh dan tidak terawat sebagaimana dialamatkan kepada pesantren jaman dulu, sudah tidak ada lagi. Pensantren al Islah sudah merupakan tempat pendidikan yang memadai untuk menumbuhkan berbagai kekuatan yang diperlukan bagi kehidupan modern ke depan, misalnya untuk memperdalam kehidupan spiritual, kemuliaan akhlak, keluasan ilmu pengetahuan, dan pengembangan ketrampilan. Pada kesempatan itu, saya juga menyebutkan bahwa pendidikan hendaknya mencakup empat aspek yaitu, mengajak para siswa berthilawah, melakukan tazkiyah, taklim al Qur'an dan mengasah kearifan atau hikmah. Melalui bimbingan kyai dan segenap asatidz dan asatidzah, para santri, dalam batas-batas tertentu, telah mengimplementasikan konsep pendidikan yang lebih utuh itu.
Dari kunjungan tersebut, -------sekalipun sebentar, saya menangkap bahwa konsep pendidikan Islam telah diimplementasikan di tempat itu. Pendidikan tidak sekedar dimaknai sebatas sebagai upaya menyampaikan bahan pelajaran kepada para santri dengan target-target yang ditentukan, tetapi mereka dididik dengan cara dibiasakan untuk selalu melakukan hal-hal terpuji, diberikan tauladan, dan semua kegiatan itu berlangsung sepanjang hari selama mereka berada di pesantren. Kyai mendidik para santrinya sejak bangun tidur hingga tidur kembali. Melalui pembiasaan dan sekaligus ketauladanan itulah maka para santri belajar menjalani kehidupan atas dasar jiwa yang dikembangkan pesantren, misalnya kemandirian, keikhlasan, kebersamaan, kesederhanaan, tolong menolong, selalu menghargai orang lain, dan seterusnya.
Kyai yang berhasil mengembangkan lembaga pendidikan sebagaimana dilakukan oleh Kyai Muhammad Dawab Shaleh tersebut di Indonesia ini jumlahnya cukup banyak. Berbagai pesantren dimaksud didatangi oleh para santri dari berbagai daerah untuk belajar, dan bahkan tidak sedikit mereka itu berasal dari luar negeri. Di dalam mengelola lembaga pendidikan, misalnya terkait dengan kurikulum dan ujian nasional, pesantren juga beradaptasi dengan peraturan yang diberlakukan oleh pemerintah, sehingga tidak ada yang dirugikan. Bahkan, mereka justru memperkaya dan atau mengembangkannya. Itulah sebabnya, tidak sedikit pesantren yang dalam hal-hal tertentu kualitasnya lebih unggul dibanding lembaga pendidikan pada umumnya. Kyai dengan berbagai aktifitas dan pengabdiannya yang sedemikian besar seperti itu ternyata belum dianggap sebagai kekayaan bangsa. Anehnya, mereka tidak pernah menuntut anggaran, apalagi kenaikan gaji, dan memang mereka tidak pernah berharap dan digaji oleh pemerintah. Mereka dianggap ada dan diakui saja sudah merasa cukup. Wallahu a'lam.



