Di Antara Tugas Pak Presiden : Mengubah Sebagai Bangsa Pembeli Menjadi Bangsa Penjual
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 14 Juni 2014 . in Dosen . 1331 views

al

Orang yang selalu mampu membeli semua kebutuhan biasanya merasa bangga. Orang dimaksud merasa punya uang, sehingga mereka bisa membeli segalanya, tanpa harus repot-repot membuat sendiri. Namun kemudian akan menjadi persoalan tatkala orang dimaksud tidak pernah menjual apa-apa. Padahal semuanya harus membeli. Suatu saat, uangnya akan habis, dan setelah itu tentu akan kebingungan.

Resiko lain tatkala harus selalu membeli adalah manakala suatu saat, oleh karena satu dan lain hal, diembargo oleh penjual. Tatkala penjual tidak mau lagi meneksport dagangannya, sekalipun banyak uang, pembeli akan mengalami kesulitan. Apalagi misalnya, kebutuhan dimaksud adalah kebutuhan pokok sehari-hari, misalnya beras, gandum, kedelai, dan sejenisnya. Itulah sebabnya dalam hidup ini sebisa-bisa jangan menggantungkan diri kepada orang lain.

Siapapun seharusnya disamping sebagai pembeli, juga penjual. Membeli dan menjual harus seimbang. Suatu saat berbelanja tetapi pada saat yang lain juga menjual sesuatu. Uang hasil penjualannya dibelikan sesuatu yang dibutuhkan. Maka bisa dibayangkan, betapa lemahnya seseorang tatkala pada setiap hari hanya sekedar membeli tanpa mampu menjual. Dan, lebih gawat lagi, manakala keadaan itu dialami oleh sebuah negara.

Indonesia dikenal memiliki sumber alam yang luar biasa banyaknya. Wilayahnya amat luas dan subur, banyak jenis tambang, daratan dan lautnya seimbang. Namun sayangnya, sumber alam itu belum diimbangi dengan kualitas manusianya. Akibatnya, bahan mentah yang tersedia itu harus dijual, karena belum mampu mengolah sendiri. Padahal betapapun, sumber alam itu, suatu ketika, tatkala dieksploitasi terus menerus akan habis.

Kita lihat saja, dulu Indonesia termasuk pengeksport minyak, timah, gas, dan lain-lain. Tapi kabarnya, sekarang ini sudah berbalik mulai mengimport. Bahan mentah minyak bumi di negeri ini sudah mulai habis. Kita bisa melihat beberapa kilang minyak di beberapa tempat sudah semakin menyusut produksinya, sehingga tenaga kerjanya harus dikurangi. Maka, keadaan bangsa ini sudah berubah, yakni dari menjual menjadi membeli. Pertanyaannya, apa lagi yang harus dilakukan tatkala yang dijual sudah habis ?

Ke depan hal lain yang cukup membahayakan adalah tatkala semua bahan pokok sudah harus membeli dari luar negeri. Hal itu sangat mungkin terjadi, melihat sekarang saja, sudah mengimport beras, kedelai, gandum, daging, buah-buahan, sayur, dan bahkan garam. Padahal, bangsa ini dengan lantang mengklaim sebagai negeri agraris, namun anehnya masih harus mengimport hampir semua kebutuhan pokok sehari-hari.

Sekarang ini, kita akan memilih Presiden dan Wakil Presiden. Kedua calon pasangan itu sama-sama memiliki kelebihan, sehingga siapapun yang terpilih akan didukung oleh rakyat. Namun yang perlu kiranya dipesan kepada Presiden dan Wakil Presiden terpilih adalah, bagaimana mengubah kebiasaan bangsa ini, yaitu dari kebiasaan membeli menjadi menjual. Atau setidaknya, semua kebutuhan pokok bisa dipenuhi sendiri, dan tidak perlu lagi mengimport manakala tidak terpaksa. Sepanjang mampu dicukupi sendiri, maka barang yang dibutuhkan tidak perlu mendatangkan dari luar negeri.

Untuk meraih sebagai bangsa mandiri, maka perlu kebijakan mendasar, misalnya siapapun yang mampu mengeksport sesuatu diberi fasilitas, kemudahan, dan syukur diberi insentif. Kebijakan itu dilakukan untuk menggalakkan eksport. Sebaliknya, boleh import dengan catatan diberlakukan biaya masuk yang tinggi, agar produksi dalam negeri tidak lebih mahal dibanding barang-barang import. Pada saat sekarang ini, banyak petani mengeluh oleh karena tersaingi produk luar negeri. Padahal seharusnya usaha-usaha yang dilakukan oleh bangsa sendiri harus dilindungi oleh pemerintah, dan bukan justru sebaliknya.

Adalah merupakan keadaan yang amat membahayakan manakala bangsa ini tidak mandiri. Dulu Presiden Soekarno pernah menggelorakan konsep agar bangsa ini mampu berdikari, atau berdiri di atas kaki sendiri. Menurut pandangan Soekarno, hendaknya bangsa ini tidak tergantung dari bangsa lain. Betapapun enaknya menjadi bangsa yang menggantungkan diri pada orang lain, suatu saat akan menghadapi penderitaan sebagai akibat ketergantungannya itu. Bangsa ini harus dibangkitkan kesadarannya agar segera menjadi penjual atau pengeksport. Itulah kerja pokok presiden yang akan datang.

Pekerjaan itu tentu amat berat, yaitu mengubah keadaan dari membeli beras menjadi penjual beras, dari pembeli kedelai, gandum, buah-buahan, energi, dan berbagai kebutuhan lainnya menjadi menjualnya. Perkara ini tidak mudah dikerjakan. Oleh karena itu semua kekuatan yang ada harus dimobilisasi dan dimanfaatkan sebesar-besarnya. Maka, di antara anak bangsa ini tidak perlu bertengkar, berselisih, merendahkan, mengaku paling pintar atau paling hebat, dan seterusnya. Semua kelebihan dan kehebatan itu harus didayagunakan untuk bangsa ini seluas-luasnya.

Untuk menjadikan bangsa ini mandiri, maka perdagangan harus ditata kembali, pertaniannya harus diurus dan ditingkatkan kualitasnya, nelayannya harus diberdayakan, buruhnya harus disejahterakan, pengusahanya harus diperkuat, jiwa entrepreneurnya harus ditumbuhkan dan digerakkan. Begitu pula pendidikannya harus direformulasi kembali, jangan sampai pada setiap tahun pemerintah hanya sibuk menguji dan bukan mengajar dan melatih. Harus dirumuskan ilmu dan ketrampilan apa yang seharusnya dikembangkan agar bangsa ini mampu memproduk sesuatu yang bisa dijual.

Selain itu, kerjasama yang saling menguntungkan dengan berbagai pihak harus digalakkan. Ke depan, bangsa ini jangan hanya menjadi konsumen, tergantung, pengikut, melainkan harus menjadi bangsa yang kuat, mampu memproduksi apa saja yang diperlukan, dan bahkan seharusnya menjadi bangsa yang diikuti atau dicontoh. Boleh saja mengeksport tenaga kerja, tetapi harus yang berilmu dan memiliki profesionalitas yang tinggi. Bukan sekedar mengirim tenaga kerja sebagai pembantu rumah tangga. Itulah di antara tugas penting dan mendesak Pak Presiden dan Pak Wakil Presiden ke depan, yakni membawa bangsa ini menjadi bangsa penjual hasil-hasil kecerdasan dan kreasinya, dan bukan sebaliknya, yaitu sebatas menjadi pembeli segala kebutuhan sehari-hari. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up