Ketika saya menulis bahwa keutamaan dalam hidup adalah kemuliaan akhlak, ternyata ada sementara orang yang menyanggah. Kemuliaan akhlaq memang dianggap penting, tetapi kecukupan ekonomi juga perlu. Tanpa harta yang cukup maka siapapun tidak bisa menjalani hidup dengan wajar, tidak bisa menyekolahan anak, membayar zakat, naik haji, dan seterusnya. Membaca alasan itu maka rupanya seolah-olah kemuliaan akhlaq tidak ada kaitannya dengan kecukupan ekonomi. Seolah-olah tatkala seeorang mementingkan akhlaq lalu selalu dalam keadaan miskin.
Padahal maksudnya tidak begitu dan bahkan sebaliknya. Nabi sendiri mengutamakan akhlaq, sebab dengan akhlaq mulia maka kehidupan menjadi normal dan justru terbangun kehidupan yang damai, adil, makmur, dan bahkan maju. Bangsa Indonesia yang dirasakan belum maju, oleh karena, sebagaimana banyak dikemukakan oleh para pemuka agama dan pendidik pada akhir-akhir ini adalah karena mengabaikan karakter atau akhlaq.
Dalam kitab suci, Tuhan bersabda bahwa : 'manakala penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa maka akan dibukakan berkah dari langit dan bumi'. Berkah adalah merupakan sumber kemakmuran, kedamaian, dan kebahagiaan. Keberimanan dan ketaqwaan adalah sumber lahirnya akhlaq mulia. Orang beriman dan bertaqwa menjadikan orang selalu saling mencintai, menghormati, dan tolong menolong. Orang beriman tidak akan mungkin tidur nyenyak karena kekenyangan sementara tetangganya tidak bisa tidur oleh karena menderita kelaparan.
Manakala kita perhatikan keadaan bangsa ini secara saksama, maka masih banyaknya kemiskinan, kebodohan, kemunduran, konflik, berebut dan saling menjatuhkan, dan lain-lain adalah disebabkan oleh karena ketiadaan akhlaq mulia. Umpama semua orang menyandang akhlaq mulia, maka tidak akan ada pengemis di pinggir jalan, rumah-rumah kumuh tidak layak huni, pengangguran, anak tidak sekolah oleh karena tidak ada biaya, saling menjatuhkan sesama, dan lain-lain. Semua persoalan sosial yang mengakibatkan penderitaan itu adalah lahir dari kemiskinan akhlaq.
Bahkan pemilu legislatif maupun eksekutif yang berlangsung tidak wajar sehingga melahirkan konflik dan bahkan saling menyerang adalah juga disebabkan oleh akhlaq yang tidaki beres. Umpama di dalam pemilu itu semua orang mampu menjaga dirinya dan juga orang lain, tidak berani menyalahi aturan yang telah disepakati bersama, tidak saling sogok menyogok, tidak melakukan money politics, dan lain-lain, maka pihak yang kalah akan segera mengakui kekalahannya. Sebaliknya bagi yang menang segera menyukuri kemenangannya dan tidak menyombongkan diri.
Orang yang berakhlaq mulia akan selalu berbuat jujur, adil, ikhlas, istiqomah, tawakkal, dan tugas apa saja dijalani sebagai ibadah untuk mendekatkan diri pada Allah. Seorang yang berakhlaq mulia juga tidak kikir, bukan pendengki, tidak pendendam, tidak suka marah, menjauhi dari perbuatan mengumpat orang lain, tidak gila harta, dan lain-lain. Manakala suatu daerah dihuni oleh orang-orang yang berakhlaq mulia, maka dengan sendirinya tidak akan ada orang yang menumpuk harta berlebihan, menjatuhkan orang lain, gila pangkat atau jabatan, dan lain-lain. Maka artinya, masyarakat yang bekarakter atau berakhlaq mulia akan melahirkan kedamaian, hubungan kasih sayang, tolong menolong di antara sesama.
Gambaran masyarakat ideal seperti dikemukakan itu akan menjauhkan dari munculnya orang miskin, peminta-minta, anak yatim yang tidak terurus, banyaknya pengangguran, dan seterusnya. Itulah sebabnya, Nabi di di dalam membangun masyarakat Madinah lebih mengutamakan akhlak mulia. Manakala suatu negeri wilayah atau bahkan dihuni oleh orang-orang berakhlak terpuji maka tidak akan ada lagi sesuatu yang perlu dikhawatirkan. Indonesia selalu kaya masalah seperti sekarang ini, sebenarnya adalah disebabkan oleh adanya orang-orang yang tidak peduli pada karakter atau akhlaq mulia. Umpama para pemimpin dan pemuka masyarakat mampu mengendalikan diri, dan bersedia memperbaiki karakter atau akhlaqnya, maka insya Allah negeri ini akan aman, makmur dan selalu mengalami kemajuan. Wallahu a'lam.



