Kepintaran Membaca Dan Mencipta Merupakan Kunci Hidup Sukses
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 17 Juni 2014 . in Dosen . 1846 views

Ayat pertama kali yang diturunkan oleh Allah di dalam al Qur'an berisi perintah membaca. Sementara itu, asma'ul husna yang juga disebutkan pertama kali yang juga masih di dalam ayat itu adalah al Khaliq atau Yang Maha Mencipta. Maka, manakala awal diturunkannya ayat itu dimaknai sebagai sesuatu yang terpenting atau katakanlah amat penting, maka betapa pentingnya kepintaran membaca dan mencipta di dalam kehidupan ini.

Sebelum menurunkan ayat-ayat lain, berisi ajaran tentang kehiduan ini, Allah swt., melalui kitab suci al Qur'an, menunjukkan betapa pentingnya membaca. Pada saat turunnya ayat al Qur'an itu, di sekitar Muhammad saw., tidak tersedia kitab, buku atau bacaan. Rasulullah sedang berada di gua Hira', di sebuah gunung, di wilayah Makkah, hal itu menunjukkan bahwa beliau, sedang berada di tempat yang tinggi. Di tempat itulah, ia diperintah membaca, yakni membaca alam yang luas, dan atau setidaknya membaca masyarakat Arab yang berada di sekitar wilayah itu.

Bagi saya, begitu luas makna membaca dalam konteks kerasulan itu. Sebagai seorang utusan Allah untuk membangun masyarakat, yaitu membawa masyarakat dari kegelapan atau jahiliyah menjadi masyarakat yang damai, adil, dan sejahtera, maka memerlukan seorang pemimpin yang memiliki kemampuan atau kepintaran membaca. Yakni membaca masa depan, membaca lingkungan, membaca berbagai potensi, membaca perilaku manusia dan masyarakat, dan bahkan juga kemampuan membaca berbagai hal yang akan menjadi hambatan atas tugasnya yang mulia itu, dan seterusnya.

Rupanya dalam kontek kehidupan ini, orang yang pintar membaca ternyata sukses. Orang yang pintar membaca ekonomi, ia akan memperoleh keuntungan di bidang ekonomi, menjadi kaya misalnya. Orang yang pintar membaca kekuatan dan strategi musuh di dalam peperangan, maka merekalah pemenangnya. Seseorang yang pintar membaca politik, maka merekalah yang mampu mengelola kehidupan politik. Demikian pula, kemampuan membaca hal-hal lainnya, maka akan sukses pada bidang lain yang dimaksudkan itu.

Sebaliknya, orang yang gagal membaca berbagai hal, maka mereka juga akan gagal dalam berbagai hal itu pula. Orang yang hidupnya miskin, pada hakekatnya adalah disebabkan oleh kegagalannya di dalam membaca potensi eknomi lingkungannya. Negara atau bangsa yang sebetulnya memiliki kekayaan alam yang luar biasa besar dan jumlahnya, namun oleh karena mereka tidak mampu membaca potensi itu dan apalagi mengelolanya, maka kekayaan itu tidak memberi keuntungan apa-apa. Negara itu akan tetap miskin.

Para siswa di sekolah sehari-hari diajari membaca. Namun membaca dalam pengertian itu tidak saja terkait upaya mengenali huruf-huruf atau kalimat-kalimat, atau bahkan buku teks, akan tetapi seharusnya adalah membaca dirinya sendiri, lingkungannya, kebutuhannya, berbagai potensi di mana mereka hidup dan seterusnya. Manakala mereka berhasil menangkap makna seperti itu, maka berbekalkan kepintarannya itu, hidup mereka akan sukses. Namun sayangnya, pelajaran di sekolah selama ini, tampaknya baru sampai pada pengertian yang sederhana. Mereka diajarti buku-buku teks, dan bahkan bukan diorientasikan untuk memahami apa yang disebutkan di muka, melainkan hanya sebatas untuk mengimplementasikan seperangkat kurikulum, agar lulus ujian, dan akhirnya memperoleh ijazah.

Kemampuan atau bahkan kepintaran membaca yang dihasilkan dari lembaga pendidikan masih dalam tataran atau wilayah terbatas, formal, dan belum memiliki makna yang sebenarnya. Itulah sebenarnya yang menjadi sebab, lembaga pendidikan tidak mampu mengantarkan seseorang menjadi sukses. Mereka masih gagal dalam menangkap makna pendidikan dan juga makna membaca itu sendiri. Para siswa diajari ilmu fisika, kimia, biologi, sosiologi, filsafat, bahasa dan sastra dan seterusnya, seharusnya adalah agar mereka memiliki kepintaran membaca dirinya sendiri dan juga lingkungannya. Kemampuan membaca itulah yang mengantarkan seseorang menjadi sukses. Ajaran tentang betapa pentingnya membaca, sebenarnya telah disampaikan lewat wahyu di dalam al Qur'an.

Aspek penting yang juga bisa ditangkap dari ayat al Qur'an yang pertama kali turun adalah terkait dengan mencipta. Asma Allah yang pertama kali disebut di dalam al Qur'an adalah Yang Maa Pencipta atau Yang Maha Kreatif. Lagi-lagi, manakala penyebutan di awal itu ditangkap atau dimaknai sebagai sesuatu yang penting, maka betapa pentingnya kemampuan mencipta atau kepandaian berkreasi dilatihkan secara memadai agar mereka menjadi sangat kreatif. Sebab, ternyata di dalam kehidupan ini, kunci sukses, selain kemampuan membaca adalah juga kemampuan mencipta.

Orang-orang yang pandai mencipta, maka ternyata hidupnya sukses. Para pencipta, selain mendapatkan penghargaan, juga memperoleh keuntungan lebih dibanding lainnya. Para penemu berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, mereka dianggap sukses. Lebih tegas lagi, Islam dan juga al Qur'an diturunkan di muka bumi, sebenarnya untuk memberi tuntunan agar kehidupan ini dijalani sebaik-baiknya, penuh kedamaian, keselamatan, untuk meraih kebahagiaan. Perintah membaca dan peringatan tentang posisi strategis sebagai mencipta, ternyata justru ditunjukkan di fase awal turunnya al Qur'an. Maka, umpama umat Islam selalu menjadi pelopor dalam gerakan membaca dan mencipta, umat ini akan unggul dan benar-benar menjadi khalifah di muka bumi. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up