Boleh-boleh saja siapapun mengejar-ngejar harta, agar menjadi kaya raya. Mungkin mereka menganggapnya bahwa kebahagiaan itu terletak pada jumlah kekayaan yang berhasil dikumpulkan. Oleh karena itu, sekalipun sudah kaya raya, tetapi semangatnya mencari harta melebihi mereka yang miskin. Hari-hari, pikiran dan tenaganya selalu dihabiskan untuk mengumpulkan harta.
Setelah harta berhasil dikumpulkan, sementara orang masih mengejar sesuatu lainnya yang dianggap bernilai tinggi, yaitu jabatan, pangkat, kedudukan, atau posisi-posisi strategis di tengah masyarakat. Semangat mengejar sesuatu dimaksud sebenarnya sah-sah saja. Tidak akan ada siapapun yang melarang. Sama halnya degan keberhasilan mengejar harta, sementara orang juga mengira bahwa tatkala berhasil menduduki posisi penting dan stretagis akan mendapatkan kebahagiaan. Dengan keberhasilan usahanya itu, ia berharap namanya terkenal, siapapun menghormati, dan mengistimewakannya.
Sekalipun harta dan jabatan sudah diraih, orang tidak akan puas. Mereka masih menginginkan sesuatu lagi, misalnya wanita. Itulah sebabnya, di tengah masyarakat muncul istilah poligami, isteri simpanan, persilingkuhan, dan lain-lain. Pemenuhan nafsu, seperti terlalu mencintai harta, kedudukan, wanita, dan lain-lain tidak pernah berhenti. Al Qur'an juga menyebutkan, bahwa manusia selalu bernafsu dalam mengumpulkan harta dan hanya akan berhenti tatkala sudah masuk ke liang kubur.
Pertanyaannya adalah apakah tatkala seseorang berhasil mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, meraih jabatan, dan mendapatkan wanita lantas memperoleh kebahagiaan yang sebenarnya. Tentu kita tidak bisa mengira-ira, namun secara sepintas tampak bahwa, orang yang kekayaannya melimpah justru terbelenggu oleh hartanya sendiri itu. Bisa saja, pada suatu saat, mereka tidak bisa tidur nyenyak, sebagai akibat memikirkan apa yang berhasil dikumpulkannya itu. Demikian pula, jabatan yang diraih, hanya mengantarkannya menjadi stress berlebihan, dan seterusnya.
Manusia memang merupakan makhluk yang unik dan tidak mudah dipahami. Namun kadangkala orang memahaminya secara sederhana, simpel, dan dangkal. Atas pemahaman seperti itu, seorang pimpinan dalam meningkatkan semangat kerja misalnya, hanya sekedar menambah tunjangan atau gaji. Dianggap dengan gaji naik, tunjangan bertambah, dan fasilitas lainnya tercukupi, para karyawan merasa puas, kemudian akan bekerja sebaik-baiknya. Ternyata perkiraan itu meleset. Justru tatkala pendapatannya bertambah, maka prestasi kerjanya merosot. Sebab, tatkala gajinya bertambah, maka kebutuhannya juga naik. Semula mereka pergi ke kantor cukup dengan sepeda motor, maka setelah gajinya naik, ternyata kendaraannya berganti dengan mobil sekalipun harus dibayar dengan cara kredit. Selain itu, rumahnya juga dirasa kurang besar lalu mengambil rumah baru yang lebih besar sekalipun juga dengan mengangsur.
Maka artinya, peningkatan fasilitas hidup tidak serta merta menjadikan problemnya terselesaikan tetapi bahkan sebaliknya, yaitu semakin bertambah. Sebelum gajinya naik, mereka tidak berkewajiban membayar kredit mobil dan rumah, maka setelah itu, justru menjadi repot oleh karena bebannya bertambah. Tidak sekedar itu, tuntutan anak dan isterinya juga bertambah. Tatkala masih dalam keadaan biasa-biasa saja, mereka tidak banyak menuntut, dan hal itu berbeda setelah ekonominya menjadi lebih baik, tuntutan itu bertambah dan bahkan berlipat-lipat. Akibatnya, ketenangan keluarga terganggu, tidak sebagaimana dahulu pada saat masih dalam keadaan sederhana.
Ilustrasi singkat di muka menggambarkan bahwa kebahagian tidak selalu ditentukan oleh harta kekayaan, pangkat dan juga jumlah wanita yang mendampinginya. Namun tidak berarti bahwa harta dan jabatan itu tidak penting. Keduanya menjadi perlu dan banyak manfaatnya manakala pemiliknya sanggup untuk mengendalikan diri atau nafsunya. Selain itu, kekayaan dan jabatan menjadi sangat besar kegunaannya manakala keduanya dibelanjakan dan atau dimanfaatkan secara benar. Harta dijadikan bekal beribadah, menolong orang yang tidak mampu, dan dibelanjakan sebagiannya untuk memenuhi hak-hak orang lain sebagaimana tuntunan al Qur'an dan hadits Nabi. Demikian pula, jabatan dan kekuasaan digunakan untuk memberikan pelayanan, mengajak kebaikan, dan memakmurkan kehidupan bersama.
Dalam kontek kepemimpinan, Nabi Muhammad memberikan controh yang amat jelas. Pada kepemimpinan Nabi, rakyat tidak cukup hanya diajak menjadi kaya atau terpenuhi kebutuhan ekonominya, melainkan diajak untuk meningkatkan kualitas atau kemuliaan akhlaqnya. Setiap orang, ketika itu, diajak untuk berusaha menjadi semakin dekat pada Tuhan dan sekaligus dengan sesama. Mendekatkan diri pada Tuhan dilakukan dengan cara melakukan kegiatan spiritual dan sekaligus mengasihi sesama. Sedangkan mendekatkan dengan manusia dilakukan lewat cara-cara mempersatukan, mengenal dan memahami di antara sesama, menghormati dan menghargai, saling mencintai, dan akhirnya agar terjadi saling tolong menolong. Disebutkan di dalam kitab suci bahwa, dalam kehidupan ini harus dibangun hablum minallah wa hablum minannas. Mereka yang sukses menjalankan ajaran itu maka disebut telah berakhlaq mulia. Semestinya, calon presiden dan wakil presiden, yang bulan depan kita pilih bersama, memiliki keyakinan bahwa, di dalam meningkatkan kualitas kehidupan bangsa ke depan, ditempuh dengan meningkatkan kualitas akhlaq atau karakter. Sebab itulah sebenarnya yang lebih utama, sehingga tidak boleh diabaikan. Wallahu a'lam



