Mendengar bahwa KH Idris Marzuki wafat, saya langsung menghubungi beberapa teman yang kebetulan alumni pondok pesantren Lirnoyo Kediri untuk bertakziyah bersama-sama. Saya mengetahui bahwa beberapa dosen UIN Malang, sebelum masuk perguruan tinggi, pernah nyantri di pondok pesantren Lirboyo, Kediri. Dengan demikian, mereka memiliki hubungan sangat dekat dengan kyai yang dikabarkan wafat ini.
Sekitar tiga jam perlanan dari Malang, nyampai di rumah duka sekitar jam 17.00 sore, sudah terdapat ribuan pentakziyah. Secara bergantian mereka shalat janazah di masjid yang terletak di sebelah rumah kyai yang wafat saat berusia 74 tahun ini. Bersama teman-teman dari Malang, saya mengikuti shalat janazah giliran yang ke 12. Shalat fardhu kifayah itu terus menerus dilaksanakan secara bergantian hingga menjelang dimakamkan di sekitar jam 20.00 malam.
Pada masing-masing giliran sholat janazah itu, masjid yang cukup luas selalu penuh, sehingga tidak bisa dihitung berapa puluh ribu orang yang mensholati kyai karismatik itu. Mereka itu tidak saja datang dari wilayah Jawa Timut melainkan juga dari kota yang jauh, misalnya Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Banjarmasin, Samarinda, Kutai dan lain-lain. Orang tua atau para santri yang pernah belajar di pondok ini hadir untuk bertakziyah.
Beberapa kali saya diundang oleh pondok pesantren lirboyo dalam kegiatan diskusi atau seminar. Pernah suatu saat, saya mendapatkan apresiasi dari Kyai Idris Marzuki dari apa yang saya sampaikan dalam kegiatan seminar yang kebetulan pada acara itu beliau hadir. Saya menyampaikan bahwa pendidikan yang ideal untuk umat Islm di Indonesia ke depan adalah perpaduan antara tradisi pesantren dan sekolah atau perguruan tinggi umum.
Melalui bentuk pendidikan dimaksud, para siswa atau mahasiswa perguruan tinggi Islam akan mendapatkan bekal secara utuh, yaitu kedalaman spiritual, akhlak mulia, ilmu pengetahuan yang luas, dan kehandalan profesional. Bagi umat Islam dan apalagi seorang yang menyandang gelar sarjana Islam seharusnya memiliki berbagai kelebihan itu. Dan sebagaimana pengalaman selama ini, kecil kiemungkinannya kemampuan seperti itu diperoleh secara memadai lewat lembaga pendidikan yang terpisah antara tradisi pesantren dan sekolah atau ma'had dan universitas.
Selain itu, saya juga pernah menyampaikan tentang betapa pentingnya niat di dalam mempelajari ilmu. Niat saya samakan dengan jiwa, ruh, atau nyawa. Tanpa itu semua, belajar tidak akan membawa hasil. Saya mengemukakakan bahwa sekalipun sekolah atau kampus dilengkapi dengan sarana dan prasarana, kurikulum yang bagus, guru yang hebat, dan semua tersedia, akan tetapi manakala mereka tidak memiliki niat atau tekad yang kukuh untuk belajar, maka hasilnya tidak akan maksimal. Pondok pesantren, melalui kitab kecil ta'lim muta'alim mempertegas betapa pentingnya niat atau bahkan tekat untuk belajar di pesantren atau di mana saja.
KH Idris Marzuki sangat menyetujui konsep yang saya sampaikan tersebut. Beliau menganggap bahwa hingga kapan pun lembaga pendidikan pesantren harus tetap dipertahankan, namun beliau juga menyetujui bahwa pengembangan menuju keadaan lebih baik supaya tetap diusahakan. Anak-anak perlu dididik dan diberi bekal ilmu modern tetapi tdak boleh meninggalkan pengetahuan agama. Begitu pula, niat untuk belajar harus diperkukuh kepada siapa saja yang melakukan sesuatu dan apalagi belajar. Kualitas pekerjaan akan selalu tergantung pada niatnya, dan bukan sekedar aspek-aspek lain yang menyertainya.
Dalam perbincangan dengan beberapa keluarga dan juga santri Lirboyo, saya mendapatkan penilaian yang amat mengesankan dari kepemimpinan KH Idris Marzuki hingga pesantren berkembang dan berhasil menjaga keharmonisan pondok. Disebutnya bahwa KH Idris Marzuki dalam memimpin pondok Lirboyo selalu menunjukkan sikap mengalah, memperhatikan semua, dan selalu menjaga kesabaran. Itulah di antara nilai-nilai utama yang selalu dijaga dan dipertahankan secara istiqomah sehingga pesantren tetap menjadi anutan, baik para santri maupun masyarakat luas. Wallahu a'lam.



