Memilih Orang Istimewa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 21 Juni 2014 . in Dosen . 1007 views

Pada saat sekarang, nama orang yang paling banyak dibicarakan di negeri ini adalah Pak Prabowo, Pak Hatta Rajasa, Pak Jakowidodo, dan Pak Yusuf Kalla. Ke empat orang tersebut secara resmi telah ditetapkan sebagai calon presiden dan wakil presiden. Urutan nama yang disebutkan dalam tulisan ini sama sekali tidak menggambarkan tingkat keistimewaan masing-masing, melainkan mendasarkan nomor undian sebagai peserta pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden yang dilakukan oleh KPU.

Menurut hemat saya, bangsa ini harus bersyukur, memiliki calon presiden dan wakil presiden yang semuanya menyandang kualitas yang tinggi. Semuanya dicintai oleh rakyat. Buktinya, kedua pasangan calon dimaksud, dari hasil survey yang dilakukan oleh lembaga yang terpercaya, mendapatkan dukungan dan popularitas yang tampak seimbang. Memang antara kedua pasangan tersebut terdapat perbedaan, tetapi tidak menyolok, apalagi masih ada sejumlah pemilih yang juga disebut masih berstatus mengambang atau belum menentukan pilihannya.

Oleh karena itu, keduanya, baik pasangan yang nanti terpilih atau yang kalah jumlah perolehan suaranya, adalah merupakan tokoh atau orang yang dianggap sebagai pemimpin bangsa ini. Bangsa yang hebat pasti menghargai dan atau menjung tinggi kehormatan para pemimpinnya. Apalagi, bangsa yang menganut sistem demokrasi, semuanya harus diakui dan dihargai. Mereka tetap menjadi yang diistimewakan.

Pemilihan calon presiden dan calon wakil prsiden, dalam sistem demokrasi, adalah seharusnya dilakukan. Para calonnya sudah merupakan orang pilihan, dan bukan sembarang orang. Namun demikian kekurangan dan atau kelemahan pasti ada, sebab ciri khas manusia, adalah memiliki sifat kurang, yakni lupa dan salah. Oleh karena itu, manakala hanya akan memilih yang sempurna, maka hingga kapan pun tidak akan diperoleh. Manusia termasuk calon pemimpinnya pasti menyandang kekurangan. Di dunia ini tidak ada orang sempurna.

Pada setiap membicarakan kualitas orang, saya selalu teringat pesan kyai saya dulu di pedesaan pada waktu saya belajar di madrasah. Beliau berpesan, ketika memilih orang, maka jangan mencari yang sempurna, maka tidak akan ketemu. Mencari calon isteri atau calon suami yang sempurna, maka resikonya tidak akan pernah nikah. Sebab calon isteri atau calon suami tidak pernah ada di dunia ini yang sempurna. Manakala ingin berguru, juga jangan sekali-kali mencari guru yang sempurna, maka tidak akan jadi belajar. Sebab guru yang sempurna itu juga tidak pernah ada. Demikian pula tatkala akan memilih pemimpin, juga jangan mencari calon pemimpin yang tanpa cacat, maka tidak akan pernah diketemukan.

Pesan sederhana itu, setelah saya renungkan secara mendalam ternyata benar. Semua orang pasti memiliki kesalahan dan atau kekurangan. Kesalahan dan kekurangan, termasuk lupa, adalah ciri khas semua manusia, kecuali para nabi dan rasul. mereka itu dikaruniai sifat maksum atau terjaga dari kesalahan. Hanya nabi dan rasul saja yang terjaga dari kesalahan. Namun sayang, derajad kenabian dan kerasulan, bukan atas dasar pilihan manusia, melainkan atas kehendak Yang Maha Kuasa.

Mengikuti pandangan sebagaimana dikemukakan di muka, maka semestinya, di dalam berkampanye, tidak saling menyindir, mengolok-olok, merendahkan, dan apalagi menghina. Sebab, merendahkan orang lain dapat diartikan sekaligus merendahkan pendukung yang bersangkutan, dan jumlahnya juga sama-sama besar. Jika semua melakukannya, -------disadari atau tidak, yang kelihatan dari semua pihak hanyalah kekurangannya. Akhirnya bangsa ini secara keseluruhan menjadi buruk atau kurang kualitasnya.

Bangsa ini adalah bangsa yang berjiwa besar, berpikiran besar, dan mampu menjalankan peran-peran besar. Kebesaran yang disandang tidak selayaknya jatuh oleh karena tindakan dirinya sendiri yang keliru. Orang berjiwa dan berpikiran besar adalah mereka yang mampu melihat dan mengakui kelebihan orang lain. Begitu pula sebaliknya, siapapun yang hanya mampu melihat kekurangan orang lain sebenarnya adalah menggambarkan kekurangan yang ada pada dirinya sendiri. Bila tidak percaya, maka lihatlah anak kecil di manapun, mereka selalu hanya mampu melihat kekurangan orang lain. Setelah dewasa, baru akan mengetahui kelebihan-kelebihan orang lain.

Kegiatan kampanye yang tersisa beberapa hari saja, seharusnya dijalankan dengan damai, saling menghargai dan menghormati siapapun. Bangsa ini, pada suasana apapun, harus tetap damai, saling menjaga perasaan sesama. Tidak selayaknya, hanya untuk meraih kemenangan dalam berpolitik harus lewat cara-cara yang kurang terpuji. Bangsa ini akan maju bukan semata-mata kehebatan pemimpinnya, melainkan justru sebaliknya, adalah sangat tergantung pada semua rakyatnya. Oleh karena itu, menjelang berhenti menjadi Rektor UIN Malang, saya pernah ditanya, apakah sudah mengkader calon pengganti. Secara tegas saya menjawab, bahwa saya tidak pernah menyiapkan calon rektor. Sejak lama, saya menyiapkan orang-orang yang akan dipimpin oleh rektor, siapapun nanti yang akan menjadi rektor.

Menurut pandangan saya, siapapun yang akan menjadi rektor, manakala orang-orang yang akan dipimpin berkualitas unggul, maka kampus akan tetap berkembang. Demikian pula sebaliknya, sehebat apapun rektornya, manakala para guru besar, dosen, dan karyawan kampus ini tidak hebat, maka rektor akan kuwalahan menjadikan kampus maju dan atau berkembang. Demikian pula negeri ini, siapapun presiden dan wakil presidennya, manakala seluruh rakyat hebat, mampu menjaga toleransi, berhasil menjaga tradisi dan peradaban yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya, maka bangsa ini akan semakin maju, unggul, dan hebat.

Oleh karena ini, pada saat sekarang ini, tugas kita bersama adalah tidak saja memilih orang istimewa, ------- calon presiden dan wakil presiden, tetapi juga menjadikan rakyat agar mampu menjaga kualitas keistimewaannya masing-masing, dengan cara selalu merawat kebersamaan, keutuhan, dan kedamaian. Manakala tugas itu berhasil ditunaikan, maka bangsa ini akan menjadi bangsa besar dan dewasa dalam berdemokrasi sebagaimana bangsa-bangsa lain yang juga disebut maju. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up