Sebenarnya saya tidak begitu suka menyebut kalangan tertentu sebagai orang kecil. Menurut pandangan saya, bahwa semua orang adalah sama. Penyebutan sebagai orang besar, orang menengah, dan orang kecil hanya akan memberikan kesan, bahwa seolah-olah terdapat orang penting dan tidak penting yang hanya dilihat dari jenis pekerjaan dan gaji yang diterima pada setiap bulan. Padahal secara hakiki belum tentu, bahwa pekerjaan yang disebut kecil benar-benar kurang penting dan begitu pula sebaliknya. Namun, apa boleh buat, kategori sosial itu rupanya sudah dianggap lazim di tengah masyarakat.
Sebutan sebagai orang kecil, kalau di kampus, adalah para pekerja kasar seperti petugas kebersihan, keamanan atau security, tukang kebun, pelayanan kantor, dan sejenisnya. Pegawai semacam ini jumlahnya juga banyak. Sebagian ada yang berstatus sebagai pegawai negeri, sedangkan sebagian lainnya berstatus pegawai kontrak. Namun, kedua jenis status itu terkait dengan jumlah gaji yang diterima sebenarnya tidak jauh berbeda. Sebab penggajian pegawai kontrak juga tidak boleh di bawah UMR daerah setempat. Hanya saja yang jelas, sekalipun jumlahnya tidak jauh berbeda, biasanya juga sama-sama rendahnya.
Ketika masih menjadi pimpinan kampus, saya berusaha, sekali-kali memperlakukan semua orang secara sama, baik terhadap mereka yang besar maupun yang kecil. Mempersamakan jumlah penghasilan atau gaji kepada semua pegawai, yaitu antara dosen, karyawan, dan pegawai kontrak tidak mungkin. Sebab, semua gaji para dosen tetap dan pegawai negeri harus mengikuti aturan dari pemerintah pusat. Namun demikian, saya masih berkeinginan agar suatu saat, dalam hal tertentu, menyamakan terhadap siapapun, supaya sekalipun pada setiap bulan pendapatan mereka berbeda, tetapi pernah merasakan memperoleh sesuatu yang jumlah dan atau bentuknya sama.
Kebersamaan itu akhirnya, saya berlakukan pada setiap hari raya, yakni dengan memberikan THR dalam jumlah yang sama kepada semua pejabat, dosen, karyawan, hingga pegawai kontrak. Manakala rektor menerika Rp. 500.000,- maka semua petugas kebersihan, security, tukang kebun, dan lain-lain juga menerima sejumlah itu. Saya berpikir, pada setiap bulan, masing-masing orang mendapatkan gaji berbeda-beda, tetapi paling tidak, setahun sekali harus merasakan adanya kebersamaan itu. Bahkan, pernah suatu saat, saya membelikan seragam berupa jas kepada semua pimpinan, dosen, dan karyawan, termasuk kepada petugas security, petugas kebersihan dalam bentuk dan kualitas yang sama. Dengan demikian, jas rektor sama dengan jas yang dipakai oleh tukang sapu atau satpam.
Kebijakan itu oleh sementara orang disebut aneh. Bolehlah, katanya, karyawan yang bertugas di bidang administrasi dibelikan seragam berupa jas, agar sekali-kali, pada hari-hari penting digunakan untuk bertugas di kantor. Akan tetapi, bagaimana dengan petugas security, cleaning servis, petugas kebun, dan sejenisnya, maka untuk apa pakaian itu. Tidak akan mungkin seorang petugas kebun atau cleaning service dalam bertugas mengenakan jas. Bukankah pemberian itu sebagai hal yang berlebih-lebihan dan menjadi mubadzir. Mendapatkan komentar yang tidak menyenangkan itu, saya hanya merespon, dengan mengatakan, agar para pegawai kecil ini pernah merasakan memiliki jas. Siapa tahu, suatu saat mereka membutuhkannya, misalnya tatkala menghadiri undangan resepsi manten tetangganya, atau juga ketika yang bersangkutan akan menikah, maka tidak perlu pesan jas, sebab sudah dibelikan oleh kampus, atau setidak-tidaknya selama hidup pernah memiliki jas yang sama dengan yang dimiliki oleh rektornya.
Kebijakan sederhana yang kemudian dinilai aneh, lalu saya ceritakan ini sebenarnya untuk menunjukkan bahwa sekalipun banyak orang menginginkan kebersamaan, ternyata tatkala benar-benar disamakan juga ada saja sementara orang yang tidak menyetujui. Mereka yang tidak menyetujui itu merasa tersinggung oleh karena dipersamakan dengan petugas kebersihan, security, tukang kebun, dan lain-lain. Mereka lebih suka dianggap beda dan berposisi lebih tinggi dari lainnya. Padahal Islam mengajarkan bahwa semua manusia itu sama, sedangkan yang membedakan bukan dari jenis pekerjaan dan jumlah gajinya, melainkan atas ketaqwaannya. Dalam hal ketaqwaan, bisa jadi security atau petugas cleaning servies lebih tinggi dibanding pejabat penting, dan bahkan doanya lebih didengarkan oleh Dzat Yang Maha Mendengar. Hal yang terakhir ini, yang justru saya harapkan, agar kampus semakin maju, dan nyatanya memang benar, kampus terasa cepat berkembang, atas doa orang kecil. Wallahu a'lam.



