Mengharap Penghargaan Dari Bangsa Lain
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 23 Juni 2014 . in Dosen . 753 views

Mengamati debat calon presiden, terdapat sedikit hal menarik, ialah di antaranya muncul pertanyaan tentang bagaimana agar bangsa ini berwibawa dan dihargai oleh bangsa lain. Masing-masing calon presiden memberi jawaban, tetapi terasa kurang tuntas. Mungkin hal itu disebabkan oleh karena jawaban itu harus diberikan secara spontan dan waktunya sangat terbatas. Para penonton maklum, dan jawaban itu sudah dianganggap cukup. Tepuk tangan pun gemuruh.

Namun pertanyaannya adalah, apakah memang benar tatkala bangsa ini sudah sering mengundang negara-negara lain untuk berkonferensi bersama lalu penghargaan dan wibawa itu muncul dengan sendirinya. Atau juga, apakah dengan ekonomi maju, rakyat makmur, dan kebutuhan tercukupi, dengan serta merta, bangsa lain akan memberikan penghargaan dan kewibawaan dengan sendirinya diakui oleh bangsa lain. Bolehlah para kandidat presiden berpandangan sebagaimana dikemukakan secara spontan dalam debat seperti itu. Akan tetapi kiranya, masih ada jawaban lain yang lebih mendasar.

Sudah menjadi kelaziman dan kita semua mengetahui bahwa, tidak semua tamu yang diundang selalu membawa dampak pengakuan terhadap kebesaran tuan rumah. Tamu yang datang dan melihat tuan rumahnya tidak memiliki kelebihan apa-apa dan apalagi cara menyambutnya tidak memuaskan, maka bukan penghargaan yang diperoleh, melainkan justru penilaian negatif. Begitu pula, tidak semua orang kaya, makmur, dan tampak sejahtera akan segera memperoleh apresiasi dan apalagi penghargaan dari orang lain. Banyak orang kaya tidak mendapatkan penghargaan, tatkala kekayaannya itu tidak member sumbangan apa-apa kepada orang lain. Konferensi penting, serba berkecukupan dalam ekonomi tetap mendesak, tetapi sebenarnya ada aspek-aspek lain yang masih perlu dirawat dan dibangun bersama.

Saya berpendapat bahwa, agar bangsa ini berwibawa dan dihargai oleh bangsa-bangsa lain, maka bangsa ini harus mengetahui tentang jati dirinya sendiri. Bangsa ini harus memiliki kemampuan untuk melihat dirinya sendiri secara tepat. Kemampuan melihat terhadap diri sendiri adalah merupakan keunggulan. Bangsa yang tidak mampu melihat dan memahami dirinya sendiri akan disebut sebagai bangsa yang tidak tahu diri. Sebutan itu amat kurang enak didengarkan oleh siapapun. Bangsa yang tidak tahu diri akan ditertawakan secara sinis oleh bangsa-bangsa lain. Manakala di antara warganya terdapat kelompok tertentu merasa makmur berlebihan, sementara yang lain sekedar ingin berteduh saja tidak memiliki tempat, maka mereka jangan disebut hebat. Kesenjangan itu menunjukkan kelemahannya. Mereka tidak mengetahui persoalan bangsanya sendiri.

Selanjutnya, bangsa ini akan berwibawa dan dihargai oleh negara lain manakala mampu menjaga kepercayaan atau trust dari bangsa lain. Dalam skala kecil, seseorang akan dihargai manakala orang dimaksud selalu bisa dipercaya. Kepercayaan akan hilang dari orang-orang yang tidak bisa dipercaya. Sebaliknya, orang

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up