Beberapa hari yang lalu, saya menulis tentang pentingnya kemampuan membaca dan mencipta. Saya merenungkan, bahwa kunci keberhasilan hidup ini ternyata di antaranya adalah terletak pada kemampuan membaca dan mencipta. Orang yang memiliki kemampuan membaca fenomena ekonomi misalnya, ia akan berkalkulasi dan mendapatkan keuntungan dari fenomena itu. Begitu pula, orang yang memiliki kemampuan membaca persoalan pendidikan, sosial, politik, teknologi, dan lain-lain.
Keunggulan itu, selain membaca adalah mencipta. Siapapun, apalagi di dunia modern seperti sekarang ini, orang yang pintar mencipta sesuatu, maka dia itulah yang akan memperoleh keuntungan. Para pencipta apa saja ternyata akan mendapatkan keuntungan lebih. Inspirasi tentang kelebihan bagi orang yang pandai membaca dan mencipta, saya peroleh dari memperhatikan kitab suci al Qur'an. Ayat pertama yang diturunkan oleh Allah adalah perintah membaca. Demikian pula, asmaul husna yang disebut pertama kali adalah al Khaliq atau Yang maha Pencipta, atau jika boleh saya menggunakan bahasa lain, adalah Yang Maha Kreatif.
Manakala pilihan ayat di fase awal turunnya al Qur'an itu boleh dimaknai sebagai pertanda bahwa pesan itu amat penting, maka betapa pentingnya kepandaian membaca dan mencipta sehingga harus dimiliki oleh semua orang. Selama ini, saya mengamati berbagai kasus dan kemudian merenungkan secara mendalam, ternyata memang betul bahwa orang-orang yang sukses di dalam hidupnya adalah mereka yang memiliki kemampuan membaca dan mencipta. Namun, tidak semua orang ternyata pintar membaca, apalagi membaca dalam pengertian menangkap arti atau makna dari apa yang dilihatnya. Seseorang bisa saja melihat sesuatu, tetapi ternyata, belum tentu mampu dan berhasil menangkap hakekat yang dilihatnya itu secara benar dan mendalam.
Rupanya Pak Multazam tertarik dengan tulisan saya itu, lalu menanyakan bagaimana mengajarkan membaca agar para siswa di sekolah memiliki kepintaran itu. Tentu jawabannya bisa beraneka ragam. Sebab, biasanya hal yang bersifat teknis selalu tergantung pada keadaan dan kondisi setempat. Namun secara umum, untuk menjawab pertanyaan Pak Multazam, saya justru teringat pada kisah isra' dan mi'raj Nabi Muhammad saw. Setelah Muhammad saw., lebih dari sepuluh tahun diangkat sebagai rasul, dan menerima wahyu melalui Malaikat Jibril, maka kemudian beliau dimi'rajkan hingga sampai ke Sidratul Muntaha.
Dalam perjalanannya itu, ia dipertunjukkan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya, sekalipun sebelum peristiwa itu, sebagai seorang rasul, sudah meyakini atau bahkan sudah yakin seyakin-yakinnya atas semua kebenaran yang diterimanya. Secara jelas kisah itu disebutkan di dalam al Qur'an ' linuriyahu min ayaatina'. Nabi ketika dalam perjalanan mi'raj ditunjukkan secara langsung, bahwa langit benar-benar berlapis tujuh, orang yang sudah meninggal ternyata hidup lagi, adanya berbagai rasul sebelumnya, surga dan neraka, dan lain-lain. Peristiwa dahsyad itu menjadikan Nabi Muhammad tidak saja meyakini terhadap apa saja yang disampaikan oleh Malaikat Jibril lewat wahyu, tetapi juga mengetahui dengan kedua mata kepalanya, atau menjadi ainul yaqin, dan bahkan selanjutnya berhasil membuahkan haqqul yaqin.
Melalui kisah mi'raj ini, saya menangkap bahwa menunjukkan sesuatu secara langsung hingga bisa dilihatnya sendiri tentang apa yang pernah disampaikan melalui lisan, ternyata adalah menjadi sangat penting. Setelah mengetahui lewat kedua mata kepalanya sendiri, siapapun akan menjadi terkesan dan bahkan sampai pada tingkat haqqul yakin atas kebenarannya itu. Nabi Muhammad saw., tidak saja ditunjukkan tentang sesuatu lewat wahyu melalui Malaikat Jibril, melainkan ia juga ditunjukkan agar melihat dan mengalaminya sendiri lewat mi'raj itu. Muhammad saw., akhirnya sampai pada puncak kebenaran ilmu pengetahuan, ialah haqqul yakin.
Merenungkan tentang kisah isra' dan mi'raj, saya teringat pada guru saya di sekolah dasar, ketika beliau mengajarkan ilmu hayat. Beliau mengajak murid-muridnya ke kebun. Di sana ditunjukkan tanaman kacang tanah. Atas seijin pemilik kebun itu, guru saya mengambil sebatang tanaman, lalu para siswa diajak mengamati tanaman kacang tanah itu, mulai dari akarnya, batangnya, daun, bunga dan buahnya. Diajaklah para siswa sekolah dasar itu memperhatikan ciri-ciri berbagai hal terkait kacang tanah. Para siswa dianggap tidak cukup hanya mempelajari kacang tanah dari buku teks. Apa yang dilakukan oleh guru tersebut tidak hanya sekali, tetapi berkali-kali, hingga para siswa memiliki pemahaman yang cukup tentang apa yang dipelajarinya dan bahkan juga memberikan pengalaman tentang seharusnya membaca alam, semisal tanaman kacang tanah itu.
Sekarang ini, zaman sudah sangat modern, di mana-mana sudah tersedia alat-alat laboratorium yang canggih. Oleh karena itu, dalam mempelajari ilmu hayat atau sekarang disebut biologi, guru tidak saja bisa mengajak ke kebun, membaca secara langsung keadaan dan ciri-ciri tanaman, tetapi lebih mendalam lagi, adalah berusaha menyempurnakan bacaannya melalui alat-alat modern di laboratorium. Para guru tatkala mengajari para siswanya tentang tanaman kacang misalnya, akan bertindak bagaikan Malaikat Jibril membawa Nabi Muhammad saw., mi'raj, mereka akan memperlihatkan secara langsung ke kebun dan laboratorium.
Guru sebagai manusia biasa, tentu tidak akan bisa mi'raj. Mi'raj para guru bersama muridnya cukup melihat secara langsung detail-detail kehidupan tanaman dan kemudian menyempurnakan pengetahuannya yang diperoleh itu dengan mengalisis misalnya, den di laboratorium yang dimaksudkan itu. Untuk menjadikan para siswa mampu membaca kehidupan tanaman, mereka tidak cukup disuruh menghafal konsep-konsep yang sudah ditulis di dalam buku. Bahkan kalau perlu, ------sekiranya mampu, para siswa ditugasi untuk meneliti sendiri dan menyimpulkan sendiri terhadap temuan-temuannya. Begitulah Pak Multazam, semoga ada sedikit gambaran tentang apa yang saya maksudkan dalam tulisan saya sebelumnya. Wallahu a'lam.



