Awalnya tidak ada niat akan menulis pada setiap pagi, apalagi hingga selama enam tahun. Semula, sekedar iseng, dari pada sepulang dari masjid di pagi itu lalu menganggur, maka mencoba untuk menghidupkan komputer dan kemudian menulis apa saja yang sedang saya ingat dan pikirkan. Tulisan sederhana itu kemudian saya posting lewat website dan facebook.
Biasanya setelah shalat subuh berjama'ah dengan para tetangga, sekalipun sebentar, saya menyempatkan untuk membaca al Qur'an. Tapi menunggu berangkat ke kantor, waktu yang tersisa masih lama. Selebih waktu untuk mandi dan makan pagi masih tersisa banyak. Sisa waktu itulah, saya gunakan untuk menulis, kira-kira setengah hingga tiga perempat jam.
Apa yang saya tulis tentu sederhana, biasanya tentang sesuatu yang saya ingat atau pikirkan pada saat itu. Misalnya, tatkala teringat persoalan pendidikan, maka saya tulis tentang pendidikan. Begitu pula, ketika teringat soal politik, agama, ekonomi, hukum, sosial, dan lain-lain, maka itulah yang saya tulis. Kadang-kadang tulisan itu lebih sederhana lagi, misalnya hanya merupakan pengalaman yang saya peroleh dari bepergian, diskusi dengan teman, atau juga hasil imajinasi tentang makna berbagai jenis kehidupan, misalnya terkait tumbuh-umbuhan atau binatang dan lain-lain.
Semua tulisan dimaksud, sekarang ini bisa dibaca lewat website UIN Malang atau website saya sendiri, dan bahkan juga lewat facebook. Sebenarnya sudah lama, kebiasaan menulis itu saya lakukan. Hanya saja, tulisan-tulisan dimaksud tidak saya dokumentasikan. Sebelum ada website dan apalagi juga facebook, tidak mudah menkomunikasikan hasil tulisan termasuk menyimpannya. Hasil tulisan saya, yang pada awalnya kurang istiqomah, --------kadang menulis dan kadang tidak, hanya tersimpan di komputer. Tulisan-tulisan itu, karena tidak terawat, dan apalagi pernah komputernya hilang, maka juga ikut hilang.
Inspirasi untuk menulis itu, pada awalnya muncul dari membaca tulisan-tulisan Prof. Hamka yang banyak tersimpan di perpustakaan Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin Makassar. Pada tahun 1981, saya pernah berkesempatan belajar penelitian ilmu-ilmu sosial di kampus tersebut selama 11 bulan. Pada kesempatan itu, saya menemukan tulisan-tulisan lepas Prof. Hamka yang terawat dengan baik di perpustakaan. Tulisan yang jumlahnya sedemikian banyak itu, sebagian saya baca dan berhasil menginspirasi saya, bahwa Prof.Hamka rupanya pada setiap hari menulis. Tulisannya juga sederhana, baik isi maupun cara mengungkapkannya.
Setelah berkali-kali membaca tulisan seorang ulama dan sekaligus sebagai pujangga itu, saya menangkap bahwa sebenarnya Prof. Hamka hingga menjadi seorang sastrawan terkenal itu, tulisannya pada awalnya juga sederhana. Hanya saja, oleh karena dilakukan dalam waktu lama, dan tentu istiqomah, maka lama kelamaan menjadi kebiasannya, dan akhirnya beliau menjadi seorang penulis dan sastrawan hebat dan terkenal. Sejak itu, saya mulai mencoba menulis dengan mesin ketik biasa, namun oleh karena belum ada sarana modern seperti sekarang ini, ------website atau facebook, hasil tulisan itu tidak tersimpan hingga entah kemana hilangnya.
Rupanya apa yang saya lakukan ketika belajar penelitian ilmu sosial di Universitas Hasanudin tersebut sudah menjadi perhatian dosen pembimbing saya, ialah Jacky Linton, seorang ahli antropologi dari Australia. Perhatian itu saya ketahui dari keinginannya, ialah setelah pulang ke Australia, ia bermaksud mengedit tulisan dimaksud untuk dijadikan sebuah buku. Namun sayang permintaan itu tidak bisa saya penuhi oleh karena, tulisan itu sudah hilang semuanya. Pada waktu itu, saya tidak menyadari bahwa hasil tulisan, apapun bentuknya ada gunanya. Umpama sejak itu sudah tersedia fasilitas seperti sekarang, ------website dan sejenisnya, maka tulisan saya lebih banyak lagi dari sekarang ini.
Namun apapun saya bersyukur, hingga hari ini, saya sudah menulis pada setiap pagi, usai shalat subuh hingga 6 tahun tanpa pernah jeda, dan hasil tulisan dimaksud tersimpan, baik di website dan juga terdokumentasi dengan rapi. Bahkan, beberapa orang telah menyunting hingga menjadi berbentuk buku. Sampai pada saat ini, hasil tulisan pada setiap pagi itu telah berjumlah 2.292 judul. Lebih senang lagi, ternyata di antara teman dan mahasiswa saya ada yang berminat untuk melakukan hal yang sama, yaitu menulis pada setiap hari.
Tidak sedikit mahasiswa datang ke kantor, di ruang kuliah atau ke rumah, menanyakan bagaimana caranya bisa menulis dengan istiqomah. Pertanyaan itu selalu saya jawab dengan kalimat sederhana, yaitu : 'mulai sajalah menulis apa yang anda bisa. Tidak perlu memaksa diri untuk menulis secara sempurna dan atau berkualitas tinggi. Menulis dengan kualitas apa adanya tidaklah mengapa, asalkan bisa dimengerti oleh orang lain atau pembacanya'. Tulisan-tulisan Prof. Hamka saja, pada walnya juga sederhana. Akan tetapi oleh karena beliau selalu menulis, akhirnya tulisannya menjadi banyak dan hebat.
Kehebatan tentang apapun akan dihasilkan lewat proses panjang, dan mungkin juga selalu didahului oleh fase ke fase yang hasilnya belum selalu hebat. Oleh karena itu, siapa saja yang menginginkan agar kelak menjadi penulis hebat, maka seyogyanya mengawali dengan menulis yang kualitasnya mungkin sederhana, dan bahkan juga kurang menarik banyak orang. Fase yang dimaksudkan itu, rupanya memang harus dilalui, dan siapapun yang tidak melaluinya, maka tidak akan meraih kehebatan yang diinginkan. Wallahu a'lam.



