Meraih Kemuliaan Sejati Lewat Berpuasa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 30 Juni 2014 . in Dosen . 1647 views

Setiap orang menghendaki agar mendapatkan kemuliaan di dalam hidupnya. Namun kemuliaan yang dimaksudkan itu sendiri ternyata ditafsiri oleh masing-masing orang secara berbeda-beda. Sementara orang merasa mulia tatkala memiliki banyak harta, jabatan tinggi, pengaruh yang luas, berasal dari keturunan terpandang, dan lain-lain. Semua yang disebutkan itu adalah merupakan simbol prestasi yang bersifat duniawi.

Sebagaimana diketahui bahwa, apa saja yang bersifat duniawi, pasti tidak kekal. Orang menyebutnya sebagai bersifat sementara dan bahkan nsibi. Seseorang disebut telah kaya, ternyata kekayaannya itu jika dibandingkan dengan milik orang lain tenyata masih jauh lebih sedikit. Demikian pula, jabatan atau juga pengaruh. Seseorang merasa sudah memiliki jabatan tinggi dan pengaruh luas, ternyata masih banyak orang lain yang mengalahkannya. Begitu pula, simbol-simbol kelebihan lainnya.

Selain itu, kelebihan yang bersifat duniawi ternyata tidak kekal dan atau bisa berubah-ubah. Seseorang semula disebut telah kaya raya, ternyata hartanya dalam waktu yang tidak lama habis, oleh karena usahanya bangkrut. Peristiwa itu menjadikan pemiliknya justru stres berat, merasa tersiksa oleh karena kehilangan harta yang diusahakan bertahun-tahun, dan belum sempat dinikmatinya. Harta, suatu ketika, bisa jadi, mengantarkan pemiliknya, bukan meraih kemuliaan, tetapi justru kesengsaraan.

Hal yang sama terkait dengan pangkat, jabatan, pengaruh, dan lain-lain. Sesuatu yang bersifat duniawi dan dipercaya membanggakan, meningkatkan prestise, menjadi sebab seseorang dihormati, ternyata cepat hilang dan atau bahkan palsu. Apalagi, manakala tidak berhati-hati dalam mengelolanya, maka kelebihan yang bersifat duniawi itu akan justru mengantarkan pemiliknya menjadi hina. Akhir-akhir ini tidak sedikit kasus yang menimpa seseorang, mereka jatuh dan sengsara oleh karena kelalain di dalam menunaikan amanah yang dibebankan kepadanya. Akhirnya, bukan kemuliaan yang diperoleh melainkan berbalik, yaitu ketistaan.

Puasa di bulan Ramadhan diwajibkan kepada orang-orang pilihan, yaitu hanya kepada mereka yang beriman, agar memperoleh derajad tertinggi dan mulia, yaitu taqwa. Derajad taqwa diberikan oleh Allah oleh karena keimanannya yang telah teruji lewat menjalankan ibadah puasa dengan sungguh-sungguh, ikhlas, dan sabar. Derajad atau kemuliaan itu bukan seperti yang diberikan oleh manusia, yaitu hanya bersifat sementara, relatif, nisbi, dan sewaktu-waktu bisa berbalik, yaitu justru menjadi sebab keruntuhan atau kenistaan.

Orang yang telah menjalankan ibadah puasa dengan selalu berharap ridha Allah, maka akan mendapatkan limpahan rakhmat, ampunan, dan diajuhkan dari siksa neraka. Itulah kemuliaan sejati yang datang dari Allah swt., yang bersifat kekal dan atau abadi, sehingga seharusnya dikejar oleh semua orang. Sebaliknya, bukan sekedar kemuliaan dari pandangan orang, yang bersifat sementara, semu, atau bahkan palsu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up