Penyakit Rendah Diri Harus Dilawan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 11 Juni 2014 . in Dosen . 2513 views

Suatu ketika, datang seorang tamu ke rumah. Saya mengenalnya, ia sudah lulus sarjana. Mungkin nilainya juga bagus, karena ia tergolong tekun dalam belajar dan mengerjakan tugas-tugas dari dosennya. Waktu yang digunakan untuk menempuh pendidikan hingga menjadi sarjana juga tidak terlalu panjang. Lulus tepat waktu.

Sayangnya sekalipun sudah mejadi sarjana, ia mengaku masih kurang percaya diri. Umpama disuruh menghadap orang yang dianggap penting dan memiliki nama besar, ia masih belum berani. Lebih-lebih tatkala disuruh berpidato, ia masih belum sanggup. Merasa grogi, katanya. Begitu pula, tatkala disuruh menulis, sekedar artikel pendek, masih belum lancar. Aneh, seseorang sudah berhasil menulis skripsi dan dinyatakan lulus, namun sekedar membuat tulisan pendek saja masih ragu.

Tugas dirasa menjadi lebih berat lagi tatkala mengikuti diskusi atau seminar. Ia ikut tetapi tidak berani bersuara. Mau berbicara, takut keliru. Maka agar tidak ketahuan kelemahannya, ia lebih memilih diam. Akhirnya, kehadirannya tidak memberi manfaat apa-apa, kecuali hanya sekedar menambah jumlah peserta. Seharusnya gelar kesarjanaan yang diperoleh menjadi modal agar semakin percaya diri, tetapi ternyata justru menjadi beban.

Orang sebagaimana diilustrasikan tersebut, ternyata jumlahnya tidak sedikit. Dengan mudah orang seperti itu bisa ditemui di mana-mana. Maka sebenarnya banyak penyandang gelar sarjana tetapi masih belum memiliki kepercayaan diri. Akibatnya gelar kesarjanaannya justru menjadi beban, dan tidak menolong dirinya sendiri. Padahal gelar itu disematkan pada namanya, agar dipercaya orang lain. Akan tetapi bagaimana orang lain mempercayainya, sementara dirinya sendiri saja belum percaya.

Bagi saya, tidak percaya pada diri sendiri sama artinya dengan berpenyakit, yaitu penyakit tidak percaya pada diri sendiri itu. Dampak penyakit itu cukup luas. Orang yang tidak percaya pada diri sendiri biasanya tidak akan mampu bergaul secara luas. Pergaulannya terbatas. Hidupnya selalu khawatir, cemas dan takut. Mereka takut gagal, padahal dengan tidak percaya pada dirinya sendiri, sebenarnya ia sudah berada pada posisi gagal.

Penyakit itu harus segera dibuang jauh-jauh, apalagi sebagai seorang sarjana. Orang yang telah lulus hingga jenjang perguruan tinggi, dan apalagi bergelar sarjana, harus mampu meyakinkan orang lain . Dan, sebelum berhasil meyakinkan orang lain, maka yang bersangkutan harus berhasil meyakinkan dirinya sendiri. Rasa minder, rendah diri, merasa tidak dipercaya dan sejenisnya harus berhasil dienyahkan dari dirinya jauh-jauh.

Pertanyaannya adalah, bagaimana agar kepercayaan diri itu tumbuh pada diri seseorang ? Jawabnya, mungkin orang-orang yang pernah menderita penyakit itu bisa dihadirkan dan diminta bercerita, bagaimana menghilangkan hambatan psikologis itu. Saya sendiri tidak pernah mengalami gangguan jiwa itu. Seingat saya, sejak muda, saya sudah dilatih berani berkomunikasi dengan banyak orang. Sejak usia muda, saya sudah sering ditugasi oleh orang tua berceramah, bahkan khutbah jum'at atau khutbah hari raya, dan sejenisnya.

Tatkala selesai berceramah, ayah saya yang juga mendengarkan, selalu mengakui bahwa ceramah saya mantap dan kebanyakan orang bisa menerimanya dengan baik. Saya tidak tahu benar, apakah pernyataan atau komentar ayah saya itu benar atau sekedar memberikan pengakuan agar saya semakin berani berceramah lagi. Akan tetapi dengan komentar itu, berdapak, saya menjadi percaya diri. Saya tidak merasa salah. Umpama ayah selalu menyebut-nyebut kesalahan yang saya lakukan, maka mungkin perasaan saya akan terganggu. Siapapun, termasuk saya, tidak akan mau disebut telah melakukan kesalahan.

Lewat uraian sederhana ini, maka saya menyimpulkan bahwa untuk menumbuhkan rasa percaya diri maka harus dilakukan lewat latihan secara terus menerus. Dari kegiatan berlatih itu, tidak perlu orang selalu mengingat-ingat kesalahannya, melainkan yang lebih penting adalah justru sebaliknya, ialah mengingat-ingat prestasi. Siapapun yang hanya berusaha mengingat-ingat kesalahan, kekurangan, kelemahan, atau sejenis lainnya, akan kehilangan kepercayaan diri.

Selalu melakukan dialog batin bahwa dirinya mampu, dirinya telah berprestasi, memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain, dan seterusnya adalah cara untuk menumbuh-kembangkan kepercayaan terhadap diri sendiri. Dirinya sendiri harus diyakinkan, bahwasanya bisa dan mampu mengerjakan sesuatu yang lebih baik. Dialog batin secara positif seperti itulah sebenarnya yang mampu menumbuhkan kepercayaan pada diri sendiri. Penyakit rendah diri harus selalu dilawan atau diperangi, sebab dengan tidak percaya pada diri sendiri, sebenarnya sudah merupakan awal kegagalan. Dan, kita tidak boleh gagal. Wallahu a'lam

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up