Produk Pedesaan
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 25 Juni 2014 . in Dosen . 2058 views

Tatkala sedang di Jakarta dan menginap di hotel, perhatian saya justru ke alam pedesaan. Saya perhatikan kelengkapan di penginapan modern itu, ternyata tidak satu pun hasil produksi orang desa. Mulai dari jenis minuman dan peralatannya, alat komunikasi, meja dan kursi, tempat tidur, dan bahkan keset di kamar itu, semuanya produk pabrik modern. Tidak terkecuali hiasan di kamar itu, saya yakin bukan dibuat oleh orang desa.

Demikian pula, ketika saya mampir berbelanja di toko swalayan, ternyata juga sama, bahwa semua barang yang dijual adalah hasil teknologi modern. Tampaknya memang sudah tidak ada lagi hasil-hasil karya orang desa yang dijual di perbelanjaan itu. Bahkan buah-buah yang dipasarkan di toko kota itu juga bukan hasil petani desa. Kecuali beberapa jenis sayuran, dan mungkin juga sangat selektif, yang merupakan hasil kerja orang di pedesaan.

Hasil karya orang desa, baik berupa pertanian, peternakan, kerajinan, dan lain-lain, sudah semakin ditinggalkan oleh orang kota. Artinya, pasar orang desa sudah semakin terbatas atau menyempit. Karya-karya orang desa sudah semakin tidak relevan dengan kebutuhan masyarakat perkotaan. Padahal dulu, orang desa begitu bangga, tatkala hasil pertanian dan lain-lain bisa dijual ke kota dengan harga mahal. Sekarang ini, jangankan berharga mahal, menjadi laku saja sudah tidak.

Kenyataan yang memprihatinkan seperti itu, ke depan akan semakin serius. Hasil karya orang pedesaan akan semakin tidak direlevan bagi orang kota atau masyarakat modern. Mungkin, hanya tenaga kerja saja yang laku, dan itupun yang berharga murah. Tenaga yang berharga murah dimaksudkan itu misalnya tukang kebun, sopir, security, pembantu rumah tangga, dan sejenisnya. Orang-orang kota modern hanya membutuhkan tenaga profesional.

Orang desa yang berharap agar hasil-hasil karyanya tetap relevan untuk memenuhi kebutuhan orang kota harus bersedia berubah. Mereka harus berpendidikan dan memiliki ketrampilan yang jelas, dan umpama memproduksi sesuatu maka harus berstandar dan mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan, dan seterusnya. Manakala persyaratan itu tidak dipenuhi, maka produk pedesaan tidak akan bisa masuk pasar modern di perkotaan. Umpama hasil-halil pedesaan itu bisa diterima di kota, maka tempatnya hanya terbatas, yaitu di pasar-pasar tradisional.

Saya melihat bahwa hal itu bukan persoalan ringan dan sederhana. Manakala dibiarkan maka kesenjangan desa dan kota akan semakin melebar. Jarak sosial antara yang kaya dan yang miskin, wilayah kota dan desa di negeri ini akan semakin melebar. Bisa dibayangkan, apa yang akan terjadi manakala hasil-hasil karya orang desa tidak ada yang bisa dijual. Sementara itu, orang desa juga masih harus membeli kebutuhan pokok seperti beras, gula, garam, dan lain-lain.

Mengatasi persoalan bangsa seperti itu tidak mudah, siapapun pemimpinnya. Beban itu terasa lebih berat tatkala berada di tengah-tengah budaya materialmisme, individualisme, dan kapitalis seperti seperti sekarang ini. Rasa kemanusiaan semakin menipis, orang hanya mengejar untung dan kesemalatan dirinya sendiri, bersedia menolong orang lain tatkala ada keuntungan, dan semuanya menjadikan yang kuat akan semakin kuat dan sebaliknya, mereka yang lemah semakin tidak berdaya.

Agar bisa keluar dari keadaan yang menyedihkan seperti itu, memerlukan kebersamaan, tumbuhnya kembali jiwa agama, rasa nasionalisme, dan tentu adalah pemimpin yang tangguh dan benar-benar mencintai rakyat secara utuh dan mendalam. Tanpa itu semua, maka rakyat di pedesaan akan semakin menderita, dan bahkan hasil-hasil karyanya saja tidak laku lagi dijual di perkotaan. Akibatnya, ekonomi mereka akan semakin melemah. Itulah sebagian tantangan berat bagi pemimpin bangsa ini ke depan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up