Ketika diminta berceramah dalam pertemuan Pengurus dan Pimpinan Lembaga Pendidikan di lingkungan Hidayatullah se Indonesia pada hari Jum'at, tanggal 6 Juni 2014 di Suarabaya, saya mendapatkan pertanyaan sederhana, tetapi menurut hemat saya menarik untuk dijawab. Pertanyaannya itu juga ditambah dengan penjelasan bahwa, tradisi di Hidayatullah, para kader dakwah hanya dibekali semangat, pengetahuan, dan ketrampilan untuk merintis lembaga pendidikan di bawah organisasi itu.
Terasa bahwa pertanyaan tersebut sederhana, tetapi menurut hemat saya menarik untuk diperhatikan. Sebab ternyata, banyak lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang yang pada awalnya, sama sekali tidak didukung oleh ketersediaan dana. Namun anehnya, lembaga pendidikan seperti itu kemudian tumbuh dan berkembang maju. Pemerintah dan apalagi orang yang memahami ilmu manajemen modern tidak akan melakukan kegiatan seperti itu. Mereka akan mengatakan bahwa program sebaik apapun tanpa disertai dengan kecukupan anggaran tidak akan bisa diwujudkan. Anggaran adalah faktor penting yang harus ada, selain faktor-faktor lainnya.
Berbicara program, dan lain-lain tanpa ketersediaan anggaran bagaikan cerita tentang berbagai hal tetapi tidak ada buah atau buktinya apa-apa. Oleh karena itu, di birokrasi pemerintah, anggaran selalu menjadi fokus pembicaraan utama. Begitu pula para ahli manajemen modern, selalu membicarakan ketersediaan dan pengelolaan anggaran. Bahkan jumlah anggaran itu tidak saja terkait sumber dan jumlahnya, tetapi juga keperuntukan, cara membelanjakan, kontrol, dan tidak terkecuali adalah pelaporannya.
Namun aneh, -------kalau boleh disebut begitu, banyak lembaga pendidikan Islam yang tumbuh dan berkembang tanpa dihitung anggarannya terlebih dahulu, dan bahkan tidak tersedia sama sekali. Semua dijalankan serba alami. Sebagai contoh, banyak pondok pesantren dan madrasah tumbuh dan berkembang ternyata hanya mengikuti logika alamiah itu. Para kyai dan juga kepala madrasah dalam membangun lembaga pendidikan hanya berbekalkan semangat, tekat, dan kemauan yang tinggi. Mereka memulainya dari nol atau apa adanya. Akan tetapi, lama kelamaan, kegiatan itu tumbuh dan berkembang hingga akhirnya menjadi instaitusi yang besar.
Kiranya semua pesantren melewati sejarah yang hanya bermodalkan pendirinya itu sendiri. Semangatnya berjuang dan berkorban untuk mewujudkan cita-cita itulah yang menjadi modal utamanya. Pada awalnya,-------bisa jadi, di rumahnya sendiri itulah dijadikan tempat mengajar, tetapi lambat laun atau bertahap akhirnya berkembang hingga berdiri pesantren besar dengan berbagai fasilitasnya. Oleh karena itu, pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang peserta pertemuan Hidayatullah tersebut adalah sangat relevan dan perlu mendapatkan jawaban yang memadai. Bahkan, tidak saja Hidayatullah, tetapi pesantren dan juga banyak madrasah di berbagai tempat, tumbuh dan mengalami kemajuan, namun pada awalnya hanya bemodalkan semangat, tekat, dan kemauan pendirinya belaka.
Menjawab pertanyaan di muka, saya memberikan penjelasan, bahwa lembaga pendidikan Islam memiliki sejarah dan filosofi yang jelas dan tepat. Lembaga pendidikan Islam itu biasanya dimulai dari adanya seorang guru, ustadz atau kyai, sedangkan lainnya menyusul. Hal itu berbeda dengan lembaga pendidikan yang dibangun oleh pemerintah, yang biasanya dimulai dari pembangunan gedung, menyediakan anggaran, sarana pendidikan, dan guru. Bagi lembaga pendidikan Islam swasta, manakala gurunya sudah ada dan kemudian dipercaya oleh masyarakat, maka datanglah para santri atau murid untuk belajar kepada orang dimaksud. Maka kata kuncinya adalah ketersediaan guru, dan bukan ruang kelas, uang, dan lainnya.
Berangkat dari kenyataan itu, strategi Hidayatullah yang dijalankan selama ini adalah tepat. Mereka justru menyiapkan guru atau ustadz, yang tidak saja memiliki kemampuan mengajar, tetapi juga kemampuan mamanage dan menggerakkan masyarakat, termasuk menggali dan mengembangkan berbagai potensi yang ada. Para kader dakwah dimaksud diharapkan mampu mengembangkan kegiatannya masing-masing di tempat yang berbeda dengan tantangan yang beraneka ragam pula. Perbedaan tempat dan kondisi itulah yang menyebabkan jawaban terhadap pertanyaan di muka, tidak boleh seragam. Kader yang memiliki tekad, integritas, semangat, dan kemauan yang tinggi akan mampu merumuskan jalan atau strateginya masing-masing.
Selain itu, hal terait aspek teknis tidak perlu diseragamkan. Dalam kesempatan berdialog, saya memberikan pengalaman tentang bagaimana memilih cara-cara atau mengembangkan staregi pengumpulan berbagai potensi untuk pengembangan madrasah. Sebagaimana pengalaman yang peroleh, bahwa ternyata bukan kemauan mengikuti dana yang tersedia, melainkan sebaliknya, yaitu justru dana yang akan datang setelah kemauannya benar-benar kuat dan teruji. Oleh karena itu, cara terbaik mengembangkan lembaga pendidikan Islam swasta yang seharusnya ditempuh adalah dengan cara memperkokoh niat, integitas, tekad, dan kemauan itu. Maka, dana yang diperlukan pada suatu saat akan datang dengan sendirinya. Maka tegasnya, berbekalkan niat, tekad, kemauan yang tinggi, dan istiqomah, maka lembaga pendidikan akan tumbuh dan berkembang. Wallahu a'lam.



