Sepintas seseorang disebut tidak tahu tentang dirinya itu terasa aneh. Apakah mungkin ada orang tidak mengetahui tentang dirinya sendiri. Betapa mudahnya pengetahuan itu diperoleh. Untuk mengetahui tentang dirinya sendiri, siapapun bisa langsung melihat, meraba, dan juga merasakannya. Akhirnya dengan segera bisa mengetahui tentang keadaan dirinya.
Hal yang dibayangkan mudah seperti itu, pada kenyataannya sulit dilakukan. Akibatnya, banyak orang mengetahui banyak tentang orang lain tetapi tidak mengetahui tentang dirinya sendiri. Seseorang, jangankan mengetahui tentang dirinya sendiri yang bersifat non fisik, sedangkan yang bersifat fisik saja, ternyata tidak mampu. Orang tidak mengetahui mengapa lidah bisa merasakan berbagai aneka rasa, mulai yang pahit, manis, getir, asin, lezat, dan lain-lain.
Ternyata lidah tersusun menjadi bagian-bagian tertentu dan masing-masing memiliki tugas sendiri-sendiri. Bagian depan misalnya, berfungi merasakan hal yang manis atau lezat, sebaliknya bagian belakang merasakan yang pahit. Demikian pula, kita sendiri sebagai pemiliknya tidak sadar, bahwa daun telinga memiliki kemampuan menangkap berbagai jenis suara yang sedemikian banyak jumlahnya. Dalam pergaulan sehari-hari, setiap orang berkomunikasi dengan sejumlah orang lain yang memiliki jenis suara yang berbeda-beda. Namun telinga berhasil membedakan siapa pemilik suara itu.
Manakala apa yang ada pada diri kita masing-masing diurai lebih lanjut, kita akan memperoleh pengetahuan yang amat menakjubkan. Pengetahuan itu mulai dari bagaimana cara kerja jantung, otak, paru-paru, sistem saraf, pertumbuhan berbagai sel, penyakit dan bagaimana mekanisme penyebuhannya, dan lain-lain. Semua itu adalah merupakan pengetahuan yang luar biasa, yang sebenarnya kita tidak akan mampu menangkap secara mendalam dan apalagi sempurna.
Kesulitan lainnya adalah mengetahui tentang sifat, watak, karakter, kemampuan, kepandaian, kelemahan, bakat, dan perilaku kita sendiri sehari-hari. Seseorang tidak akan mampu mendiskripsikan dirinya secara tepat. Mengira dirinya seorang baik, ternyata justru sebaliknya. Seseorang misalnya, tidak akan mengetahui secara persis, bahwa dirinya sebenarnya adalah sebagai seorang pendendam, pendengki, pemarah, bakhil, pengecut, munafik, dan seterusnya. Pengetahuan tentang itu biasanya diketahui atau dirasakan justru oleh orang lain.
Akhirnya mengetahui tentang diri sendiri ternyata bukan perkara mudah. Seseorang berhasil mengetahui apa saja di luar dirinya, tetapi ternyata tidak mengetahui tentang dirinya sendiri. Seseorang berhasil mengetahui tentang berbagai jenis benda angkasa hingga jauhnya sekian milyard kilometer cahaya, isi perut bumi, lautan, dan seterusnya, tetapi ternyata belum tentu mengetahui tentang apa yang ada pada dirinya. Siapapun dengan usahanya yang saksama berhasil mengetahui hal lain di luar dirinya, tetapi gagal tatkala ingin mengetahui sesuatu yang justru dekat, ialah menyangkut dirinya sendiri.
Sedemikian rumit manusia itu, baik rupa, bentuk, unsur-unsur, dan susunan, baik yang bersifat fisik maupun yang bersifat non fifik, misalnya sejarah, asal muasal penciptaannya, dan bahkan perjalanan hidupnya hingga di akhir kemudian,. Terkait dengan hal itu, Nabi pernah bersabda, bahwa siapa saja yang mengetahui tentang dirinya sendiri maka akan berhasil mengetahui tentang tuhannya. 'man arofa nafsahu faqod arofa rabbahu'. Betapa sulitnya seseorang mengetahui dirinya sendiri, hingga jika berhasil sama halnya akan mengetahui tuhannya. Tentu siapapun, tidak akan berhasil mengetahui secara pasti tentang dirinya sendiri.
Pengetahuan tentang hal yang bersifat sederhana dan mudah saja, ternyata tidak semua orang berhasil menangkapnya. Seseorang mengira bahwa dirinya hebat, memiliki berbagai kelebihan dan keistimewaan, sehingga merasa mampu menduduki posisi penting di tengah masyarakat, ternyata perkiraannya itu keliru. Apa yang disebut sebagai keunggulan, ternyata justru sebaliknya, ialah merupakan titik lemahnya. Lebih sederhana lagi, sebagai misal, seorang merasa terkenal dan mampu menjadi wakil rakyat, menjadi kepala sekolah, pimpinan perusahaan, direktur, rektor, dan lain-lain, setelah pilihan dilaksanakan, ternyata tidak ada yang memilih. Pengetahuan tentang dirinya sendiri meleset, atau sebenarnya, orang dimaksud masih menjadi bagian dari banyak orang yang disebut sebagai 'tidak tahu diri'. Wallahu a'lam.



