Andaikan Wahyu Dijadikan Petunjuk Membangun Bangsa
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 1 Juli 2014 . in Dosen . 2361 views

Saya tidak tahu persis, apa masih ada orang yang percaya pada wahyu untuk membangun bangsa ini ? Kalau percaya, lalu apa buktinya ? Sebaliknya, andaikan jawabnya itu tidak percaya, maka bukti itu juga tidak sulit dicari. Sekarang ini merupakan zaman kebebasan. Percaya atau tidak, juga tidak ada orang yang menghalangi. Orang boleh saja percaya kepada wahyu, tetapi juga tidak ada yang melarang, umpama tidak mempercayainya.

Persoalan tersebut sempat muncul dari adanya perbincangan ringan terkait dengan keberhasilan Nabi Muhammad di dalam membangun masyarakat Madinah yang hanya dilakukan selama sekitar 10 tahun saja. Seseorang yang terlibat dalam diskusi itu mengatakan bahwa, Nabi berhasil oleh karena, beliau berbekalkan wahyu. Sementara itu, dikatakan bahwa, orang biasa sekarang ini tidak mendapatkan petunjuk langsung dari Tuhan, berupa wahyu sebagaimana nabi.

Jawaban spontan itu kemudian juga ditanggapi oleh peserta yang lain, dengan mengatakan bahwa sebagai orang biasa pun, sekarang juga boleh dan bisa menggunakan wahyu. Memang benar, sekarang wahyu tidak akan turun lagi secara langsung, sebab nabi sebagai pemegang otoritas penerima wahyu sudah tidak ada lagi. Namun sebenarnya, wahyu itu sekarang sudah dirupakan dalam bentuk kitab suci. Kitab itu pada hakekatnya adalah kumpulan wahyu yang datang dari Tuhan, dan pada setiap saat bisa dibaca oleh siapapun.

Karena itu, sebenarnya siapapun yang ingin menggunakan wahyu sebagai petunjuk dalam kegiatan apa saja, tidak terkecuali di dalam membangun bangsa, bisa diperoleh dengan mudah. Persoalannya adalah, sejauh mana ada kemauan dan kemampuan menangkap penjelasan wahyu itu. Bahkan, secara operasional, wahyu yang datang dari Tuhan lewat nabi-Nya telah diterjemahkan dalam bentuk perilaku, atau contoh nyata yang sedemikian jelas.

Hanya seringkali, sekalipun petunjuk itu sudah dikenali sebagai wahyu, ternyata masih disikapi secara kurang serius, atau paling tidak, masih didiskusikan hingga panjang lebar. Lewat diskusi itu, di antara mereka ada yang setuju dan ada yang tidak, dengan berbagai alasannya masing-masing. Anehnya, dalam diskusi itu tidak menutup kemungkinan ada yang mengatakan bahwa, sekarang ini adalah zaman modern yang tidak mungkin persoalan hanya dijawab dengan menggunakan petunjuk wahyu. Mereka mengira bahwa kekuatan akal jauh lebih tinggi dibanding wahyu. Padahal sebaliknya, akal selalu menemui titik buntu dan bahkan hasilnya keliru.

Manusia di mana-mana, bahkan sepanjang zaman, selalu memiliki ciri khas, yaitu suka berdebat yang hasilnya tidak selalu jelas. Sudah tersedia petunjuk, tetapi masih saja mencari yang lain yang belum tentu benarnya. Kesukaannya dalam berdebat dan atau beradu argumentasi, ternyata juga termasuk dalam memperdebatkan wahyu yang sebenarnya sudah jelas maknanya. Itulah di antara yang menjadi sebab, umat menjadi rentan berpecah belah dan sulit dipersatukan.

Persoalan lain yang muncul adalah, bahwa manakala pembangunan bangsa ini menggunakan petunjuk berupa wahyu, maka yang dipertanyakan adalah, apa yang seharusnya dilakukan. Wahyu yang mana yang seharusnya digunakan sebagai petunjuk untuk memulai pembangunan itu. Pertanyaan semacam ini biasanya berkembang hingga panjang dan tidak pernah berujung. Padahal, tatkala membangun bangsa, maka artinya adalah membangun orang, masyarakat, dan bahkan juga negara. Wahyu di dalam al Qur'an memberikan petunjuk tentang bagaimana membangun manusia itu seutuhnya, membangun masyarakat, dan bahkan juga membangun bangsa.

Persoalan-persoaan menyangkut individu, hubungan antar orang, kelompok, dan bangsa, terdapat wahyu sebagai petunjuk untuk menjawabnya. Petunjuk berupa wahyu yang dimakudkan itu bersifat komprehensif atau menyeluruh. Membangun manusia sebagai individu misalnya, maka wahyu memberikan petunjuk, bahwa manusia tidak cukup dilihat dari aspek jasmani, fisik, atau raganya. Manusia justru ditentukan oleh aspek yang ada di dalam dirinya, misalnya adalah akalnya, nafsunya, dan hatinya. Oleh karena itu, di dalam meningkatkan kualitas orang, maka seharusnya lebih mengedepankan pada aspek yang ada di dalam itu.

Begitu pula tatkala membangun masyarakat, wahyu memberikan petunjuk tentang bagaimana agar masyarakat menjadi tenteram, damai, dan sejahtera. Bagaimana seharusnya pemimpin dan begitu pula rakyat yang dipimpin dalam memambangun sikap ideal, menunaikan peran, dan tanggung jawabnya masing-masing. Juga, bagaimana orang kaya bersikap dan menempatkan diri di tengah-tengah orang yang berkekurangan dan mengalami kesulitan hidup.

Hingga, wahyu juga menjelaskan bahwa, adalah berbohong mengaku beragama tetapi tidak peduli kepada anak yatim dan orang miskin. Hal-hal detail seperti itu dijelaskan oleh wahyu di dalam membangun masyarakat. Pertanyaannya adalah, maukah menjadikan wahyu sebagai petunjuk di dalam membangun kehidupan ini. Umpama mau, bangsa ini akan benar-benar bangkit dan menjadi semakin hebat di masa depan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up