Bercanda Dengan Pengemis
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 12 Juli 2014 . in Dosen . 3424 views

Adalah hal biasa, di perjalanan, kita digoda pengemis. Biasanya di tengah kota, di pertiga atau perempatan jalan, terdapat pengemis meminta uang seikhlasnya. Diberi berapa saja, mereka menerimanya. Karena itu, kalau ada uang kecil, saya lebih memilih untuk memberi, agar mereka segera pergi. Membiarkan orang meminta sesuatu, terasa tidak enak.

Namun jujur saja, seringkali saya juga agak ragu, antara memberi dan atau tidak. Kalau saya beri, mereka akan merasa enak dan akhirnya secara terus menerus menjadi pengemis di perempatan jalan itu. Maka artinya, saya akan memupuk kebiasaan mereka menjadi pengemis. Padahal Islam tidak mengajarkan agar orang menjadi peminta-minta.

Orang yang sehari-hari pekerjaannya hanya menjadi peminta-minta itu tidak baik. Mereka selalu berharap belas kasih orang lain dan malas bekerja. Sementara itu, Islam menganjurkan agar umatnya selalu bekerja dan bertanggung jawab atas dirinya dan keluarganya. Lebih baik mencari kayu bakar ke hutan dan kemudian menjualnya daripada menjadi peminta-minta. Itulah ajaran baginda yang mulia, utusan Allah, Muhammad saw.

Namun sebaliknya, jika saya tidak memberi, maka saya akan masuk kategori bakhil, tidak mau memperhatikan orang miskin. Sifat bakhil juga tidak boleh dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Islam juga mengajarkan agar selalu mengembangkan sifat kasih sayang, peduli terhadap sesama, dan mau menolong siapapun yang mengalami kesusahan. Sementara itu, orang-orang yang meminta-minta di pinggir jalan, --------ukuran dahulu, adalah orang yang membutuhkan pertolongan.

Keputusan antara memberi dan tidak memberi itu akan menjadi lebih tidak sederhana lagi, oleh karena tidak sedikit orang yang meminta-minta di pertigaan atau perempatan jalan, ternyata sudah menjadi mata pencaharian. Para peminta-minta itu sebenarnya tidak semiskin yang dibayangkan oleh banyak orang. Ada saja di antara mereka itu telah memiliki rumah, sepeda motor, dan bahkan mobil. Tatkala sedang meminta-minta, kendaraannya di parkir agak jauh dari tempat kegiatannya itu.

Selain itu, tidak sedikit peminta-minta dijadikan alat oleh orang lain. Orang-orang yang berpenampilan memelas, atau dibuat tampil memelas itu dipekerjakan oleh sindikat. Mereka itu bekerja kepada seseorang yang sehari-hari diberi tugas meminta-minta. Oleh karena itu, mereka bukan sendirian. Para pengemis itu menjadi bagian dari sekumpulan orang pemalas yang mencari nafkah dengan cara paling mudah secara bersama-sama.

Bukan untuk membalas karena selalu digoda, tetapi sekedar bercanda. Suatu ketika, ------yang sebenarnya peristiwa itu sudah cukup lama, di rumah kedatangan pengemis. Sama dengan pengemis pada umumnya, ia bermaksud meminta uang sekedarnya. Melihat pengemis datang itu, maka ia langsung saya persiahkan masuk rumah dan saya ajak makan bersama. Semula menolak ajakan itu, tetapi kemudian saya paksa dan akhirnya mau mengikuti tawaran itu.

Sambil makan, pengemis itu saya ajak bicara hal-hal yang ringan, yang sekiranya tidak menjadikan dia tersinggung. Pengemis laki-laki yang sudah berumur kira-kira lima puluhan tahun itu tampak sekali merasa kikuk, mungkin karena tidak terbiasa, tatkala mengemis dipersilahkan masuk rumah dan langsung dijak makan bersama. Dalam suasana seperti itu, dia rupanya juga berusaha untuk jujur, dengan cara menjawab apa saja pertanyaan yang saya ajukan kepadanya. Tentu, saya juga merasa senang.

Beberapa saat kemudian, pengemis tersebut mau pamit pulang, namun saya tahan dulu. Sebelum pergi, saya mintai tolong untuk mengisi bak air dari sumur. Ketika itu, di rumah saya, belum ada mesin pengangkat air sebagaimana sekarang. Saya merasa tidak memberati, tugas itu sebentar saja selesai, karena hanya memenuhi bak air berukuran kecil di kamar mandi. Beberapa timba saja cukup. Sebelum tugas itu ditunaikan, saya juga berjanji akan memberi uang sebagai upahnya.

Selesai menunaikan tugas, pengemis berpamit pulang. Uang yang saya janjikan saya berikan. Sambil menerima uang, dia mengucapkan terima kasih, tetapi pada raut wajahnya tampak kesal atas perlakuan saya yang mungkin dianggap tidak biasa. Mental malasnya kelihatan. Saya pesan, agar sekali-kali datang lagi, untuk bantu membersihkan rumah, juga tidak dijawab.

Dari pengalaman tersebut, saya menyimpulkan bahwa para pengemis sebenarnya bukan saja miskin harta, tetapi juga miskin semangat, miskin cita-cita, miskin harapan masa depan, dan juga segalanya. Oleh karena itu upaya mengentaskan kemiskinan tidak cukup hanya sekedar memberi uang, tetapi yang lebih penting adalah mengubah jiwa miskinnya itu, entah bagaimana caranya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up