Sebagai bagian dari berdemokrasi yang terlihat sekarang adalah memilih calon pemimpin, yaitu Presiden dan Wakil Presiden. Sedemikian baik dan mulia niat berdemokrasi itu, pemimpin tidak dihasilkan dari proses-proses kekerasan, yaitu siapa yang kuat, merekalah yang memimpin. Melainkan, dilakukan dengan cara memilih secara bersama-sama. Siapa saja yang dianggap dipercaya oleh sebagian besar rakyat, maka mereka itulah yang berhak menduduki posisi sebagai pemimpin.
Telah disepakati bahwa, negeri ini adalah milik bersama. Siapapun berhak untuk menjadi yang terbaik, memberikan yang terbaik, dan mengabdi untuk negerinya. Atas dasar kesamaan itulah, siapapun boleh mengajukan dirinya sebagai pemimpin bangsa ini. Tidak boleh ada diskriminasi, semua orang harus dianggap sama, entah mereka itu berkelahiran Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan, Sulawesi hingga Papua, asalkan yang bersangkutan masih menjadi warga negara Indonesia, laki-laki atau pun perempuan, tidak boleh dihalangi untuk mengajukan dirinya sebagai pemimpin bangsa. Itulah berdemokrasi.
Selain itu, sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, bukan waktunya lagi ada perasaan bahwa dirinya, kelompoknya, atau sukunya lebih tinggi dibanding yang lain, dan begitu pula sebaliknya. Semua orang dianggap sama. Hal itu juga tergambar dari tatkala warga negara sedang memilih pimpinannya. Tua atau muda, laki-laki perempuan, sedang dalam keadaan sehat atau sedang sakit, yang cacat tubuh atau yang sempurna, semua dianggap sama. Suara dari orang tua dianggap sama nilainya dengan suara pemilih yang masih muda. Begitu pula suara laki-laki dihitung sama dengan suara perempuan, suara orang yang gagah juga dihargai sama dengan orang yang kurus lagi kecil. Berdemokrasi memang begitu seharusnya.
Namun sekalipun dimungkinkan, tidak semua orang mencalonkan diri sebagai pemimpin, apalagi setingkat presiden dan wakil presiden. Hal itu bukan saja karena syarat-syarat yang tidak mudah dipenuhi, tetapi juga atas pertimbangan dirinya sendiri. Sekalipun menjadi orang penting di partainya, karena mengetahui elektabilitasnya rendah, pasti akan tahu diri, tidak mencalonkan diri menjadi presiden Seperti sebelum diselenggarakan pemilihan calon anggota legislatif, tidak sedikit tokoh nasional yang mengajukan diri sebagai calon presiden dan wakil presiden. Namun karena mengetahui, tidak mungkin menang, akhirnya dengan berbesar hati, mengundurkan diri dari pencalonan.
Berdemokrasi adalah berpihak pada suara yang paling banyak. Maksudnya adalah ingin menghargai semua orang dan atau semua warga negara. Tidak boleh satupun dikecualikan, asalkan persyaratannya telah dipenuhi, siapapun dihargai dan boleh berpartisipasi. Maka, berdemokrasi sebenarnya justru ingin menghargai semua orang. Dalam berdemokrasi, urusan bersama diselesaikan secara bersama-sama. Adanya perbedaan pendapat adalah niscaya, tetapi perbedaan itu diselesaikan dengan cara mengikuti suara yang terbanyak. Dalam pemilihan presiden dan wakil presiden misalnya, siapapun yang dipilih oleh jumlah suara terbanyak itulah yang akan diangkat pada jabatan itu.
Manakala inti daripada berdemokrasi itu adalah ingin menghargai semua orang, maka akan menjadi kontraporoduktif dengan tujuan itu, manakala dalam proses-proses yang dilalui harus melewati saling merendahkan, mencaci-maki, mengolok-olok, dan apalagi saling memfitnah. Kekerasan seharusnya tidak dikenal di dalam berdemokrasi. Siapapun yang melakukannya akan bertentangan dengan konsep itu. Berbicara demokrasi tetapi masih menggunakan cara-cara kekerasan atau anarkhis, maka itu sebenarnya bukan berdemokrasi, melainkan otoriter dan atau tirani.
Berebut pengaruh di dalam berdemokrasi dibolehkan, tetapi seharusnya dilakukan dengan cara-cara santun dan bukan saling merendahkan. Mengunggulkan orang yang diidolakan tidak harus lewat cara merendahkan pihak lain. Banyak cara simpatik untuk mempengaruhi orang. Belajar dari penjual kecap, semua perusahaan selalu mengklaim bahwa produknya sebagai nomor satu. Tetapi, masing-masing merk memiliki kelebihan yang berbeda, dan akhirnya pembeli akan memilih yang cocok dengan seleranya sendiri. Lidah memang berbeda-beda, semuanya tidak bisa dipaksa.
Begitu pula pilihan terhadap calon pemimpin dalam sistem demokrasi, sekalipun dijelek-jelekkan, seorang yang terlanjur diidolakan, tetap akan dipilih. Karena itu, tidak perlulah pilihan orang lain dijelekkan, direndahkan, dan dicari-cari kekurangannya. Pilihan orang lain seharusnya dihormati. Itulah berdemokrasi, sekalipun berbeda, tetap berusaha menghargai dan atau menghormati semua orang. Wallahu a'lam



