Menyaksikan orang bertanding dalam memperebutkan kemenangan memang menyenangkan, tetapi sekaligus juga mencemaskan dan bahkan menakutkan. Suasana menunggu hasil pertandingan biasanya tidak ingin berlama-lama. Menunggu itu juga menjadikan orang merasa capek, tidak terkecuali menunggu datangnya kemenangan. Oleh karena itu, manakala pertandingan tidak kunjung jelas siapa pemenangnya, maka ketegangan, kecemasan, rasa khawatir, dan kecapekan akan berlangsung lama, dan juga beresiko.
Dalam pertandingan apapun selalu ada pihak yang kalah dan sebaliknya yang menang. Menjadi sangat bagus dan terhormat manakala yang menang tidak berlebih-lebihan melampiaskan kegembiraannya, dan sebaliknya pihak yang kalah juga segera mengakui kekalahannya. Akan tetapi suasana ideal itu tidak selalu diketemukan. Bersikap berlebih-lebihan tatkala menang dan protes tatkala kalah, sering terjadi.
Baru saja bangsa ini menyelenggarakan pesta demokrasi, yakni pemilihan calon presiden dan calon wakil presiden. Hasilnya, sudah diumumkan oleh KPU. Namun ternyata tidak segera diterima oleh semua pihak yang berkompetisi. Pihak yang dinyatakan kalah tetapi merasa akan menang masih menggugat ke Mahkamah Konstitusi. Langkah itu memang menjadi haknya. Semuanya harus sabar.
Pemilihan calon presiden dan wakil presiden secara langsung memang bukan pekerjaan gampang dan sederhana. Mempersiapkan dan melaksanakan pemilihan umum yang melibatkan hingga lebih dari seratus juta orang adalah bukan perkara mudah dan murah. Tidak terkecuali adalah menghitung perolehan suara pemilih yang juga harus melibatkan banyak orang, termasuk para saksinya. Maka, umpama pemilihan itu harus diulang, tentu juga tidak mudah, apalagi ditambah bahwa situasinya sudah saling tidak percaya.
Hal itu berbeda, tatkala pemilihan calon presiden dan wakil presiden lewat perwakilan sebagaimana selalu dilakukan sebelum pemilu tahun 2004 yang lalu. Sejak Indonesia merdeka hingga pemilu tahun 2004, pemilihan presiden dilakukan lewat perwakilan, yaitu dilaksanakan oleh anggota MPR. Cara itu dianggap syah oleh karena dasar negara, yaitu Pancasila menyebut bahwa : 'Kerakyatan dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan'. Pada saat itu, umpama terjadi sengketa, maka mengulanginya tidak memerlukan waktu lama dan mahal.
Pemilihan calon presiden dan wakil presiden dengan melibatkan jutaan orang seperti sekarang ini, memang terasa ideal. Semua rakyat secara langsung diberi hak dan wewenang untuk memilihnya sendiri, sekalipun mereka belum tentu mengetahui, siapa sebenarnya calon yang dipilih itu. Rakyat biasa yang bertempat tinggal di pedesaan, di pulau-pulau kecil, di tempat yang amat jauh dari ibu kota, tidak akan mengenal dengan baik para calon presidennya. Mereka itu biasanya kemudian diperebutkan oleh pihak-pihak yang berkepentingan. Akibatnya, saling menjatuhkan dan bahkan memfitnah menjadi biasa dan tidak mudah dihindarkan. Selain itu, orang yang tidak tahu atau tidak memiliki informasi akan menjadi sangat mudah terpropokasi.
Gugatan yang diajukan oleh salah seorang calon presiden dan wakil presiden seperti yang terjadi sekarang ini, tentu bukan perkara mudah oleh karena melibatkan para pendukung, atau pemilih yang sedemikian besar jumlahnya. Umpama MK kemudian nanti memenangkan penggugat, maka jangan dikira persoalannya selesai. Mereka yang kemudian dinyatakan kalah juga akan merasa diperlakukan tidak adil. Kecewaan itu akan dialami oleh puluhan juta orang. Akhirnya, gugat menggugat sangat mungkin akan terjadi, dan hingga berkepanjangan. Maka kemudian energi yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan rakyat menjadi hilang percuma.
Memperebutkan kemenangan dalam skala besar yang melibatkan jutaan orang jumlahnya tentu tidak murah, tidak mudah, dan resikonya sedemikian besar. Oleh karena itu, semua pihak harus berhati-hati, sabar, dan ikhlas. Tetapi apapun, keselamatan, ketentraman, kerukunan, dan kedamaian bagi rakyat seharusnya diletakkan pada tempat yang paling utama. Dalam suasana seperti itu, para pemimpin bangsa dituntut menyandang jiwa besar, lapang dada, dan penuh kearifan. Apa artinya kemenangan, tetapi rakyat, negara, dan bangsa menjadi hancur, misalnya. Itulah sebabnya, semua pihak harus sabar dan ikhlas. Bangsa dan negara jangan sampai menjadi korban perebutan kemenangan. Wallahu a'lam.



