Bersama Ustadz Ja'far Umar Thalib
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 18 Juli 2014 . in Dosen . 5682 views

Tatkala terjadi kerusuhan di Maluku beberapa tahun yang lalu, nama Ustadz Ja'far Umar Thalib sangat dikenal. Dia memimpin Laskar Jihad dari Jawa ke beberapa daerah tempat kerusuhan itu. Bersama ribuan santrinya dan kaum muslimin setempat, dia melakukan perlawanan di tempat kerusuhan. Salah satu tokoh yang menjadi musuh Ustadz Ja'far Umar Thalib ketika itu adalah Sinyo Hari Sarundayang, yang pada waktu itu, dia sebagai pejabat Guernur Maluku, yang beragama Kristen.

Kedua tokoh yang saling bermusuhan itu, melalui berbagai pendekatan, ternyata akhirnya menjadi bersahabat dan saling berkomunikasi. Sekarang ini antara Sinyo Hari Sarundayang dan Ustadz Ja'far Umar Thalib tidak tergambar bahwa sebelumnya pernah saling bermusuhan. Di antara keduanya saling berkomunikasi dan bahkan mengunjungi. Sinyo Hari Sarundayang, sejak menjadi pejabat Gubernur di Maluku pernah berkunjung ke pesantren Ustadz Ja'far Umar Thalib di Yogyakarta dan demikian pula sebaliknya, Usadz Ja'far Umar Thalib diterima di rumah pejabat Gubernur ini.

Persahabatan antara keduanya itu ternyata masih terpelihara dengan baik hingga sekarang. Ketika Sinyo Hari Sarundayang dilantik menjadi Gubernur Sulawesi Utara, Ustadz Ja'far Umar Thalib diundang dan hadir. Begitu pula ketika gubernur itu mendapatkan anugerah Doktor Honoris Causa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang juga hadir. Bahkan, pada hari Kamis, tanggal 17 Juli 2014, dalam acara peringatan ke 45 tahun pernikahan Sinyo Hari Sarundayang dan isterinya di Manado, putra seorang guru agama di Malang, yakni Ustadz Umar Thalib juga diundang dan datang.

Pada acara peringatan pernikahan tersebut, saya bersama Dr. Mohammad Tamimmy, Direktur Pelayanan Haji Kementerian Agama yang dulu juga bersama Ustadz Ja'far Umar Thalib pernah memimpin laskar Jihad di Ambon itu juga datang. Yang menarik bagi saya pada acara itu adalah, di tengah ribuan undangan, nama Ustadz Ja'far Umar Thalib selalu disebut oleh semua yang tampil memberi sambutan, tidak terkecuali pemilik hajat, Gubernur Sulawesi Utara, hingga akhirnya nama itu menjadi sangat populer pada kegiatan itu.

Dalam acara resepsi yang kebanyakan dihadiri oleh orang Kristen tersebut, Ustadz Ja'far Umar Thalib berpakian khas, yaitu jubah putih, komplit dengan peci putih serta surbannya. Hanya dia sendiri yang berpakaian khas seperti itu. Namun demikian dia tampak sangat dihormati di tengah-tengah orang Kristen. Begitu datang di tempat upacara, Ustadz yang berbusana khas itu, oleh panitia diajak singgah di ruang transit, dan kemudian setelah acara dimulai, baru dipersilahkan masuk di arena resepsi. Tentu perhatian ribuan orang yang hadir tertuju kepadanya.

Tidak terbayang, ternyata Ustadz Ja'far Umar Thalib sangat dikenal dan dohormati di kalangan masyarakat Kristen Sulawesi Utara. Sebagaimana yang saya sebut di muka, setiap orang yang memberi sambutan selalu menyebut namanya, dan bahkan ketika acara resepsi selesai, dan ia keluar dari ruangan, banyak sekali undangan yang hadir mendatanginya untuk berjabatan tangan dan meminta berfoto bersama. Tidak terkecuali adalah para wartawan, untuk meminta komentar dan pandangannya.

Yang menarik lainnya adalah, bahwa mantan komandan Laskar Jihad ini ternyata tampak sama sekali tidak dibenci, tetapi justru sebaliknya, disenangi dan dihormati oleh orang-orang Kristen di Indonesia Timur. Kedua orang tokoh, yakni Sinyo Hari Sarundayang dan Ustadz Ja'far Umar Thalib, sekalipun dulu bermusuhan, maka kini tampak sangat bersahabat. Persahabatan itu rupanya ingin dipelihara, setidaknya lewat acara-acara penting, keduanya saling mengundang, menghargai, dan membanggakan.

Peristiwa tersebut memang tampak sederhana, tetapi di tengah bangsa majemuk seperti ini, persahabatan itu sebenarnya sangat penting artinya. Para tokoh yang berbeda agama dan bahkan pernah bermusuhan, namun ternyata bisa menjalin komunikasi dan persahabatan yang sedemikian kuat. Keduanya tidak saja saling ketemu tetapi juga sama-sama saling menghargai dan menghormati. Perbedaan tidak perlu dijadikan alasan untuk bertikai, tetapi bisa bertemu dan bersahabat. Lewat contoh ini kiranya bangsa Indonesia yang majemuk dari berbagai aspeknya tidak perlu dikhawatirkan, asalkan masing-masing sanggup mengenal, memahami, menghargai, dan menghormati antar sesama. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up