Dalam Kampanye Pilpres, Kitab Suci Harus Tetap Diposisikan Segalanya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Jumat, 4 Juli 2014 . in Dosen . 687 views

Siapapun yang menjadi pilihan pada tanggal 9 Juli 2014, dan atau siapapun pemenangnya dalam pilpres 2014, bangsa Indonesia harus tetap utuh, aman, damai, dan maju. Sebab pilihan presiden dan wakil presiden yang dilakukan pada setiap lima tahun sekali, pada hakekatnya adalah untuk memajukan bangsa ini. Tali silaturrakhiem di semua tingkatan, baik di tingkat rakyat, hubungan antar etnis, penganut agama, maupun elitenya harus tetap terjaga sebaik-baiknya.

Pemilihan presiden yang akan dilaksanakan beberapa hari lagi, yakni pada tanggal 9 Juli 2014, pemenangnya sudah sedemikian jelas, yaitu di antara dua pasangan, antara Pak Prabowo-Hatta, dan Pak Jokowi-JK. Kedua pasangan calon pemimpin bangsa ini sudah dikenali dan bahkan sudah teruji. Siapa sebenarnya Pak Prabowo-Hatta dan demikian pula siapa sebenarnya Pak Jokowi-JK sudah diketahui jejak sejarahnya. Semuanya beragama Islam, penduduk asli Indonesia, pekerja keras, dan keduanya pernah memegang jabatan penting di negeri ini. Integritas mereka kepada bangsa, negara, dan rakyat sudah berhasil ditunjukkan dalam waktu lama.

Kekhawatiran secara berlebihan kiranya tidak perlu dikembangkan. Bangsa ini bukan saja tergantung kepada presidsennya, tetapi masih ada lembaga penentu lainnya, seperti misalnya lembaga legislatif, yudikatif, tentara, perguruan tinggi, mahasiswa, dan yang amat menentukan lagi adalah rakyatnya. Siapapun presiden dan wakil presidennya, manakala rakyat tidak berpartisipasi dalam pembangunan, maka sekuat apapun pemerintah juga tidak mudah melakukan perubahan. Apalagi berbicara masa depan, manakala mahasiswanya tidak memiliki komitmen mengembangkan diri dan tidak memiliki kepedulian terhadap bangsanya, maka tidak akan terjadi sesuatu yang menjanjikan.

Atas dasar semua pertimbangan tersebut, maka tidak selayaknya pemilihan presiden dan wakil presiden dihadapi secara berlebihan dan apalagi hingga berdampak memutus tali sillaturrakhiem di antara sesama yang berbeda pilihannya. Dalam berdemokrasi siapapun diberi hak dan keleluasaan untuk memilih sesuai dengan nuraninya, dan bukan sesuai dengan siapa pilihan temannya. Boleh-boleh saja bagi siapapun mencari teman untuk memenangkan idolanya, tetapi tidak boleh sampai merendahkan yang lain manakala pilihan itu harus berbeda.

Merendahkan dan apalagi hingga menghina orang lain, dalam kitab suci, sama sekali tidak dibolehkan. Disebutkan dengan jelas di dalam surat al Hujurat ayat 12 bahwa, : ' Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati ? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertaqwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang'.

Pada saat kapan pun, tidak terkecuali dalam berkampanye memenangkan pasangan yang diidolakan tidak boleh melupakan ayat al Qur'an tersebut di muka. Hal itu bukan berarti memenangkan jago yang diidolakan tidak penting, tentu masih tetap penting. Akan tetapi, petunjuk al Qur'an harus diletakkan pada tempat utama dan segala-galanya. Panggilan atau seruan Tuhan lewat kitab suci tidak boleh diabaikan, melainkan harus ditunaikan. Panggilan untuk memenangkan calon presiden pilihannya, dibanding memenuhi seruan Tuhan, bukan punya makna apa-apa. Masih banyak cara lain yang lebih mulia untuk berkampanye dari pada lewat cara-cara yang tidak terpuji, seperti merendahkan, mengolok-olok atau mencaci-maki pasangan capres yang bukan pilihannya, yang tentu tidak dibolehkan.

Sebuah kebaikan selalu lahir dari jalan atau proses-proses yang baik dan terpuji. Manakala pilihan yang dijagokan adalah terbaik, maka untuk membelanya juga seharusnya ditempuh dengan cara-cara yang baik. Kebaikan di mana saja akan menang, sehingga memilih cara terbaik adalah bagian dari kemenangan itu sendiri. Kitab suci, yakni al Qur'an menyeru pada kebaikan, kemuliaan, dan keagungan. Sebaliknya, al Qur'an sudah jelas melarang umat Islam melakukan sesuatu yang menjadikan orang lain merasa tersinggung, direndahkan, disepelekan, dan apalagi merasa difitnah. Dalam kampanye Pilpres sekarang ini, kita memiliki dua calon pasangan pemimpin terbaik, oleh karena itu semua proses seharusnya ditempuh lewat cara-cara terbaik pula. Kebaikan tidak boleh dicampur dengan keburukan. Juga, Al Qur'an harus diutamakan dari apapun lainnya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up