Islam Membangun Mental Pemberi
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 29 Juli 2014 . in Dosen . 4030 views

Banyak sekali orang salah paham tentang Islam. Agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., disebut sebagai ajaran tentang kekerasan, tidak menyukai kemajuan, menghambat pengembangan ilmu pengetahuan, mendorong orang menjadi miskin, pasrah pada kadaan, dan lain-lain, bahkan tidak terkecuali mendorong orang agar menjadi peminta-minta. Anggapan semua itu sebenarnya tidak tepat, dan justru Islam mengajarkan sebaliknya.

Islam mengajarkan tentang kelembutan, menghargai orang lain, bertolong menolong, saling menjalin kasih sayang, mencintai ilmu pengetahuan, menjadi orang kuat, giat bekerja dan berusaha, dan menjadi orang yang berada pada posisi pemberi dan bukan penerima. Itulah sebabnya, Islam mengajarkan agar umatnya kaya ilmu, menjadi manusia yang berkualitas, menegakkan keadilan, selalu menyambung komunikasi baik vertikal maupun horizontal, dan mampu bekerja secara profesional, atau beramal shaleh.

Islam mendorong umatnya agar menjadi pemberi dan bukan sebaliknya, yaitu sekedar menjadi penerima atau apalagi sebagai peminta-minta. Ajaran dimaksud adalah sangat jelas bersumber dari al Qur'an maupun hadits nabi. Islam menjunjung tinggi peran sebagai guru, pengajar al Qur'an, dan ilmu pengetahuan. Bukankah posisi guru atau pengajar itu sebenarnya adalah sebagai pemberi, yakni memberi ilmu pengetahuan, atau memberikan contoh cara bekerja, berperilaku, atau berakhlak mulia.

Dalam keterkaitannya dengan kehidupan ekonomi, umat Islam dianjurkan untuk berinfaq, bershadaqoh, berzakat, wakaf, hibah, dan lain-lain. Dalam memberikan sesuatu kepada orang lain atau berinfaq tidak perlu harus menunggu tatkala sudah berkelebihan, atau sudah memiliki sisa dari kebutuhannya sendiri. Infaq seharusnya diberikan tatkala sedang lapang maupun tatkala dalam keadaan terbatas dan kesempitan. Dalam keadaan apapun, Islam menganjurkan umatnya untuk memberi, dan bukan sekedar menerima.

Namun sayangnya, memang tidak sedikit umat Islam yang merasa gembira tatakala sedang menerima dan bukan sebaliknya, yaitu tatkala sedang memberi. Padahal kegembiraan yang sebenarnya adalah dirasakan tatkala seseorang telah berhasil menjadi pemberi dengan ikhlas. Maka dari itu, melapangkan kesempitan orang adalah lebih baik dan sukses daripada berada pada posisi sedang mendapatkan bantuan. Dijanjikan oleh Allah bahwa, para pemberi kebaikan, penolong, pembayar infaq, shadaqoh, zakat, wakaf, hibah, dan lain-lain secara ikhlas, akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda.

Umat Islam hanya dibolehkan berharap memperoleh pertolongan yang datang dari Tuhan dan bukan datang dari sesama manusia, apalagi lewat cara meminta-minta. Berdoa hanya ditujukan kepada Tuhan, bukan kepada selainnya. Meminta-minta kepada sesama manusia dipandang aib. Berharap kepada orang lain itu dibolehkan, manakala sudah dalam keadaan terpaksa. Islam menganjurkan untuk menjadi pemberi, sebagaimana disebutkan di muka, lewat infaq, shadaqoh, zakat, hibah,dan lain-lain, namun sebaliknya, tidak ada anjuran untuk menjadi penerima.

Islam mengharapkan umatnya menjadi berposisi di atas, terhormat, bermartabat, memiliki kelebihan, dan bahkan sebagai pejuang bagi orang lain. Memperjuangkan kebenaran, menegakkan keadilan, memenuhi kebutuhan masyarakat atau umat, harus didahulukan daripada kepentingan dirinya sendiri. Anjuran berjuang bahkan selalu diikuti oleh keharusan berkorban. Agar posisi sebagai pemberi itu bisa diwujudkan, umat Islam diharapkan memiliki kelebihan, yaitu kelebihan ilmu pengetahuan, harta kekayaan, dan tidak terkecuali adalah mental berlebih. Mental umat Islam harus kokoh. Sebagai seorang muslim harus bermental sebagai pejuang dan penolong terhadap berbagai jenis kebaikan.

Maka, adalah sama sekali tidak tepat manakala Islam disebut sebagai kekuatan pendorong umatnya agar menjadi peminta-minta, kecuali kepada Tuhan. Umat Islam dianjurkan agar baru merasa sukses, bergembira atau berbangga tatkala berhasil memberi kebaikan kepada orang lain. Namun sayangnya, masih sering terjadi kesalah-pahaman tentang Islam secara mendasar. Bahkan, masih banyak dari kalangan umat Islam sendiri yang baru bersemangat untuk mendapatkan sesuatu, atau bahkan juga selalu berharap diberi dan diperjuangkan. Mental berharap menerima lebih kuat dibanding mental pemberi dan atau memperjuangkan. Oleh karena itu, mental sebagai pemberi atau pejuang dimaksud, rasanya masih sangat perlu ditumbuhkan kembali. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up