Di Bulan Ramadhan terdapat satu malam yang memiliki keutamaan luar biasa. Pada malam itu, keutamaannya melebihi seribu bulan. Para Malaikat atas izin Allah turun ke bumi untuk memberikan kelebihan yang melimpah itu. Seorang hamba Allah yang beribadah di malam lailatul qadar, akan memperoleh kebaikan atau pahala melebihi beribadah selama seribu bulan.
Sedemikian besar kasih sayang Allah dilimpahkan kepada kaum muslimin. Terbayang bahwa kaum beriman pun sehari-hari melakukan kesalahan atau dosa, baik dosa terhadap dirinya sendiri, kepada keluarganya, sesama teman, maupun kepada Tuhan. Akan tetapi, atas kasih sayang-Nya, Allah menetapkan satu malam di bulan Ramadhan sebagai malam istimewa yang mendatangkan kebaikan secara melimpah, yang di antaranya akan menutup dosa-dosa yang sehari-hari dilakukan itu.
Dosa juga akan diampuni oleh Allah terhadap orang yang menjalankan puasa dan menghidupkan malam Bulan Ramadhan dengan shalat malam. Kasih sayang dan kemurahan Allah ternyata tidak terbatas. Siapapun yang berbuat dosa, asalkan berusaha memohon ampun, menjalankan perintahnya, dan apalagi bertaubat, maka akan diampuni oleh-Nya. Pemahaman seperti itu, menjadikan orang-orang yang beriman tidak pernah putus asa, kecil hati, dan miskin harapan.
Orang seringkali berdebat hal-hal kecil yang sebenarnya tidak perlu, seperti misalnya terntang awal jatuhnya bulan puasa dan hari raya, jumlah raka'at shalat tarweh, soal doa qunut, dan sejenisnya. Perdebatan tentang persoalan sederhana itu menggambarkan bahwa, Tuhan seolah-olah sedemikian sulit didekati, dan beribadah saja sebagai sesuatu yang rumit, sehingga harus berdebat segala. Padahal tidak begitu. Tuhan Maha Pengampun, Maha Penerima Taubat, dan menyukai hamba yang berharap mendekatkan pada-Nya.
Justru yang tidak dibolehkan oleh Allah adalah saling bertengkar antar sesama, memutus tali sillaturrahmi, saling menghujat, menyakiti hati sesama, merendahkan orang lain dan sejenisnya. Sebaliknya, Islam mengajarkan tentang persatuan, saling kasih mengasihi antar sesama, tolong menolong, dan menghormati orang lain. Anehnya, dalam beribadah, untuk mendekatkan diri pada-Nya, ternyata justru harus berdebat, mengklaim paling benar, dan bahkan bertengkar. Rupanya kita lupa, bahwa berdzikir, shalat, berpuasa, zakat, haji dan seterusnya adalah dimaksudkan agar antar sesama saling membangun kasih sayang dan menjalin ikatan tali sillaturrahmi, dan bukan sebaliknya.
Sekalipun Allah menetapkan malam lailatul qadar yang keutamaannya melebihi seribu bulan, ternyata tidak sebaliknya, yaitu menetapkan hari atau malam yang akan memberi ancaman kepada orang yang melakukan dosa atau kesalahan dengan hukuman yang berlipat-lipat. Dengan demikian, kasih sayang Allah jauh lebih besar dari ancamannya. Dan sebagaimana dikemukakan di muka, sekalipun manusia berbuat dosa atau melakukan kesalahan, apabila yang bersangkutan memohon ampun atau bertaubat, -------sebesar apapun dosa itu, ternyata masih akan diampuni.
Memahami dan menghayati kasih sayang Allah, dan lebih-lebih beribadah di malam lailatul qadar, mendorong kita semua untuk semakin meningkatkan upaya beribadah dan mendekatkan diri pada-Nya. Apapun peran dan kegiatan yang kita lakukan sehari seharusnya diorientasikan pada upaya mendapatkan ridho dan kasih sayang-Nya. Maka, di sanalah sebenarnya kebahagiaan yang sejati. Pada bulan Ramadhan, dan lebih-lebih di malam lailatul qadar adalah waktu yang tepat untuk mendapatkan posisi itu, ialah agar dekat, semakin dicintai, dan mendapatkan ampunan-Nya. Wallahu a'lam.



