Kompak
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 30 Juli 2014 . in Dosen . 13978 views

Sekalipun banyak orang yang berbeda-beda, jika mereka kompak, maka akan kuat. Kompak tidak sekedar bersatu, tetapi lebih dari itu. Bersatu dan juga padu maka itulah yang disebut kompak. Bangsa Indonesia selama ini sudah bersatu, tetapi belum kompak. Perbedaan etnis, adat istiadat, bahasa daerah, agama, dan lain-lain di negeri ini tidak menjadi halangan untuk bersatu. Mereka sudah bersatu, tetapi, dalam banyak hal belum kompak.

Seringkali, kata kompak digunakan untuk menggambarkan kebersamaan yang sedemikian kokoh. Disebutkan misalnya, bahwa sebuah desa selalu memenangkan berbagai perlombaan pada setiap tahun, oleh karena rakyat atau penduduknya kompak. Artinya penduduk desa dimaksud tidak sekedar bersatu. Sebuah kesebelasan sepak bola disebut menarik oleh karena pemainnya selalu kompak. Suami isteri seharusnya tidak saja bersatu, tetapi juga kompak, agar bisa mengelola rumah tangga dengan baik.

Sebagai contoh lainnya adalah kesenian tari samman dari Aceh. Pertunjukkan dimaksud kelihatan sangat indah. Kelebihannya hingga menarik banyak orang adalah terletak pada kekompakan para penarinya yang luar biasa. Gerak tari itu sedemikian cepat dan gesit, tetapi padu dan sangat kompak. Para penarinya tidak sekedar bersatu, tetapi bersatu dan juga padu, sehingga kelihatan indah.

Bangsa Indonesia ini sejak lama sudah bersatu. Rakyatnya dari Sabang hingga Merauke, sekalipun berbeda-beda etnis, bahasa daerah, adat istiadat, jenis makanan pokok, bahkan juga agama yang dipeluk, dan lain-lain, tetapi bersatu. Berbagai perbedaan yang ada telah disadari, namun semuanya bertekad untuk bersatu. Semuanya bersemboyan : ' Bhineka Tunggal Ika'. Berbeda-beda tetapi tetap bersatu. Mereka merasa satu bangsa, satu bahasa, dan satu tanah air, berbedera merah putih, dan memiliki lagu kebangsaan Indonesia Raya.

Persatuan sebagai bangsa Indonesia sudah sedemikian kuat dan kokoh. Bahkan bertekad dan bersemboyan bahwa, Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI adalah harga mati. Artinya, siapapun yang akan mengganggu persatuan bangsa Indonesia, dari manapun datangnya, akan dilawan bersama. Persatuan di antara rakyat yang menempati pulau besar kecil hingga berjumlah tidak kurang dari 17. 000 buah sudah sedemikian kuat.

Di dalam persatuan yang sedemikian kuat itu, ternyata bangsa ini masih belum terlalu kompak dalam berbagai halnya. Dalam bidang ekonomi misalnya, ada orang-orang atau kelompok tertentu yang ingin menguasai berbagai aset atau kekayaan secara berlebih-lebihan tanpa mempedulikan orang lain. Maka, terjadilah kesenjangan yang luar biasa. Padahal kesenjangan, di mana-mana, adalah merupakan ancaman terhadap persatuan dan kesatuan bangsa.

Di negeri ini masih banyak orang yang belum memiliki pekerjaan, tempat tinggal, berpenghasilan tetap, dan lain-lain, tetapi juga sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang memiliki jumlah kekayaan yang melimpah. Sayangnya, tidak tampak, dan bahkan memang tidak ada kekompakan antara mereka yang tegolong kaya dan yang miskin. Bahkan seringkali yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu mereka yang kuat dan kaya menindas dan juga merampas terhadap yang lemah dan miskin. Kekompakan belum dihasilkan.

Bahkan, kekompakan juga tidak selalu tampak di dalam kehidupan beragama, sekalipun agama sendiri mengajarkannya. Seringkali masih terdengar antar pemeluk agama dan bahkan antar intern umat beragama saja tidak kompak. Pendirian tempat ibadah di beberapa tempat, masih memunculkan persoalan. Penentuan awal Bulan Ramadhan, dan penetapan hari raya seringkali juga belum kompak. Demikian pula dalam pelaksanaan shalat Id, ada yang memilih di masjid dan ada pula yang melaksanakannya di lapangan. Akhirnya, umat Islam tidak kelihatan kompak.

Kekompakan, selain menjadi indah juga merupakan kunci kemenangan. Bangsa Indonesia ini sudah bersatu, tetapi dalam berbagai hal masih belum kompak. Pileg dan Pilpres yang baru lalu berjalan aman hingga menggambarkan bahwa bangsa ini sudah bersatu. Namun ternyata masih kelihatan belum kompak dalam menerima hasilnya. Bangsa ini juga terkenal memiliki sumber kekayaan yang luar biasa banyaknya, tetapi oleh karena belum kompak, maka masih banyak warga negara yang miskin. Bersatu tetapi belum kompak. Akibatnya, cita-cita menjadi makmur dan sejahtera agaknya sulit diwujudkan, oleh karena belum bisa kompak itu. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up