Seringkali kita mendengar bahwa menjalani hidup ini bagaikan musyafir, yakni orang yang sedang melakukan perjalanan jauh menuju tempat tertentu. Sebagai seorang musyafir, tujuan hidup bukan tatkala sedang di perjalanan itu, atau di dunia ini, melainkan di ujung perjalanan yang dituju. Dalam Islam disebutkan bahwa tujuan hidup yang sebenarnya adalah di akherat kelak, yakni kehidupan kembali setelah manusia mengalami kematian.
Di dalam satu tahun, para musyafir melewati dua belas bulan, di antaranya adalah bulan Ramadhan. Pada saat sedang melewati bulan Ramadhan itu, siapapun diwajibkan menjalani kegiatan yang berbeda dari bulan-bulan lainnya. Di dalam bulan Ramadhan, pada siang hari, para musyafir yang beriman diwajibkan berpuasa, sebagaimana orang-orang terdahulu juga diwajibkan melakukannya.
Pada bulan Ramadhan, selain diwajibkan berpuasa juga dianjurkan memperbanyak shalat malam, beramal shaleh, menjaga hati, pikiran, dan supaya berperilaku sebaik mungkin. Pada bulan Ramadhan yang dikenal sebagai bulan suci atau bulan mulia, orang-orang yang beriman juga diperingatkan agar tidak mengikuti hawa nafsu, seperti marah, membenci orang lain, bermusuhan, dengki, hasut, dan sejenisnya.
Bulan Ramadhan mengatur para musyafir yang sedang melewatinya. Mereka yang melewati Bulan Ramadhan diatur secara khusus, yang hal itu berbeda dari bulan-bulan lainnya. Sebagai pihak yang diatur, tentu harus mengikuti apa saja yang dikehendaki oleh pemiliknya. Tamu yang baik seharusnya mengikuti apa saja yang diperlakukan oleh tuan rumah. Mereka harus bagaikan mayyit, yakni diperintah apa saja harus mengikuti.
Namun biasanya, pada setiap menjelang datang bulan Ramadhan, orang mengucapkan kalimat 'Marhaban Ya Ramadhan'. Ucapan itu seolah-olah menjadikan Ramadhan datang dan harus disambut dengan gembira. Padahal, bukan bulan Ramadhan yang datang, melainkan justru para musyafir itu sendiri yang datang dan menjadi tamunya. Sebagai tamu maka tidak selayaknya, mereka mengatur tuan rumahnya. Yaitu, berbuat seenaknya sendiri, yang mereka sukai, hingga mengganggu kesucian dan kemuliaan bulan itu.
Sebagai seorang tamu atau orang yang diatur oleh Bulan Ramadhan, maka seharusnya menyesuaikan diri, mengikuti kehendak tuan rumahnya. Bulan Ramadhan sebagai tuan rumah menghendaki agar seluruh tamunya, yakni orang yang beriman, agar menjalankan puasa di siang hari, memperbanyak shalat di malam hari, beramal shaleh, banyak bersedekah, menjaga pikiran, hati, dan perbuatannya.
Selain itu, sebagai tamu, harus pandai menyesuaikan diri dengan kehendak tuan rumah. Dengan begitu, pada bulan Ramadhan, sekalipun berada di tahun politik, masyarakat akan menjadi tetap aman. Sebab, tatkala sedang menjadi tamu Ramadhan, yakni bulan mulia dan suci, maka siapa pun tidak boleh berbuat semaunya. Siapa saja harus menjadi tamu terbaik, agar meraih derajad yang paling mulia, yaitu taqwa. Wallahu a'lam.
Artikel pendek ini dimuat di Koran Sindo, Selasa, 1 Juli 2014



