Menyikapi Kedua Pasangan Calon Pemimpin Bangsa Yang Sama Idealnya
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 17 Juli 2014 . in Dosen . 951 views

Pada saat sekarang ini, bangsa Indonesia masih menunggu pemimpin bangsa terpilih di antara dua pasangan yang sama-sama idealnya. Keduanya memiliki kelebihannya masing-masing. Kekurangannya pasti ada, tetapi bangsa ini melihat dari kelebihannya. Memang tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, termasuk calon pemimpinnya.

Sekalipun kedua pasangan itu sudah ideal, tidak akan mungkin dipilih semuanya. Di antara keduanya pasti dipilih salah satu. Namun yang tidak terpilih bukan berarti, ia tidak idea, tidak memiliki kelebihan, atau tidak disenangi. Bukan begitu, tetapi oleh karena rakyat harus memilih salah satu.Maka di antara keduanya ada yang terpilih menjadi presiden dan wakil presiden dan, ada yang tidak.

Disebut sebagai sama-sama ideal, buktinya jelas. Yaitu,di antara lebih dari 240 juta orang warga negara Indonesia, hanya ada dua pasang calon presiden dan wakil presiden. Keduanya telah memenuhi syarat yang ditentukan, dan sama-sama lolos menjadi calon presiden dan wakil presiden. Padahal seseorang, sekedar berhasil menjadi calon itu tidak gampang. Buktinya, semula banyak orang yang diketahui berminat mengajukan diri, namun ternyata tidak berlanjut atau mengundurkan diri, dan akhirnya, dari sekian banyak tinggal kedua pasang calon itu.

Sebagai bukti lain bahwa kedua calon pasangan presiden dan wakil presiden itu sudah cukup ideal, artinya cakap, disenangi, dan didukung oleh rakyat, di anataranya adalah bahwa berdasar hasil hitungan cepat atau quick count, ternyata perolehan suaranya seimbang. Entah benar atau tidak, sesuai atau tidak dengan hasil hitungan manual oleh KPU, ternyata hasil hitungan cepat itu, seimbang. Selisih suara di antara keduanya sedemikian tipis. Bukankah itu sebenarnya menggambarkan bahwa keduanya memang dianggap ideal, disenangi, dan didukung oleh rakyat.

Kedua pasangan calon pemimpin bangsa itu beragama Islam, sehari-hari menjalankan ibadah dan bahkan pernah menunaikan ibadah haji dan umrah, telah terbukti memiliki dedikasi dan integritas kebangsaan yang sama-sama teruji. Keduanya juga memiliki visi dan misi yang jelas di dalam membanguin dan memimpin bangsa ke depan, dekat dengan rakyat, dan mencintai bangsanya. Kekurangan, sebagaimana dikemukakan di muka, pasti ada. Sebab, kekurangan dan lupa adalah ciri khas manusia. Tidak ada seorang manusia pun, yang tidak memiliki kurangan, kecuali Nabi dan Rasul yang maksum atau terjaga kesalahan.

Pada tanggal 22 Juli 2014 yang akan datang, siapa pastinya di antara kedua calon yang mendapatkan dukungan suara terbanyak akan diumumkan oleh KPU sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. Tentu sebagai bangsa yang berketetapan menjalankan demokrasi di dalam bernegara ini, maka tidak ada pilihan lain, harus bersikap konsisten, mendukung keputusan itu. Di anatara kedua calon presiden dan wakil presiden yang ideal itu, harus dipilih salah satu.

Memang, siapapun akan mengerti, bahwa bagi mereka yang pilihannya belum berkesempatan memimpin bangsa ini, akan kecewa, dan begitu pula sebaliknya. Akan tetapi kekecewaan itu tidak boleh mengalahkan kecintaannya terhadap keutuhan, keselamatan, kedamaian bangsa ini secara keseluruhan. Kecintaan terhadap persatuan bangsa dan negara ini harus diposisikan di atas segala-galanya, tidak terkecuali dari keinginannya menjadikan seseorang sebagai presiden dan wakil presiden pilihannya. Kecintaan terhadap bangsa dan negaranya harus diikuti oleh kesediaan berkorban. Salah satu pengorbanan itu adalah menerima keputusan calon presiden dan wakil presiden yang sangat dicintainya belum berhasil.

Bangsa ini tidak perlu dikhawatirkan hanya karena seorang presiden dan wakil presidennya. Memang, posisi pemimpin bangsa itu sangat penting dan strategis. Akan tetapi kemajuan dan kesejahteraan yang akan diraih, bukan semata-mata tergantung dari mereka itu. Masih ada kekuatan lain yang justru lebih menentukan, ialah terutama dari rakyatnya sendiri. Siapapun pemimpinnya, manakala rakyatnya tidak melakukan perubahan, bangsa ini juga tidak akan berubah. Sebaliknya, manakala rakyatnya bersedia melakukan perubahan, maka siapapun pemimpinnya, akan berubah dengan sendirinya. Sesungguhnya rakyat memiliki kekuatan penentu dibandingkan lainnya.

Oleh karena itu, siapapun yang akan ditetapkan menjadi presiden dan wakil presiden oleh KPU pada tanggal 22 Juli 2014 mendatang, persatuan, keutuhan, dan juga kedamaian bangsa ini tidak boleh terganggu. Kedua calon pasangan pemimpin bangsa yang baru saja dipilih lewat pemilihan umum pada tanggal 9 Juli 2104 yang lalu, memang sama-sama ideal. Hanya saja, persoalannya adalah tidak mungkin semuanya dilantik menjadi presiden dan wakil presiden secara bersamaan. Harus dipilih salah satu, siapapun di antara keduanya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up