Saya sebut penyakit itu tergolong sederhana, tetapi sebenarnya membahayakan terhadap siapapun, tidak terkecuali terhadap kehidupan bangsa. Penyakit yang saya maksudkan itu adalah berbohong. Orang yang suka berbohong dan apalagi sudah menjadi kebiasaan hidupnya sehari-hari sebenarnya yang bersangkutan adalah sedang berpenyakit, ialah berpenyakit hati.
Betapa pentingnya mental bisa dipercaya itu, hingga Muhammad saw, sejak sebelum diangkat sebagai utusan Alllah yang terakhir telah dikaruniai sifat jujur. Kejujuran Muhammad saw., diakui oleh penduduk Makkah yang masih jahiliyah ketika itu, tidak terkecuali oleh orang-orang yang tidak menyukainya. Atas kejujurannya itu, hingga Muhammad sejak kecil sudah diberi julukan al Amien, atau sebagai orang yang terpercaya.
Penyakit berbohong bisa menimpa siapapun, dan biasanya bukan dianggap sebagai keadaan jiwa yang membahayakan. Hal itu disebabkan oleh karena, pada saat kapan dan di mana saja, orang bisa melakukannya. Berbohong bisa dilakukan oleh orang yang tidak berpendidikan hingga mereka yang berpendidikan tinggi, laki-laki maupun perempuan, rakyat biasa hingga pejabat tinggi.
Sekalipun disebut sebagai penyakit, bagi yang bersangkutan atau pelakunya sendiri tidak merasakannya sebagai sedang berpenyakit. Orang yang sedang berbohong kadang malah merasa senang oleh karena, kebohongannya tidak diketahui orang lain yang sedang dibohongi. Sebaliknya mereka yang merasakan sakit adalah justru orang lain yang sedang dibohongi. Orang yang sedang dibohongi dan tahu atau sadar bahwa dirinya diperlakukan seperti itu akan kecewa dan bahkan marah berat.
Berbohongt tidak saja membahayakan pelakunya sendiri, tetapi juga terhadap orang lain. Seseorang menjadi bangkrut, sesat, dan atau celaka, disebabkan oleh karena kebohongan. Berbohong menjadi sangat berbahaya manakala dilakukan oleh para ilmuwan, pemuka agama, dan juga pejabat pemerintah. Perbuatan bohong yang dilakukan oleh orang biasa atau orang kecil, dampaknya tidak terlalu luas. Hal itu berbeda manakala kebohongan dilakukan oleh orang tertentu, para ilmuwan, misalnya. Kesimpulan yang didapatkannya akan menyesatkan banyak orang. Bergitu pula, ketika kebohongan itu dilakukan oleh pemimpin masyarakat, pemuka agama, dan pejabat pemerintah. Dampak kebohongannya itu menjadi sesedemikian luas.
Bangsa Indonesia sekarang ini terasa sulit mengalami kemajuan, di antara sebabnya adalah tidak sedikit orang yang tidak bisa dipercaya atau suka berbohong. Terjadinya saling tidak percaya, permusuhan atau konflik, atau banyaknya pejabat diadili dan masuk penjara, hingga dibentuknya Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK adalah oleh karena banyaknya orang yang tidak amanah atau tidak bisa dipercaya itu. Bahkan, pemilihan calon presiden dan wakil presiden yang baru saja selesai dijalankan, tetapi hasilnya masih harus diajukan ke Mahkamah Konstitusi segala, adalah karena masih dianggap oleh sementara pihak, ada sesuatu yang diragukan kejujurannya.
Penyakit berbohong sangat membahayakan terhadap siapapun, baik pada skala pribadi dan apalagi pada skala yang lebih luas, negara misalnya. Sesorang yang sudah kehilangan kepercayaan atau tidak dipercaya lagi, maka seolah-olah keberadaannya tidak ada gunanya lagi. Melamar pekerjaan untuk menjadi apa saja tidak akan diterima manakala yang bersangkutan dikenal sebagai pembohong atau tidak memiliki trust. Sekalipun seseorang telah memiliki sekian banyak gelar akademik, manakala yang bersangkutan dikenal tidak jujur atau sebagai orang yang tidak bisa dipercaya, maka gelarnya itu tidak akan ada gunanya.
Begitu pula para pemimpin atau pejabat pemerintah, manakala sudah tidak bisa dipercaya maka akan ditinggalkan oleh rakyatnya. Betapa pentingnya kepercayaan atau trust itu, hingga ada sebuah peringatan yang mengatakan bahwa, sebuah bangsa tidak akan runtuh hanya oleh karena krisis ekonomi, politik, sosial atau sejenisnya, melainkan keruntuhan itu akan lebih cepat disebabkan oleh berbagai kebohongan. Maka nasehatnya adalah : 'jangan berbohong'. Tidak saja negara, tetapi juga keluarga, organisasi, perkumpulan,dan sejenisnya akan bubar atau hancur oleh karena kebohongan-kebohongan.
Oleh karena itu, musuh atau penyakit suatu bangsa yang sebenarnya, adalah justru terletak pada diri orang-orangnya, rakyatnya, dan para pemimpinnya. Manakala mereka itu suka berbohong maka bangsa atau negara itu akan runtuh. Betapapun besarnya kekuatan yang dimiliki, akan tetap tidak mampu bertahan hidup manakala rakyat dan pejabat atau para pemimpinnya tidak bisa dipercaya. Namun sayangnya, penyakit itu seringkali dianggap sederhana. Padahal kenyataannya sangat membahayakan, karena selalu merusak semua sendi penyangganya. Wallahu a'lam.



