Tatkala berbicara pendidikan, maka salah satu yang terbayang adalah murid. Para murid itulah yang akan dididik, diusahaan menjadi lebih pintar, lebih cerdas, lebih dewasa, lebih berkarakter, dan lebih siap menghadapi masa depannya. Atas dasar pikiran itu, maka seolah-olah para guru atau pendidik sendiri sudah tidak perlu dididik lagi. Mereka merasa sudah dewasa, dan sudah mampu mendidik orang lain.
Padahal, pendidikan itu seharusnya dijalani sepanjang hayat. Minal mahdi ilallahdi, atau dari ayunan hingga liang lahat. Sebagai makhluk yang terbatas, pelupa, memiliki ilmu tetapi sedikit dan terbatas, manusia dianjurkan untuk selalu belajar hingga tidak mengenal henti. Jangankan manusia biasa, seorang nabi pun, ------Nabi Muhammad, menerima wahyu sepanjang hidupnya, sejak beliau diangkat sebagai rasul hingga menjelang wafat.
Mendidik orang lain dirasakan tidak mudah, akan tetapi sebenarnya akan lebih sulit lagi adalah mendidik diri sendiri. Seorang guru berhasil mendidik orang lain, tetapi belum tentu sanggup dan berhasil tatkala harus mendidik dirinya sendiri. Lihat saja misalnya, sekedar mau membiasakan membaca al Qur'an pada setiap hari, ternyata niat baiknya itu tidak selalu berhasil diwujudkan.
Contoh lain, seseorang sedemikian iri dengan para tetangganya, bahwa pada setiap pagi bersama isteri dan anak-anaknya datang ke masjid memenuhi panggilan adzan untuk sholat subuh berjamaah. Mereka menyadari bahwa kebiasaan tetangganya itu sangat baik, sehingga mau menirunya. Akan tetapi bertahun-tahun, keinginannya itu belum terlaksana. Ada saja alasan yang dicari-cari, yang dirasakan masuk akal, misalnya kelelahan karena bekerja hingga malam, jarak antara rumah mereka dengan masjid terlalu jauh, tidak mendengar suara adzan, dan seterusnya.
Kebiasaan lain yang lebih sederhana yang diinginkan, tetapi juga gagal dijalankan misalnya, akan selalu mengucap salam kepada teman-temannya tatkala bertemu, berbuat jujur dan adil, tidak sombong, selalu mengatakan apa adanya, berkeinginan selalu mengeluarkan shaladqoh, berbaik kepada semua orang termasuk apalagi kepada para bawahannya, ternyata keinginan baiknya itu belum terlaksana. Mereka sadar bahwa semua keinginannya itu baik dan terpuji, tetapi ternyata belum mampu dijalani.
Sama halnya pada akhir-akhir ini, banyak orang berbicara tentang betapa pentingnya pendidikan karakter. Seolah-olah orang lain yang perlu dididik agar karakternya menjadi semakin bagus dan kuat. Maka, dibuatlah rasional dan atau alasan-alasan tentang betapa pentingnya jenis pendidikan itu. Semua orang yang membaca dan mendengarkan konsepnya, segera menyetujui, bahwa pendidikan karakter adalah penting dan mendesak untuk dilaksanakan. Penyusun konsep pendidikan karakter itu merasa bahwa kegiatan itu adalah untuk orang lain, yaitu para siswa, mahasiswa atau generasi muda di sekolah, dan bukan untuk dirinya sendiri. Padahal, pendidikan karakter itu sebenarnya adalah penting untuk guru, murid, pejabat, pegawai, dan masyarakat semuanya.
Semua orang masih membutuhkan pendidikan. Bulan puasa sendiri juga disebut sebagai syahrut tarbiyah, yaitu meliputi tarbiyah qolbiyah, tarbiyah fikriyah, dan tarbiyah jasadiyah. Pada bulan puasa, orang-orang yang beriman diwajibkan untuk berpuasa. Pada siang hari dilarang untuk makan dan minum, berhubungan suami isteri, dan menjauh dari semua yang membatalkan puasanya. Sedangkan pada malam hari, mereka disunnahkan untuk qiyamul laili, bayak membaca al Qur'an, dan lain-lain.
Pada bulan puasa, orang-orang yang beriman dianjurkan mengeluarkan zakat, infaq dan shadaqoh, melatih kesabaran, keikhlasan, menyambung tali sillaturahmi, menjauhkan diri dari perbuatan dosa, seperti iri hati atau hasut, dengki, mencela dan merendahkan orang, sombong dan lain-lain. Semua itu adalah agar kelak setelah selesai puasa sebulan penuh, seseorang meraih derajad taqwa.
Oleh karena itu, bulan puasa sebenarnya adalah bulan pendidikan, dan lebih-lebih adalah mendidik diri sendiri. Rupanya, entah disadari atau tidak, pada bulan puasa, masjid-masjid menjadi lebih meningkat jumlah jama'ahnya, orang bershadaqoh lebih dari biasanya, tempat-tempat hiburan dan maksiat berusaha ditutup, dan seterusnya. Akhirnya tampak bahwa bulan puasa, pada ukuran-ukuran tertentu, menjadi wahana pendidikan bagi orang-orang yang berpuasa. Manakala lulus, maka mereka akan memperoleh derajad mulia, ialah taqwa. Wallahu a'lam.



