Sekalipun Gila Ternyata Mampu Bersyukur
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Senin, 7 Juli 2014 . in Dosen . 2362 views

Beberapa minggu sebelum masuk bulan Ramadhan, ketika sedang masuk masjid dalam keadaan tergesa-gesa, saya melihat seorang tua yang bertiduran di teras persis di pojok tempat ibadah yang terletak di sebelah rumah. Orang tersebut saya kenali sebagai orang gila. Umurnya sudah cukup lanjut, saya menduga lebih dari 60 tahun.

Oleh karena pada saat itu, agak tergesa-gesa, takut terlambat, saya langsung masuk masjid dan mengikuti imam yang hampir selesai membaca surat al fatekhah. Pada saat itu, saya tidak ingin terlalu terlambat, sekalipun sebenarnya sudah terlambat. Akan tetapi, jujur saya akui, shalat saya tidak khusu'. Sekalipun di dalam shalat, pikiran saya masih tertuju pada orang gila yang tiduran di pojok masjid.

Di tengah-tengah waktu shalat, saya berusaha berkonsentrasi, atau berusaha khusu', ternyata ternyata tetap gagal. Sekalipun begitu, saya masih meneruskan shalat, mengikuti gerakan dan bacaan imam jama'ah. Dalam shalat berjama'ah, pikir saya, sekalipun tidak khusu' atau tidak sempurna, tokh masih disempurnakan oleh imam dan jama'ah lainnya. Itulah keuntungan dari shalat berjama'ah, manakala terdapat kekurangan, akan tersempurnakan oleh yang lain, karena dijalankan secara bersama-sama itu.

Setelah selesai sahalat, saya segera meninggalkan masjid terlebih dahulu. Saya tidak mengikuti dzikir bersama-sama yang dipimpin oleh imam shalat sebagaimana biasanya. Sesampai di rumah, sarung yang saya gunakan untuk shalat, saya lepas, kemudian berganti sarung yang lain. Saya kembali lagi ke masjid dan menyerahkan kepada orang gila sarung yang baru saja saya pakai shalat isya' agar dipakai. Pada saat itu, keadaan sedang gerimis, sehingga saya yakin orang gila itu kedinginan dan sangat membutuhkan kain untuk menutupi badannya.

Pada saat orang gila menerima sarung dimaksud, saya merasa senang. Ia menerimanya sambil tersenyum. Segera, saya meninggalkan tempat itu, sebab orang gila, menurut hemat saya, tidak perlu diajak bicara. Bagi saya, yang terpenting, orang gila yang sedang berada di pojok masjid dan hanya berpakain seadanya itu tidak kedinginan lagi.

Sesampai di rumah, saya masih kepikiran lagi, bahwa jangan-jangan, wanita tua yang dalam kondisi gila itu, belum makan. Maka, segera saya kembali lagi dengan membawa sepotong roti dan sebotol kemasan air putih. Makanan dan minuman tersebut, saya letakkan di dekat ia tidur, dan ternyata sarung yang baru saja saya berikan telah digunakan menutupi badannya. Sesekali memang, saya mengetahui orang gila itu, sejak beberapa lama, sering lewat di depan rumah.

Esok paginya, saya lihat orang gila tersebut sudah tidak berada di pojok masjid lagi. Ia pergi entah ke mana. Sarung pemberian saya dibawa, dan demikian pula sebotol kemasan air putih yang juga saya berikan kepadanya. Anehnya, sepotong roti yang saya berikan, ternyata tidak dimakan dan ditinggal di tempat semula.

Hal yang mengesankan, beberapa hari kemudian, saya melihat orang gila tersebut berada di pinggir jalan dengan mengenakan sarung merk BHS berwarna coklat pemberian saya. Anehnya, ketika mengetahui saya lewat di jalan itu, -------- karena kaca mobil terbuka, ia melihat saya dan tersenyum. Senyuman orang gila itu saya maknai sebagai tanda syukurnya. Pada saat itu pula, kemudian saya teringat ayat al Qur'an yang berbunyi :' Waqoliilun min

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up