Ibadah puasa tidak saja diwajibkan kepada umat Islam, melainkan juga kepada umat manusia terdahulu. Secara jelas disebutkan bahwa, dengan berpuasa dimaksudkan agar orang-orang yang beriman menjadi taqwa, adalah sebuah derajad tertinggi dalam kehidupan umat manusia. Oleh karena itu, jenis ibadah itu sebenarnya merupakan cara universal untuk meningkatkan kualitas manusia.
Pemahaman tersebut mengingatkan kepada siapapun, bahwa manusia tidak cukup sekedar dilihat dari aspek-aspek yang bersifat fisiknya. Terpenuhinya kebutuhan hidup sehari-hari, seperti makan, pakaian, perumahan, kesehatan, dan seterusnya, tidak akan berhasil mengantarkan pada kesejahteraan yang sebenarnya, apalagi berderajat mulia. Selain itu, ada kebutuhan yang lebih mendasar, yaitu aspek kemanusiaan yang paling dalam yaitu akal, qolb, hati, atau jiwanya.
Berbicara tentang manusia, selalu menyebut dua aspek, yaitu aspek lahir dan aspek batin, atau aspek jasmani dan aspek rokhani., aspek fisik dan aspek non fisik. Kedua aspek tersebut harus dipenuhi kebutuhannya sekaligus dan tidak boleh diabaikan salah satunya. Pemenuhan aspek fisik yang tidak diikuti oleh aspek ruhani, maka sama halnya akan memperlakukan manusia secara tidak sempurna. Atau, memenuhi kebutuhan manusia yang hanya dari aspek fisiknya, maka sama halnya akan menurunkan harkat dan martabat kemanusiaannya.
Demikian pula di dalam mengembangkan kualitas manusia, maka tidak cukup hanya memperhatikan aspek lahir, tanpa mengikut-sertakan aspek-aspek batinnya. Dari diwajibkannya menjalankan puasa, sebenarnya tampak bahwa, di dalam membangun kualitas manusia, justru kebutuhan yang bersifat lahir harus dikurangi. Agar seseorang menjadi taqwa, di bulan Ramadhan, orang beriman diwajibkan berpuasa, artinya meninggalkan kebiasaan makan, minum, dan berhubungan suami isteri pada siang hari. Di luar bulan Ramadhan, siapapun dibolehkan secara leluasa memenuhi kebutuhan fisiknya, maka sebaliknya, dibatasi pada bulan itu.
Maka artinya, derajad taqwa justru diraih oleh orang-orang yang mampu membatasi dirinya. Pembatasan itu hingga yang bersifat fisik. Derajad mulia tidak akan diterima oleh orang yang berlebih-lebihan dan atau tanpa bersedia membatasi dirinya. Maka adalah keliru manakala ada anggapan bahwa, kehebatan seseorang akan ditentukan dari keberhasilannya memperoleh dan menikmati apa saja yang bersifat fisik. Kehebatan dan apalagi kemuliaan ternyata justru diperoleh tatkala seseorang berani dan berhasil mengurangi kenikmatan yang bersifat bendawi.
Baru saja bangsa ini menyelenggarakan kampanye pemilihan presiden dan wakil presiden. Namun rupanya, nilai-niai kemanusiaan secara utuh sebagaimana dikemukakan di muka, -------sekalipun berada di bulan puasa, masih luput dari perbincangan. Semua kandidat presiden dan wakil presiden memaknai kesejahteraan baru dari aspek lahir. Agar menjadi sejahtera, maka kebutuhan hidupnya harus terpenuhi. Sementara itu, yang dimaksudkan dengan kebutuhan hidup hanya bersifat fisik, yaitu ketersediaan makanan, pakaian, perumahan, dan sejenisnya.
Dalam berkampanye, tidak terdengar dari capres dan cawapres akan melakukan usaha-usaha untuk mempertajam aspek yang bersifat batin, ruhani, atau jiwanya. Rupanya belum dipikirkan bagaimana memenuhi kebutuhan yang bersifat ruhani itu, misalnya mendekat diri kepada Tuhan, berpikiran dan berhati jernih, menghormati dan menjalin silaturrakhmi antar sesama, saling menghargai dan menyayangi, tolong menolong, dan seterusnya. Seolah-olah aspek-aspek terakhir ini boleh diabaikan. Padahal mengabaikan aspek-aspek yang bersifat batin itu, maka kesejahteraan yang sebenarnya tidak akan terwujud.
Anggapan bahwa, tatkala manusia sudah tercukupi kebutuhan fisiknya, maka kesejahteraannya tercapai adalah keliru. Betapa banyak dalam kehidupan ini, orang kaya, berpangkat tinggi, berpengaruh luas, tetapi oleh karena miskin ruhani, berakibat masih selalu merasa menderita. Sifat tamak, terlalu mencintai harta, takabur, bakhil, dan apalagi sifat dengki, hasut, dan sejenisnya, maka seberapa pun banyaknya harta yang dimiliki, mereka tidak merasa puas. Mereka itu akan merasa tetap miskin sekalipun di tengah-tengah kekayaannya yang melimpah.
Oleh karena itu, manusia harus dilihat secara utuh. Puasa ini mengingatkan hal itu. Bahwa manusia tidak cukup dilihat dari aspek fisiknya. Bahkan sebagaimana puasa, pemenuhan aspek fisik justru harus dikurangi, dibatasi, atau dikendalikan. Orang-orang yang mampu mengendalikan dirinya justru akan meraih kemuliaan yang sebenarnya. Sehingga seharusnya, di dalam membangun bangsa ini, sebagaimana pesan puasa, harus memperhatikan dua aspek sekaligus, ialah jasmani dan ruhani. Sekedar memperhatikan aspek fisik, dengan mencukupi kebutuhan pangan, pakaian, tempat tinggal, dan sejenisnya, tanpa memperhatikan aspek ruhani, justru akan menurunkan derajad kemanusiaan. Tuhan dengan mewajibkan berpuasa, adalah mengingatkan tentang cara membangun kualitas manusia yang sebenarnya. Wallahu a'lam.



