Hari Rabu, tanggal 9 Juli 2014 kemarin, sebagaimana rakyat Indonesia lainnya, saya datang ke tempat pemungutan suara untuk memilih calon presiden dan wakil presiden. Proses pemilihan itu tidak sulit, oleh karena pilihannya hanya dua. Hal itu tidak sama dengan waktu memilih calon anggota legislatif, terasa ribet. Harus memilih partai, orang, dan lagi pula jumlah pilihannya cukup banyak.
Oleh karena mudahnya itu, maka waktu yang digunakan juga cukup singkat. Di tempat pemilihan suara itu, para pemilih tidak perlu antri. Para pemilih datang, nyerahkan surat undangan, selanjutnya diberi kartu pemilihan, kemudian yang bersangkutan langsung ke tempat pencoblosan, dan beberapa menit saja selesai, lalu mereka pulang. Itulah yang menyebabkan, tempat pemilihan menjadi sepi.
Suasana di kampung seperti pada hari-hari biasanya. Sama sekali tidak ada hiruk pikuk, saling mempengaruhi antar tetangga, dan semacamnya. Memang, pilihan di antara warga kampung tidak seragam. Di antara mereka ada yang akan memilih Pak Prabowo dan juga ada sebagian lainnya yang akan memilih Pak Jokowi. Tentu, pilihan yang berbeda itu atas argumentasinya masing-masing. Namun, perbedaan itu tidak sampai mempengaruhi sillaturrahmi. Mereka telah menyadari, bahwa semua warga negara diberi kebebasan untuk memilih sesuai dengan kesenangannya masing-masing.
Saya tidak melakukan survey, tetapi dari mendengarkan beberapa orang di sekitar rumah, terasa bahwa antara kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden mendapat dukungan seimbang. Kebetulan, di sebelah rumah terdapat masjid, sehingga pada setiap hari bertemu jama'ah. Sekalipun sehari-hari berkumpul dengan jama'ah masjid, kawatir dianggap memihak, dan juga menjaga perasaan masing-masing, saya tidak pernah berusaha mempengaruhi mereka. Keutuhan jama'ah masjid harus dinomor-satukan, tidak boleh terganggu oleh hiruk pikuk kegiatan Pileg atau Pilpres.
Dalam perjalanan pulang dari coblosan, melihat masing-masing pendukung capres dan cawapres ternyata seimbang, saya merasakan ada sesuatu yang mengkhawatirkan. Keseimbangan jumlah masing-masing pendukung, manakala tidak dijaga dengan baik, maka berpeluang terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Membayangkan keadaan itu, saya teringat nasehat Ronggo Warsito. Beliau mengatakan sebagai berikut : ' glurug tanpo bolo, sekti tanpo aji-aji, menang tanpo ngasorake, sugih tanpo bondo, kayungyun dening pepoyaning kautaman'.
Apa yang dikatakan oleh Ronggo Warsito tersebut adalah sangat tepat di dalam membangun kebersamaan. Namun di antaranya itu ada yang sangat relevan dengan saat usai coblosan itu ialah kalimat : 'menang tanpo ngasorake', yaitu bahwa untuk memperoleh keutamaan bagi semua, maka siapapun yang menang harus mampu menata hatinya, agar tidak merendahkan siapapun.
Mereka yang menang, justru harus berusaha tidak merendahkan mereka yang pilihannya kalah. Mereka yang kalah, tentu kecewa. Oleh sebab itu, tidak boleh ditambah lagi kekecewaannya itu. Manakala suasana seperti itu berhasil dikembangkan, siapapun yang terpilih menjadi presiden dan wakil presiden, maka benar-benar akan melahirkan kebaikan yang sempurna. Wallahu a'lam.



