Beban Berat Mendapatkan Fitnah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 20 Agustus 2014 . in Dosen . 103640 views

Al Qur'an mengatakan bahwa fitnah adalah lebih kejam dari pembunuhan. Statemen tersebut pasti benar. Sebab, ayat al Qur'an tidak ada sedikitpun yang perlu diragukan kebenarannya. Hanya saja tidak semua orang mampu menghayatinya, kecuali bagi orang-orang yang terkena fitnah itu sendiri. Orang yang dibunuh menangggung beban berat, akan tetapi jauh berat lagi adalah tatkala merasakan sedang fitnah.

Tatkala pembunuhan itu terjadi, sebelum yang bersangkutan mati, mungkin merasakan sakit yang luar biasa. Akan tetapi tatkala sudah mati, maka rasa sakit itu sudah tidak dirasakan lagi, karena orang mati tidak merasakan apa-apa. Sedangkan yang tersisa adalah sakit hati yang dialami oleh sanak keluarganya. Dan, beberapa waktu kemudian, kesedihan itu akan hilang dengan sendirinya, karena terlupakan.

Berbeda dengan fitnah, mereka yang difitnah tidak selalu mati. Dalam keadaan hidup mereka akan merasakan sakit hati yang luar biasa. Bisa jadi yang bersangkutan akan membela diri atau juga membalas, tetapi belum tentu mampu melakukannya. Dalam keadaan seperti itu, maka perasaan sakit akan dialami secara berkepanjangan atau dalam waktu yang amat lama. Bahkan bisa jadi, orang yang difitnah akan menerima hukuman, baik dari pihak penegak hukum maupun hukuman secara sosial.

Sebenarnya, siapapun akan menerima hukuman apapun asalkan diberikan secara adil dan yang bersangkutan benar-benar merasa dan menyadari atas kesalahannya. Nurani semua orang akan mengatakan bahwa, siapapun yang salah harus dihukum sesuai dengan tingkat kesalahannya. Akan tetapi manakala seseorang hanya dianggap salah, dan apalagi kesalahan yang dituduhkan itu hanya sebatas fitnah belaka, maka untuk menjadi ikhlas dan sabar atas tuduhannya itu akan sangat berat. Sebaliknya, rasa sakit akan diterima dalam waktu yang lama.

Itulah sebabnya, al Qur'an hingga mengatakan bahwa, fitnah lebih kejam dari sekedar pembunuhan. Bahkan, -------bisa jadi, penderitaan akibat fitnah tidak saja dirasakan oleh seorang atau sekelompok orang, melainkan kalangan yang lebih luas. Fitnah bisa mengakibatkan konflik dan bahkan perang secara terbuka. Namun anehnya, tidak jarang orang begitu mudah memfitnah orang lain.

Beberapa hari yang lalu, saya bertemu teman yang merasa difitnah. Ia tidak merasa melakukan sesuatu yang dituduhkan oleh pihak penegak hukum. Akan tetapi, apa boleh buat, ia tidak kuasa berbuat apa-apa, kecuali menerima tuduhan itu. Berkali-kali, ia mengatakan bahwa tuduhan itu tidak benar. Rasa sakit hati yang begitu mendalam dirasakan olehnya. Dalam suasana seperti itu, ia merasa telah memperoleh hikmah. Atas tuduhan itu, ia baru bisa menghayati tentang statemen al Qur'an bahwa, fitnah jauh lebih berat dirasakan dari pembunuhan.

Orang yang merasa difitnah tersebut mengatakan bahwa, umpama dia langsung dibunuh maka tidak akan menanggung beban berat seperti yang dirasakan saat itu. Ia merasa sakit yang amat mendalam dalam waktu lama. Atas fitnah itu, ia merasa didholimi oleh orang lain. Beban berat itu dirasakan melebihi dibunuh. Ia berulang-ulang menyatakan benar, bahwa fitnah lebih berat dibanding pembunuhan. Sayangnya, kedua alternatif dimaksud tidak mungkin bisa dipilih, dan tentu, juga sama sekali tidak boleh dilakukan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up