Berdialog Dengan Pengikut Islam Garis Keras
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 13 Agustus 2014 . in Dosen . 13373 views

Secara kebetulan saja, saya mempunyai kenalan pengikut Islam garis keras. Selama ini mungkin juga, ia tidak merasa dikategorikan sebagai pengikut Islam garis keras sebagaimana yang dimaksudkan itu. Identitas itu melekat pada dirinya, selain oleh karena pandangan-pandangannya, juga karena ia pernah belajar di Pakistan beberapa tahun, hingga memperoleh gelar sarjana. Namun, karena tidak sempat kembali ke Paskistan, gelar Doktornya diperoleh dari Perguruan Tinggi Islam di Indonesia.

Setengah menggoda, setiap ketemu atau berkomunikasi melalui tilpun, saya memanggil dia dengan sebutan fondamentalis. Dengan sebutan atau panggilan itu, dia tidak tersinggung atau marah. Rupanya dia tahu bahwa saya menyebutnya seperti itu sekedar menggoda saja. Sebagai bukti tidak tersinggung, dia juga tetap saja berkirim sms atau bahkan juga tilpun, menanyakan kesehatan atau informasi lain yang perlu.

Kenalan saya ini, manakala diperhatikan secara saksama, nuansa fondamentalismenya memang sangat terasa dan bahkan kelihatan sekali. Islam digambarkan sebagai ajaran yang harus dilakukan dengan sempurna. Ia menyebutnya dengan kata kaffah. Ber-Islam tidak boleh setengah-setengah. Dakwah yang dilakukan selalu mengajak orang untuk menjalankan Islam dengan sebenarnya. Sesekali, saya juga diingatkan untuk konsisten dan berusaha menjalankan Islam secara kaffah itu.

Terkait dengan bernegara, ia juga mengidolakan pemerintahan yang Islami. Dengan berdaulah Islamiyah dan semua penguasanya beragama Islam, maka hukum Islam akan berhasil ditegakkan. Tanpa pemerintahan Islam, maka hukum Islam tidak akan bisa diimplementasikan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, menurut pandangannya, memperjuangkan daulah Islamiyah sebagai tugas fondamental yang harus dilaksanakan.

Dalam berbagai pembicaraan, konsep daulah Islamiyah yang dinyatakan sebagai bentuk ideal itu juga belum bisa digambarkan secara jelas. Ia hanya menyebut sebagaimana pemerintahan nabi tatkala memimpin masyarakat Madinah. Kepemimpinan nabi dianggap berhasil dan oleh karena itu harus diikuti sepenuhnya. Masyarakat Madinah digambarkan sebagai masyarakat yang dipenuhi oleh suasana keadilan, kemakmuran, kedamaian, kejujuran, kebersamaan, dan nilai-nilai mulia lainnya.

Tatkala ia menggambarkan masyarakat ideal itu, sesekali saya menggodanya, dengan mengatakan bahwa, bukankah sebenarnya pemerintah Indonesia selama ini juga memperjuangkan nilai-nilai masyarakat madinah itu. Bahkan, sekalipun bangsa Indonesia tidak secara ekplisit menyatakan sebagai negara Islam, tetapi nilai-nilai Islam diajarkan kepada putra-putri masyarakat muslim di lembaga pendidikan, mulai dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi atas biaya dari negara.

Saya juga pernah menyampaikan bahwa, lewat APBN, pada setiap tahun, negara membiayai terselenggaranya pelajaran tauhid, fiqh, tafsir, hadits, akhlaq, tarekh dan lain-lain. Para guru agama atau dosen agama, bahkan perguruan tinggi agama negeri yang tidak sedikit jumlahnya dibiyai oleh pemerintah. Umpama saja para guru atau dosen tafsir , hadits, fiqh, akhlak, yang dibayar oleh pemerintah itu melaksanakan tugasnya dengan sungguh-sungguh, sekalipun tanpa berbicara daulah Islamiyah, maka bukankah nilai-nilai Islam akan terimplementasikan dengan sendirinya di negeri ini.

Selan itu, saya pernah menyampaikan pendapat bahwa, bukankah dengan kekerasan, Islam justru akan dijauhi oleh banyak orang yang belum memahaminya. Padahal, lewat sejarah diketahui bahwa, Islam berhasil diperkenalkan di Indonesia justru lewat pendekatan yang lembut dan damai. Sebaliknya, dengan pendekatan kekerasan terbukti menjadikan banyak orang memberi citra yang kurang menguntungkan terhadap Islam. Bahkan, bukankah Islam itu sendiri mengajarkan tentang kasih sayang, menghargai orang, dan juga tidak boleh memaksa dalam beragama.

Sekalipun sudah berdiskusi sekian kali, ternyata tidak segera berhasil membuat orang yang saya maksud berubah pandangannya. Apa yang saya sampaikan, olehnya diakui tidak salah, tetapi dia mengaku tidak tega tatkala melihat berbagai jenis kemungkaran terjadi di mana-mana. Masih banyak rakyat yang miskin dan sengsara seperti ini, menurut pendapatnya, adalah disebabkan oleh karena, Islam tidak dijalankan sepenuhnya. Lewat berkali-kali dialog itu, akhirnya saya berkesimpulan bahwa, mengubah pandangan orang ternyata tidak mudah, setidaknya harus memerlukan waktu lama. Pekerjaan itu harus dilakukan dengan sabar, dan kekerasan seharusnya tidak boleh diimbangi dengan kekerasan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up