Bersilaturrakhiem Dengan Mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Rabu, 6 Agustus 2014 . in Dosen . 913 views

Pada hari Selasa, tanggal 5 Agustus 2014, saya diundang oleh Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk memberi ceramah pada acara halal bi halal di kampus yang sedang dipimpinnya. Belajar dari pengalaman beberapa tahun lalu, ketika diundang oleh Rektor UIN Yogyakarta pada kegiatan serupa, saya datang hampir terlambat oleh karena penundaan pesawat. Menghindari keterlambatan seperti itu, maka saya berusaha datang pada hari sebelumnya. Malamnya, saya gunakan untuk bersiullaturrakhiem ke kediaman Prof.Dr. Syafi'i Maarif, mantan Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang berkediaman di Yogyakarta.

Sudah lama saya tidak bersilaturakhiem ke rumah salah seoprang tokoh Muhammadiyah yang sangat berpengaruh itu. Sekalipun tanpa janji terlebih dahulu, ternyata beliau ada di kediaman dan saya diterima dengan baik. Saya merasa akrab, oleh karena beliau dulu sering memberi kuliah umum dan kegiatan lainnya di Universitas Muhammadiyah Malang, sedangkan saya ketika itu sebagai Wakil rektor I sehingga harus selalu mendampingi. Selain itu, saya juga pernah bersama beliau, dan bertiga dengan Prof. Amien Rais, pernah berkunjung ke Yordan dan Irak selama beberapa minggu.

Prof. Syafi'i Maarif, sekalipun usianya sudah di atas 70 tahun masih kelihatan sehat. Demikian pula, pikiran-pikiran cerdas dan kritis masih mewarnai pembicaraan di dalam sillatiurrakhiem itu. Sebagaimana biasa, guru besar sejarah dan tokoh Muhamamadiyah ini lebih suka diajak berbicara tentang keumatan. Beliau selalu menggambarkan tentang Islam sedemikian ideal, tetapi tatkala sudah menjadi realita di dalam kehidupan sehari-hari, dinilai olehnya belum terlalu menggembirakan. Umat disebut masih perlu didorong untuk lebih maju, baik dari aspek ekonomi, sosial, politik, pendidikan, pengembangan ilmu pengetahuan, dan lain-lain.

Pembicaraan yang saya rasakan menarik dari tokoh senior ini adalah terkait persatuan umat. Umat Islam di mana-mana, jangankan berhasil dalam mengembangkan ekonomi, politik, ilmu pengetahuan, dan juga lain-lain, sekedar bersatu saja masih berantakan. Konflik di mana-mana masih mewarnai kehidupan kaum muslimin. Umat terpecah belah dalam berbagai madzhab, aliran, golongan, organiosasi, dan lain-lain. Keadaan seperti itu, masih ditambah lagi dengan munculnya beraneka ragam paham baru, mulai dari yang paling keras hingga mereka yang menyebut dirinya sangat toleran. Semuanya menyebut bahwa kelompoknya sebagai Islam yang benar.

Masih menurut penilaian Prof. Syafi'i Maarif, bahwa menyatukan umat yang bercerai berai itu bukan perkara mudah. Salah satu sebabnya adalah, bahwa masing-masing madzhab, golongan, atau kelompok terlalu mengedepankan egonya, yakni merasa paling benar. Dialog untuk berkompromi seakan-akan sudah sulit diraih. Masing-masing merasa berpegang pada kebenaran yang diperolehnya lewat sejarah dan logika yang dibangun sejak lama. Sikap mengalah di antara mereka terasa tidak mungkin dibangun. Masing-masing kelompok berjuang harus menang. Kemenengan bersama itulah rupanya yang tidak mudah digambarkan tatkala menyangkut keyakinan.

Umpama umat Islam bersatu, setidaknya di negeri ini, akan menjadi kekuatan yang luar biasa. Namun sayangnya, persatuan umat masih sekedar menjadi cita-cita, doktrin, atau ajaran yang terlalu ideal, tetapi sulit diwujudkan. Berpecah belah sekalipun tidak pernah diajarkan oleh siapapun, semuanya sudah sangat pandai menjalankannya. Padahal, perpecahan hanya membuahkan kekalahan dan bahkan porak poranda. Tetapi itulah pilihan yang mereka ambil bersama-sama.

Satu hal lagi yang dikritisi secara tajam oleh pensiunan Guru Besar Universitas Negeri yogyakarta, ialah tentang kemampuan sementara pemimpin umat di dalam membangun jaringan komunikasi. Pergaulan mereka tidak selalu luas. Bahkan, hanya sebatas pada kelompoknya sendiri. Di tengah-tengah umatnya sendiri, mereka sudah disebut sangat populer, namun sebaliknya, tidak terlalu dikenal oleh umat lainnya. Keterbatasan pergaulan sementara pemimpin umat itulah, --------menurut Prof.Dr. Syafi'i Maarif, menjadi sebab tambahan, umat yang dipimpinnya tidak mudah mengalami kemajuan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up