Bertemu Orang-Orang Berhati Bersih
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Minggu, 24 Agustus 2014 . in Dosen . 1319 views

Tujuan utama perjalanan saya ke luar negeri antara tanggal 21 sampai 27 Agustus 2014, adalah ke Khartoum, Sudan. Namun, oleh karena waktu dalam perjalanan itu cukup longgar, saya singgah di Makkah selama dua hari untuk umrah dan shalat jum'at di Masjidil Haram. Setelah itu, pada tanggal 24 Agustus 2014, dari Jeddah, saya ke Khartoum, Sudan.

Sudah beberapa kali, saya ke Sudan untuk menjalin kerjasama dengan beberapa perguruan tinggi Islam di negara itu. Dalam sejarahnya, perubahan STAIN Malang menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tidak lepas dari hasil kerjasama itu. Lewat kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Sudan, STAIN Malang diubah menjadi Universitas Islam Indonesia Sudan (UIIS). Namun, oleh karena sesuatu dan lain hal, universitas ini diubah lagi menjadi UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sebagaimana sekarang ini.

Kedatangan saya ke Sudan kali ini, adalah untuk mengikuti rombongan dari kementerian agama yang akan melakukan evaluasi kerjasama di bidang pendidikan Islam antar dua negara yang dijalankan selama ini. Saya diajak ikut serta dalam rombongan itu atas pertimbangan bahwa, saya dianggap mengetahui sejarah kerjasama antar dua negara itu sejak awal hingga berjalan sampai lebih dari 12 tahun ini.

Sejak tiba di Airport Jeddah kemudian ke Makkah, kembali lagi ke Jeddah, dan bahkan sampai di lapangan terbang Khartoum, saya menemukan orang yang berhati bersih. Penilaian itu saya rasakan atas keikhlasan dan ketulusan mereka dalam membantu dan menjalin tali sillaturrakhiem. Sejak di Makkah, saya bertemu dua orang yang sangat baik, yakni Pak Abdul Kholiq dan Pak Mudzakkir. Kedua beliau inilah yang menjemput kedatangan saya di airport Jeddah, mencarikan hotel, dan mengantarkan kembali ke Jeddah setelah menginap selama dua hari untuk umrah, iktikaf di masjid, dan shalat Jum'at.

Nyampai di Airport King Abdul Aziz di Jeddah, lagi-lagi saya dipertemukan oleh Allah, orang yang sangat baik hatinya, yaitu ketika sedang check in dalam perjalanan menuju ke Khortoum. Petugas yang melayani di bandara itu, agaknya aneh. Dia menanyakan tentang agama segala. Tatkala dijawab, bahwa kami bertiga beragama Islam, dia meminta untuk membaca al Qur'an yang ada di samping tempat duduknya. Mengetahui bahwa kami bisa membaca al Qur'an, dia tampak sangat senang, dan langsung memberikan muskhab itu kepada saya.

Mungkin begitu gembira, karena tamu yang dilayani bisa membaca al Qur'an, petugas airport itu masih menanyakan tentang air zam-zam yang biasanya dibawa oleh orang-orang yang pulang dari Makkah. Pada saat itu, kami bertiga tidak ada rencana membawa, oleh karena masih harus ke Sudan. Petugas airport itu justru mengingatkan agar membawa air zam-zam, dan bahkan membelikan dengan uangnya sendiri, sekalipun tempat penjualan air itu berada di luar gedung, dan jaraknya cukup jauh.

Hati yang tulus dan ikhlas juga saya dapatkan lagi, ketika nyampai di airport Khartoum, Sudan. Beberapa dosen dari Universitas al Qur'anul Kariem dan Universitas Um Dhurman, yang mengetahui rencana kedatangan saya pada hari itu, mereka telah menunggu di airport. Kedatangan saya disambut dengan gembira. Bahkan, mereka membantu semua proses administrasi keimigrasian yang harus saya jalani di airport itu. Tanpa bantuan mereka itu, untuk menyelesaikan proses administrasi, harus menunggu lama.

Beberapa kali saya ke Sudan selalu memperoleh pengalaman yang amat menyenangkan. Pejabat negara dan beberapa pimpinan perguruan tinggi Islam memberikan perhatian luar biasa besarnya. Oleh karena itu, pada setiap kali ada pertanyaan tentang alasan menjalin kerjasama dengan perguruan tinggi di negara ini, saya selalu menjawab dengan tegas, bahwa lewat bersillaturrakhiem dan bekerjasama dengan beberapa perguruan tinggi di Sudan, saya selalu mendapatkan orang-orang yang berpikiran dan berhati bersih.

Di Sudan, saya pernah memperoleh pengalaman yang amat mengharukan. Tatkala saya sedang berkunjung ke negara itu beberapa tahun lalu, Rektor Universitas al Qur'anul Karim, sudah beberapa lama sakit dan dirawat di Perancis. Tapi saat itu, ia pulang ke Sudan. Mendengar bahwa saya sedang berada di kota itu, sebelum nyampai di rumah, --------sekalipun dalam keadaan belum sepenuhnya sembuh, beliau langsung menemui saya di hotel. Kedatangannya, saya rasakan sangat mengharukan, karena beliau masih dengan kursi roda, menemui saya, hanya bermaksud mengucapkan selamat datang dan bersalaman, kemudian langsung kembali meninggalkan saya.

Kedekatan yang ditunjukkan oleh para pimpinan perguruan tinggi, guru besar, maupun para dosen-dosennya itulah, yang menjadikan saya menyenangi bekerjasama dengan perguruan tinggi di Sudan. Bahkan, pada kunjungan saya yang terakhir ini, kegembiraan karena bertemu dengan orang yang berpikiran dan berhati bersih, tidak saja saya peroleh selama di Sudan, tetapi ternyata juga saya dapatkan di sepanjang perjalanan menuju ke Sudan. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up