Selama dua hari berturut-turut, yaiu pada hari Selasa dan Rabu, tangggal 13 dan 14 Agustus 2014, saya diajak oleh beberapa kyai untuk bersillaturrakhiem ke beberapa pesantren di Jawa Timur. Rombongan kyai yang dimaksud itu di antaranya adalah Kyai Mahfudz Shobari dari Pecet Mojokerto, Kyai Ali Akbar dari Medan, Habieb Shaleh al Jufri dari Solo, Kyai Imam Mawardi dari Tulung Agung, saya sendiri, dan beberapa kyai lainnya. Kegiatan bersillaturrakhiem antar pengasuh pesantren seperti itu, bagi banyak kyai, apalagi dilakukan setelah hari raya Idul Fitri, adalah merupakan hal lazim.
Beberapa pondok pesantren yang dikunjungi di antaranya, di Pasuruan, ke Pondok Pesantren Sidogiri dan Pesantren yang diasuh oleh Kyai Mas Subadar; di Kediri ke Pondok Pesantren Ploso dan Pondok pesantren Lirboyo; di Jombang ke Pondok Pesantren Tebu Ireng dan Pesantren Peterongan. Selain itu, hingga ke Sumenep menemui beberapa kyai pengasuh pesantren di kabupaten paling ujung timur Pulau Madura. Khusus ke Sumenep, oleh karena sesuatu hal, saya pamit, tidak ikut bergabung.
Dalam kunjungan itu, saya memperoleh beberapa catatan penting tentang peran yang seharusnya dilakukan oleh pesantren terutama dalam kehidupan pada umumnya. Mereka menyadari bahwa peran pesantren tidak cukup hanya mendidik para santri di pesantrennya masing-masing. Menurut para kyai, sebagaimana dulu telah dilakukan dalam sejarah perjuangan merebut kemerdekaan, pesantren seharusnya juga ambil bagian di dalam membangun bangsa ini. Bahkan, beberapa tokoh pesantren, pada awal kemerdekaan, juga terlibat aktif dalam menyusun konsep kerangka bangunan negara dan bangsa ini. Oleh karena itu, pada saat sekarang pun, seharusnya pesantren tidak boleh meninggalkan peran-peran strategis itu.
Menurut pandangan para pengasuh pesantren, negara dan bangsa pada akhir-akhir ini sebenarnya dalam keadaan yang amat memprihatinkan. Setidaknya ada dua hal yang menjadikan para kyai sedemikian prihatin, yaitu terkait dengan kemerosotan akhlak dan kehidupan rakyat pada umumnya. Terkait dengan akhlak, menurut pandangan kyai, kehidupan sudah diwarnai oleh suasana yang sedemikian bebas dan atau liberal. Menghujat, memfitnah, menyakiti dan menjatuhkan orang, mencari menang dan untungnya sendiri, semuanya itu sudah dianggap sebagai hal biasa. Hormat menghorti antar sesama, dan apalagi kasih sayang dan tolong menolong sudah menjadi barang yang sangat langka. Berebut dan transaksi hingga merugikan orang lain, dan semacamnya sudah dianggap menjadi barang lumrah.
Demikian pula akhlak berkeluarga, misalnya antara lain, tradisi menghormati orang tua dan guru sudah semakin hilang. Hubungan laki-laki dan perempuan tanpa ikatan nikah dianggap biasa. Demikian pula, anak lahir dari ayah yang tidak jelas banyak terjadi di mana-mana. Kabar tentang adanya kasus-kasus aborsi, bayi dibunuh atau ditinggalkan oleh orang tuanya sendiri bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Belum lagi, tentang penyalah gunaan obat terlarang telah dilakukan oleh berbagai kalangan. Singkatnya, menurut pandangan para kyai, akhlak bangsa ini sudah sangat memprihatinkan.
Terkait dengan kehidupan ekonomi, sebagai akibat nafsu serakah, pemilik modal besar membuka berbagai usaha tidak terbatas hingga secara langsung mematikan ekonomi rakyat kecil yang jumlahnya jauh lebih banyak. Kehidupan ekonomi masyarakat bagaikan ikan-ikan di laut. Ikan-ikan besar bukan melindungi ikan yang berukuran kecil, tetapi justru memangsanya. Rakyat kecil menjadi tidak berdaya. Usaha mereka dimatikan oleh pengusaha yang berkekuatan modal besar. Sedemikian mudah, para pemodal besar mempermainkan usaha ekonomi rakyat kecil. Oleh karena itu, selain kemerosotan akhlak, sebenarnya kehidupan ekonomi masyarakat di tingkat bawah dirasakan semakin berat. Keadaan rakyat yang demikian itu, bukan karena mereka malas dan atau tidak mau bekerja, melainkan karena kalah dalam bersaing dengan kekuatan pemodal besar.
Menghadapi kenyataan tersebut ternyata melahirkan kesadaran dari beberapa pesantren, mereka menginginkan bangkit lagi untuk menangulangi persoalan tersebut. Terkait dengan pembinaan akhlak, pesantren sudah menganggapnya sebagai tugas pokoknya. Sementara itu, terkait dengan pengembangan ekonomi masyarakat, pesantren ternyata juga memiliki optimisme yang tinggi. Belajar dari beberapa pesantren yang sukses dalam pengembangan ekonomi rakyat, maka para kyai berkeinginan melakukan gerakan yang sama. Dari rangkain kegiatan sillaturrakhiem itu ditemukan, terdapat kyai yang sukses dalam mengembangkan ekonomi pesantren. Sebagai bukti atas keberhasilannya itu, terdapat pesantren, pada setiap bulan mampu membayar pajak kepada pemerintah tidak kurang dari Rp. 300 juta. Atas berbagai usaha yang dikembangkan, penghasilan bersih kyai dimaksud pada setiap bulan tidak kurang dari Rp. 2 milyard. Artinya, kyai pun mampu mengembangkan usaha ekonomi, dan bahkan memiliki nilai lebih, di antaranya, mereka berhasil memberdayakan orang lain, termasuk terhadap para santrinya.
Maka sebenarnya, banyak hal yang bisa dipelajari dan diperoleh dari kehidupan pesantren. Bahkan, terkait dengan pengembangan pendidikan, ada tradisi menarik yang mungkin belum terpikirkan oleh lembaga pendidikan modern sekalipun. Tradisi yang dimaksudkan itu, misalnya pada saat-saat tertentu, kyai melakukan perjalananm atau bersillaturrakhiem ke para alumni pesantrennya. Mendengarkan bahwa alumninya telah berhasil mendirikan lembaga pendidikan, ------pesantren misalnya, kyai akan menyempatkan diri mendatanginya, untuk memberikan semangat, dorongan, dan doanya. Kehadiran kyai akan memiliki arti dan nilai yang luar biasa besarnya bagi santri yang berhasil itu. Jaringan komunikasi antara kyai dan satri seperti itu, tentu membuahkan kekuatan dakwah, psikologis, pendidikan, dan lain-lain yang luar biasa besarnya. Wallahu a'lam.



