Kemarin, tanggal 21 Agustus 2014, saya bersama Prof. Mudjia Rahardja dan Bahruddin Fanani, MA melakukan perjalanan ke Khourtoum, Sudan. Setiap kali melakukan perjanalan ke negara itu, dan menggunakan pesawat Cattar Air, selalu singgah di Doha. Juga beberapa tahun lalu, ketika pergi ke Mesir dan juga ke Sudan, saya singgah di Cattar, namun keadaan airportnya masih belum seindah sekarang ini.
Para penumpang pesawat yang transit di airport itu benar-benar dimanjakan. Lapangan terbang itu terkesan luas, bersih, rapi, dan amat modern. Segala kebutuhan orang di perjalanan dipenuhi. Pertokoan yang menjual aneka kebutuhan disediakan di airport itu. Semuanya ditata rapi, sehingga tampak sedemikian indah.
Demikian pula kebutuhan lain seperti toilet, tempat ibadah, dan bahkan tempat istirahat hingga untuk tidur-tiduran juga disediakan. Apalagi bagi orang yang menyukai untuk selalu mengakses informasi, juga disediakan fasilitas internet di berbagai tempat. Semua kebutuhan orang yang sedang berada di perjalanan dipenuhi dengan sempurna di airport itu.
Sebagai orang yang lama memimpin perguruan tinggi Islam, maka pertanyaan yang muncul dalam pikiran adalah, siapa yang mendesain airport yang sedemikian indah dan modern itu. Merasakan keindahan tempat itu, maka yang terpikir kemudian adalah, bahwa seharusnya sejak lama, sarjana muslim mampu mendasain fasilitas umum yang indah dan nyaman itu. Sebab, Al Qur'an dan hadits nabi memberikan petunjuk tentang seharusnya, umat Islam mampu menciptakan keindahan.
Namun sayangnya, ------selama ini, lembaga-lembaga pendidikan Islam di berbagai tempat masih belum semuanya memiliki kesadaran, bahwa seharusnya para lulusannya mampu mengembangkan fasilitas hidup modern seperti itu. Bahkan, masih banyak mereka yang mengira bahwa urusan untuk memenuhan kebutuhan dimaksud bukan menjadi bagian dari tanggung jawab sarjana muslim. Urusan itu dianggapnya tidak ada kaitannya dengan Islam. Mereka menganggap bahwa Islam hanya terkait dengan urusan agama. Selainnya adalah urusan umum yang tidak terlalu dekat dengan Islam.
Padahal Islam, sebenarnya mengajarkan kepada manusia agar selalu beriman dan beramal shaleh, bekerja sebaik-baiknya untuk memberi manfaat bagi orang lain, dan bahkan ukuran terbaik bagi seseorang adalah terletak pada seberapa banyak memberi manfaat bagi kehidupan. Selain itu, umat Islam harus menjadi yang terbaik, khalifah, dan tauladan bagi umat lainnya. Namun, sebagai akibat dari ilmu yang dikembangkan masih kurang menyeluruh itu, maka peran strategis yang dimaksudkan itu belum berhasil diwujudkan, dan bahkan sebaliknya, dalam banyak hal umat Islam masih tertinggal.
Umpama saja umat Islam berhasil menangkap nilai sejarah kehidupan Nabi di Madinah, hingga berhasil mengembangkan kehidupan yang maju, adil, makmur, dan sejahtera, maka dalam kehidupan modern seperti sekarang ini pun masih tetap akan menjadi contoh, tauladan, dan memimpin peradaban. Namun sayangnya, ternyata mereka masih terjebak pada pemahaman Islam, yang lebih banyak dari aspek ritualnya. Kita lihat saja misalnya, Islam hanya sebatas dipahami dari aspek fiqh, tauhid, akhlak, tasawwuf, dan tarekh. Bahkan tatkala bicara tarekh juga lebih pada kegiatan perang.
Rupanya Islam belum terlalu dipahami sebagai agama dan sekaligus sebagai sumber ilmu pengetahuan maupun peradaban yang luas. Lembaga pendidikan Islam di mana-mana masih terbatas mengembangkan ilmu syari'ah, ushuluddin, dakwah, tarbiyah dan adab. Selain disiplin ilmu itu, sekalipun al Qur'an sendiri memerintahkan agar mempelajari ciptaan Allah baik di langit maupun yang ada di bumi, ternyata hal itu belum dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam. Sebagai akibatnya, umat Islam masih banyak tertingal.
Umat Islam yang melewati Airport Doha yang semakin cantik itu, ------dan juga beberapa airpot lainnya di sekitar wilayah teluk, kiranya akan semakin terbuka wawasannya tentang betapa pentingnya mengembangkan ilmu pengetahuan secara luas sampai tidak terbatas, hingga ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw., benar-benar tampak indah dan membumi. Islam akhirnya tidak hanya tampak di masjid, dan atau di tempat-tempat ibadah, tetapi juga di berbagai lapangan kehidupan lainnya yang amat luas..
Akhirnya juga perlu dicatat bahwa, Nabi Muhammad saw., sendiri, dalam sejarahnya, selain mendirikan masjid, mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar, dan lain-lain, juga mengembangkan ekonomi lewat pertanian hingga di khaibar. Akhirnya, masyarakat Madinah menjadi makmur, adil, dan sejahtera, serta dikenal sebagai bangsa yang memiliki peradaban tinggi atau berakhlak mulia. Wallahu a'lam.



