Dalam prakteknya, tidak mudah mengentaskan kemiskinan. Sebab, orang menjadi miskin itu bukan saja karena tidak memiliki pekerjaan, tidak punya modal, tidak memiliki pengetahuan, dan lain-lain, tetapi juga oleh karena mentalnya itu sendiri yang tidak mudah diajak maju dan berkembang. Sebagai contoh orang yang bermental miskin adalah para pemalas, penjudi, peminum obat terlarang, dan masih banyak lagi lainnya.
Kemiskinan yang hanya disebabkan oleh karena tidak memiliki modal dan pengetahuan tetapi masih memiliki semangat kerja, adalah tidak terlalu sulit diajak maju. Berikut ini adalah contoh kongkrit, tentang bagaimana mengentaskan kemiskinan yang sedikit banyak tergolong berhasil. Contoh yang dimaksudkan ini bisa dilakukan oleh siapapun, oleh karena tidak memerlukan modal, melainkan hanya wawasan atau pengetahuan saja.
Adalah seorang yang sehari-hari bekerja sebagai kuli batu, sedangkan isterinya bekerja seadanya, yaitu sebagai pemulung. Keluarga miskin ini rupanya menyadari bahwa dirinya memang miskin, tetapi masih memiliki cita-cita untuk memperbaiki keadaannya. Hanya saja, dia tidak mengetahui jalan keluar dari penderitaannya itu. Sekalipun bekerja berat, -----sebagai kuli, seringkali, menurut pengakuannya, ia hanya makan sekali dalam sehari. Anehnya, orang miskin ini tidak mau dibantu dengan alasan, tidak mau merepotkan orang lain.
Pada suatu saat, isterinya, oleh seseorang diberikan kepercayaan sebagai pembantu rumah tangga dengan beban yang tidak terlalu berat. Pekerjaan itu lebih terhormat dibanding aktifitasnya sehari-hari, hanya mencari barang bekas yang belum tentu mendapatkannya. Sedangkan suaminya diajari pengetahuan sederhana, ialah agar tatkala bekerja sebagai kuli, tidak saja melayani tukang, tetapi dipesan agar belajar bagaimana menjadi tukang dan bahkan lebih dari itu melihat bagaimana cara mandor membeli bahan bangunan, memimpin para tukang dan kuli, dan mencari borongan pekerjaan, dan sejenisnya.
Secara lebih teknis, kuli dimaksud diajak memiliki cita-cita untuk maju, belajar tentang seluk beluk yang terkait dengan membuat bangunan. Setiap hari, ia disarankan harus bekerja dan sekaligus belajar dari di sekitar lingkungannya. Oleh karena pekerjaannya sebagai kuli, maka ia dianjurkan belajar tentang hal-hal yang terkait dengan pembangunan perumahan. Kuli ini sekali-kali, juga dianjurkan untuk mengetahui bagaimana dan dari mana membeli batu merah, pasir, cara menawar harga bahan bangunan, dan juga cara menentukan harga pekerjaan bangunan.
Bimbingan secara informal itu, setelah sekian lama, ternyata berhasil. Kuli bangunan dimaksud sekarang sudah menjadi pemborong kecil-kecilan. Pengetahuannya tentang borongan bangunan diperoleh dari pengalamannya sebagai pekerja sehari-hari. Selain itu, mental dan kepercayaan dirinya juga ditumbuh-kembangkan. Sebagai cara menumbuhkan mental sukses itu, dilakukan dari hal yang sederhana dan kecil. Misalnya, selalu menjaga dirinya agar tidak selalu diremehkan oleh orang lain. Berbicara dan berperilaku sembarangan supaya dihindari.
Akhirnya, setelah menjadi seorang pemborong bangunan, hidupnya tidak seperti tatkala masih menjadi kuli, dan juga tatkala isterinya bekerja sebagai asongan. Sekarang, ia sudah memiliki rumah sendiri yang tergolong lumayan. Sebagai rasa syukur atas keberhasilannya, ia juga aktif menjalankan agamanya. Sehari-hari sholat lima waktu tidak pernah ditinggalkan. Bahkan, ia juga bergabung kegiatan jama'ah dzikir. Sebagaimana warga masyarakat pada umumnya, anaknya juga sekolah sesuai dengan pilihannya.
Bimbingan untuk menjadi hidup layak, kemauan belajar, dan maju ternyata diperlukan banyak orang. Akan tetapi, memang tidak semua usaha itu bisa berhasil. Sebab, keberhasilan itu tidak saja tergantung kepada pembimbingnya, melainkan juga dari yang bersangkutan sendiri. Selain itu, perubahan seseorang selalu dimulai dari sikap mental yang bersangkutan. Sebesar apapun kekuatan dari luar, manakala sikap mental yang bersangkutan tidak siap berubah atau siap maju, maka tidak akan membuahkan hasil maksimal dan bahkan sebaliknya, akan gagal.
Akan tetapi, apapun keadaannya, upaya mengentaskan kemiskinan harus dilakukan secara terus menerus tanpa henti. Sebab pada hakekatnya, kemiskinan itu adalah bagaikan penyakit, maka harus disembuhkan. Bahkan, jenis penyakit berupa kemiskinan itu sangat berbahaya, sebab bisa mendekatkan yang bersankutan kepada kekufuran. Wallahu a'lam.



