Salah satu kelebihan kyai yang saya kenali adalah tentang cara berpikirnya yang sederhana tetapi relevan dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Suatu ketika saya bersilaturrakhiem ke rumah salah seorang kyai sepuh. Dalam kesempatan itu, dari salah seorang yang hadir dan terlibat dalam pembicaraan itu menyebutkan tentang semakin langkanya lapangan pekerjaan. Ternyata kyai tidak setuju dengan pandangan itu. Kyai justru menganggap bahwa lapangan pekerjaan di dunia modern ini semakin luas, hanya persoalannya tidak semua orang mampu menangkap dan memenuhinya.
Zaman dulu, kata kyai, betapa terbatasnya jumlah dan jenis lapangan pekerjaan. Pekerjaan hanya di seputar kegiatan yang terkait dengan pertanian, perdagangan, peternakan, perikanan, dan sejenisnya. Kebutuhan orang juga masih terbatas. Oleh karena itu lapangan pekerjaan juga terbatas. Hal itu sangat berbeda dengan sekarang. Kebutuhan orang di zaman modern semakin bertambah banyak, dan oleh karena itu juga membuka lapangan pekerjaan yang semakin bervariasi dan jumlahnya pun juga semakin banyak pula.
Kyai mencontohkan bahwa, orang pada zaman modern seperti sekarang ini memerlukan sepatu. Dulu tidak banyak orang mengenakan sepatu. Orang dulu, paling-paling menggunakan sandal dan biasanya bahannya terbuat dari kayu atau benda lain yang sangat sederhana. Sekarang ini, orang kemana-mana mengenakan sepatu. Jenis, model, dan bahannya juga tidak sembarangan. Apalagi, kata kyai, model sepatu wanita, lebih bervariasi lagi.
Sekedar memenuhi keinginan orang bersepatu saja, banyak hal yang dibutuhkan dan tentu membuka lapangan pekerjaan baru. Untuk membuat sepatu, diperlukan hulit dan bahan-bahan lainnya. Maka, perlu pabrik penyamak kulit, ahli yang mampu mendesain sepatu, pekerja pembuat sepatu, pabrik sepatu, mobil pengangkut bahan-bahan sepatu, dan juga penjualannya, toko sepatu, pegawai yang bertugas mempromosikan sepatu, keamanan pabrik sepatu, manajemen pabrik, semir sepatu, hingga makelar penjualan sepatu.
Menurut pendapat kyai, hanya sekedar memenuhi keinginan agar kaki seseorang kelihatan aman, tampak baik, dan apalagi bergengsi, maka betapa banyak jenis dan jumlah tenaga yang diperlukan. Ribuan orang bisa tercukupi kebutuhan hidupnya hanya dari memenuhi keinginan orang agar kakinya tampak baik, aman, dan dinilai bergengsi itu. Kyai juga mencontohkan hal lain yang sederhana lagi. Sekedar memenuhi keinginan orang agar memiliki gigi bersih dan sehat, maka diperlukan berbagai jenis dan jumlah tenaga kerja yang amat banyak
Agar gigi menjadi bersih dan sehat, maka diperlukan pabrik sikat gigi, pabril odol, obat penyakit gigi, dokter dan perawat gigi, perralatan modern untuk merawat gigi, bahkan juga para ahli dan berbagai kelengkapannya. Untuk merawat gigi saja membutuhan tenaga kerja profesional sedemikian banyak. Oleh sebab itu, sepanjang orang masih punya gigi, dan menginginkan giginya sehat, maka membutuhkan berpuluh-puluh ribu tenaga kerja yang terkait dengan persoalan gigi itu.
Lebih sederhana lagi, kyai juga menyebut bahwa, oleh karena adanya orang berperilaku tidak baik atau menyimpang, maka juga membutuhkan tenaga kerja, seperti polisi, tentara, hakim, jaksa, dan berbagai hal yang berhubungan dengan kebutuhan itu. Periperilaku orang jahat akan menyusahkan orang lain. Akan tetapi, sekaligus juga memberikan lapangan pekerjaan yang mendatangkan rezki bagi orang yang jumlahnya cukup banyak.
Oleh karena itu, sekedar untuk membagi rizki kepada makhluk-Nya, Tuhan tidak kekurangan cara. Contoh sederhana, ditumbuhkan pada orang nafsu mencintai kaki, gigi sehat dan indah, dan bahkan juga orang nakal atau jahat. Semua itu mendatangkan lapangan pekerjaan dan juga rizki. Persoalannya, adakah kemauan dan kemampuan orang untuk menangkap peluang untuk memenuhi kebutuhan yang beraneka ragam itu. Siapapun yang pandai dan cerdas, maka akan mampu menangkap kebutuhan itu dan selanjutnya dijadikan sebagai lapangan pekerjaan baru.
Masih menurut pandangan kyai, ternyata tidak semua orang mampu menangkap berbagai peluang itu. Padahal siapapun yang memiliki otak yang cerdas, pandangan mata dan telinga yang tajam, dan hati yang jernih akan mudah menangkap peluang itu untuk dijadikan lapangan pekerjaan. Maka lapangan pekerjaan, menurut pandangan kyai, sebenarnya terbentang luas. Menurut kyai, kekurangan itu bukan terletak pada jumlah lapangan pekerjaan, melainkan kualitas pikiran orang yang terbatas.
Al Qur'an dan juga hadits nabi menyuruh orang agar mau berpikir dan menciptakan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mestinya, lembaga pendidikan di berbagai jenjang diselenggarakan untuk menumbuhkan kemampuan itu. Itulah pandangan kyai tentang lapangan pekerjaan, yaitu cukup sederhana, tetapi relevan dengan kenyataan dan tuntutan yang sebenarnya. Wallahu a'lam.



