Menangkap Semangat Lembaga Pendidikan Tinggi Islam
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Kamis, 21 Agustus 2014 . in Dosen . 829 views

Hal yang terasa sangat menggembirakan di negeri yang berdasarkan Pancasila ini adalah, semangat masyarakatnya mengembangkan lembaga pendidikan, tidak terkecuali adalah lembaga pendidikan tinggi Islam. Lembaga pendidikan tinggi Islam tumbuh di mana-mana, baik yang berstatus swasta maupun yang negeri. Ternyata tidak kurang dari 600 buah perguruan tinggi Islam di Indonesia, dan 53 di antaranya adalah berstatus negeri.

Perguruan tinggi Islam tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Propinsi Aceh hingga Papua. Kebanyakan perguruan tinggi Islam, dulu lebih banyak tersebar di Indonesia bagian barat, yakni di Sumetara. Namun kini, di Papua yang disebut sebagai pemeluk Islam masih terbatas jumlahnya, namun terdapat dua perguruan tinggi Islam negeri. Jumlah mahasiswa perguruan tinggi agama tersebut semakin tahun juga selalu meningkat. Pergruruan tinggi Islam ternyata dijadikan alternatif bagi sebagian rakyat Indonesia.

Fenomena menarik lainnya, bahwa sejak beberapa tahun terakhir ini, lembaga pendidikan Islam, selain berkeinginan maju juga ingin berubah. Lembaga yang semula berbentuk sekolah tinggi ingin berubah menjadi bentuk institut. Sementara itu, yang sudah berbentuk institut ingin berubah menjadi universitas. Dan selanjutnya, mereka yang sudah berbentuk universitas ingin mengembangkan jumlah fakultas, jurusan, dan program studinya, agar menjadi semakin lebih sempurna lagi.

Selama ini, saya tidak pernah menemukan lembaga perguruan tinggi Islam yang tidak mau berubah, dalam arti mereka telah merasa berpuas diri, dan atau menerima apa adanya. Setiap ketemu pemimpin dan atau juga dosennya, selalu menunjukkan antusiasnya ingin berubah dan berkembang. Hanya memang yang agak aneh, terdapat sementara pejabat di kementerian agama sendiri yang mengkhawatirkan terhadap gerakan perubahan itu, terutama yang terkait dengan bidang keilmuannya.

Sekalipun tidak dinyatakan secara eksplisit, perubahan lembaga pendidikan Islam negeri menjadi universitas, dikhawatirkan akan menyurutkan semangat pengembangan ilmu ke-Islaman yang sudah sejak lama dipelihara dan dikembangkan. Oleh karena itu, pejabat yang dimaksud lebih menyukai lembaga pendidikan tinggi Islam yang berbentuk istitut dengan berbagai fakultasnya, yaitu meliputi ushuluddin, syari'ah, ilmu tarbiyah, adab, dan ilmu dakwah. Beberapa fakultas itulah yang sementara ini disebut sebagai rumpun fakultas agama Islam, sedangkan yang lain bukan.

Kekhawatiran dimaksud semakin dirasakan tatkala melihat bahwa, peminat masuk pada fakultas agama sebagaimana disebutkan di muka, di beberapa universitas Islam negeri, ternyata tidak melebihi jumlah peminat ke fakultas umum. Manakala gejala itu dibiarkan, maka di masa depan, orang yang mengkaji al Qur'an dan hadits, dikhawatirkan semakin berkurang. Mereka masih berpandangan bahwa, Islam hanya sebatas meliputi ilmu-ilmu sebagaimana yang telah disebutkan di muka. Sedangkan selainnya, dianggapnya bukan. Mereka belum menyadari, bahwa al Qur'an dan hadits sendiri, lewat berbagai ayatnya memerintahkan agar manusia mempelajari ciptaan Allah, baik yang ada di langit maupun di bumi.

Padahal, kegiatan mempelajari ilmu alam, ilmu sosial, dan humaniora pada hakekatnya adalah upaya memahami ciptaan Allah. Lewat mempelajari beberapa rumpun ilmu dimaksud, maka diharapkan manusia akan mengenal Tuhannya. Manusia, bagaimana pun kuat dan luas kemampuannya, tidak akan mempu mengetahui Dzat Tuhan. Mereka hanya akan mengenal-melalui ciptaan-Nya itu. Bahkan, ada hadits nabi yang mengatakan bahwa, siapa saja yang mengenal atau mengetahui dirinya sendiri maka akan mengenal Tuhannya. Maka artinya, mengenal ciptaan-Nya adalah merupakan pintu mengenal Yang Maha Menciptakannya.

Anehnya lagi, sekalipun bentuk institut yang disebut-sebut sebagai bertugas mempelajari ilmu-ilmu ke-Islaman, ternyata juga belum dilakukan peningkatan kualitasnya secara signifikan. Akibatnya, kelemahan PTAIN yang dirasakan sejak lama, dan bahkan sejak Menteri Agama dijabat oleh Prof. Mukti Ali, hingga kini ternyata juga belum berhasil diatasi. Masih dianggap lazim, lulusan PTAIN belum mampu melakukan peran-peran keseharian dalam memimpin kehidupan keagamaan. Bahkan, tidak sedikit di antara lulusannya itu, sekedar membaca al Qur'an saja, masih belum fasih. Memelihat kenyataan itu, sebenarnya kekhawatiran dimaksud sudah sangat terlambat.

Oleh karena itu, semangat membangun lembaga pendidikan tinggi Islam harus dibarengi dengan kesadaran dan kemauan keras untuk meningkatkan kualitasnya. Selain itu, semangat perubahan juga seharusnya segera direspon, agar PTAIN ke depan berhasil melahirkan ilmuwan yang mampu mewujudkan konsep masyarakat ideal sebagaimana yang tergambar dalam kitab suci maupun hadits nabi. Keterlambatan di dalam peningkatan kualitas dan merespon semangat perubahan itu, akan sama halnya dengan memperpanjang masa kemunduran umat Islam yang sudah sedemikian jauh. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up