Merawat Komunikasi Kultural
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Selasa, 26 Agustus 2014 . in Dosen . 891 views

Salah satu kunci keberhasilan dalam kepemimpinan dan managemen adalah terletak pada komunikasi. Lewat komunikasi yang menyenangkan, dan atau menyentuh hingga wilayah batin seseorang, maka akan membuahkan semangat untuk berpartisipasi atau melakukan sesuatu yang diperlukan dalam sebuah organisasi. Oleh karena itu, setiap pemimpin atau manager seharusnya memiliki kemampuan dan ketrampilan dalam menjalankan komunikasi itu.

Seringkali di sebuah kantor, baik kantor pemerintah atau swasta, diselenggarakan acara olah raga bersama, tour dengan mengikutkan keluarga, coffe morning, dan semacamnya. Berbagai kegiatan itu dimaksudkan untuk menyegarkan komunikasi. Bahkan, sekali-kali, pimpinan kantor pemerintah atau juga swasta, menyempatkan berkunjung ke rumah bawahannya, adalah dimaksudkan, agar hatinya terasa menjadi dekat. Lewat kedekatan dimaksud diharapkan semangat menjadi tumbuh, dan semua pekerjaan berhasil diselesaikan dengan baik. Rasa dihargai, diorangkan, dan juga diajak serta, akan menumbuhkan semangat kerja, dedikasi, dan integritas bagi semua pihak.

Namun seringkali, seorang pimpinan atau manajer mengira bahwa orang akan tergerak oleh karena diajak rapat, dibuatkan peraturan, dinaikkan gajinya, dan sejenisnya. Maka kemudian, berbagai kegiatan seperti workshop, pengarahan, penyelarasan program, dan sejenisnya dilakukan sekalipun harus dengan biaya mahal. Dianggapnya, melalui kegiatan itu, semua staf menjadi bergairah. Mungkin saja pandangan itu ada benarnya, akan tetapi sesuatu yang perlu disadari, bahwa tidak semua itu akan meningkatkan produktifitas kerja. Bahkan rapat atau pertemuan yang terlalu sering, hanya akan membuahkan kesan, bahwa pekerjaannya sudah selesai sekedar hanya dirapatkan.

Menumbuhkan semangat kerja atau semangat berpartisipasi, sebenarnya bisa dilakukan dengan cara sederhana, di antaranya ialah dengan membangun komunikasi kultural. Sebutan komunikasi kultural yang saya maksudkan adalah komunikasi dengan memanfaatkan kultur atau kebiasaan yang dihargai atau dinilai tinggi oleh masyarakat. Sillaturrakhiem adalah salah satu di antara contohnya. Lewat komunikasi atau sillaturakhiem itu, maka orang akan merasa diakui, dihargai, diorangkan, dan atau dianggap penting keberadaannya.

Kegiatan bersillaturrakhiem tidak harus dirancang dan apalagi mengeluarkan biaya mahal. Ketika sedang berkunjung ke Saudi Arabia misalnya, saya menyempatkan berkunjung ke rumah dosen yang diperbantukan kepada UIN Maliki Malang. Saya datang ke rumah Yahya al Ja'fari, dan juga ke rumah Fauzi al Harby, keduanya mengajar bahasa Arab di kampus yang pada waktu itu saya pimpin. Rumah Yahya al Ja'fari di Kunfudha, jauh sekali. Dari Jeddah, saya harus naik kendaraan darat tidak kurang dari lima jam. Sesampai di rumahnya, saya hanya bermaksud mengucapkan terima kasih kepada ibu dan ayahnya, atas kesediaan dan keikhlasannya melepas anaknya, membantu pemerintah Indonesia mengajarkan al Qur'an dan Bahasa Arab di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dalam waktu yang cukup lama.

Demikian pula ketika saya ke Sudan, saya sempatkan berkunjung ke rumah para dosen yang diperbantukan oleh pemerintah Sudan. Terima kasih tidak cukup saya sampaikan kepada pemerintah dan para pimpinan perguruan tinggi yang mengirim dosen itu. Sebagai bentuk komunikasi kultural, saya menyempatkan datang ke rumah para dosen dimaksud untuk mengucapkan terima kasih kepada para orang tuanya, dan atau isteri dan keluarganya. Kegiatan itu, tentu memerlukan waktu dan tenaga yang tidak ringan. Sebab masing-masing rumah para dosen dimaksud tidak selalu berdekatan dan atau berada di kota. Seperti saya sebutkan di muka, untuk sampai ke rumah Yahya al Ja'fari misalnya, harus melewati ratusan kilometer jaraknya, dan masih ditambah dengan resiko yang tidak ringan.

Selama berkali-kali melakukan komunikasi kultural itu, saya mendapatkan kesimpulan bahwa komunikasi itu memang sangat besar harganya. Mereka yang saya datangi dan mendengarkan ucapan terima kasih secara langsung tampak merasakan kegembiraan yang luar biasa. Usaha-usaha sederhana yang saya lakukan itu ternyata kemudian juga menyebar dan didengarkan oleh berbagai pihak di berbagai tempat, termasuk ke kampus-kampus, hingga melahirkan kegembiraan, dan selanjutnya menumbuhkan semangat untuk meneruskan bantuannya itu.

Akhirnya, lewat pengalaman panjang dalam melakukan peran kepemimpinan, saya berpendapat atau berkesimpulan, bahwa untuk menggerakkan orang tidaklah selalu harus dengan uang atau peraturan, tetapi bisa lewat komunikasi, dan bahkan sekedar dengan ucapan terima kasih. Sayangnya komunikasi sederhana itu pada akhir-akhir ini banyak dilupakan, dan atau bagi sementara orang, sekedar mengucapkan terima kasih saja, tampak beratnya luar biasa. Padahal, sesuatu yang sederhana ini, -------sekedar ucapan terima kasih, sebenarnya akan menjadi salah satu kunci keberhasilan kepemimpinan, manajerial, atau usaha lainnya, sehingga semestinya dirawat sebaik-baiknya. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up