Membaca judul dalam tulisan ini, yakni mungkinkah agama menjadi kekuatan pemersatu, maka siapapun, dan apalagi tokoh agama pasti akan menjawab, bahwa agama mampu mempersatukan umat. Namun, jawaban itu sebenarnya akan sulit dicari bukti pembenarnya. Banyak umat beragama terpecah-pecah dalam berbagai madzhab, aliran, golongan dan organisasi yang berbeda-beda. Perbedaan itu tidak saja terjadi pada antar umat agama, melainkan juga pada intern umat beragama sendiri.
Setiap agama selalu mengajarkan tentang kebersamaan, tolong menolong, bekerjasama, menghormati, dan mencintai antar sesama. Kasih sayang antar sesama menjadi salah satu inti dari ajaran agama. Tidak ada agama yang memerintahkan untuk saling membenci, membuat keributan, dan apalagi saling membunuh antar sesama. Agama mengajarkan kedamaian dan keselamatan bersama.
Ajaran yang indah itu ternyata dikalahkan oleh perasaan yang bersifat sosiologis, yakni perbedaan kelompok, madzhab, golongan, organisasi, dan apalagi agama. Atas dasar perasaan itu seakan-akan orang lain atau kelompok lain menjadi kompetitor, atau saingan, dan bahkan sesuatu yang harus dijauhi atau bahkan juga dimusuhi. Perbedaan itu menjadi pembatas komuniasi antar sesama. Orang yang berbeda kelompok, organisasi, madzhab dan sejenisnya, maka komunikasinya tidak selancar dibandingkan dengan sesama kelompoknya sendiri.
Orang menjadi bergembira manakala sedang bersama-sama dengan sesama anggota kelompoknya. Begitu pula akan merasa bangga dan bergembira manakala kelompoknya dianggap kuat, berprestasi, menang, dan seterusnya. Sebaliknya, siapapun merasa terganggu manakala kelompoknya direndahkan, dianggap salah, dan apalagi dihina atau dikahalahkan. Membela kelompok, madzhab, atau agama dianggap sebagai kewajiban. Seserang mau berjuang, berkorban, dan atau bahkan memberikan apapun untuk kepentingan kelompok yang dicintai dan dibanggakan.
Agama adalah sebuah ajaran tentang eksistensi Tuhan, manusia, alam, dan bagaimana seharusnya bersikap dan berperilaku selama hidup agar selamat, baik di dunia maupun di akherat. Akan tetapi, dalam kehidupan sehari-hari agama kemudian menjadi bersifat sosiologis, yakni dijadikan alasan untuk berbeda di antara sesamanya. Perasaan berbeda itu tidak saja dialami oleh pemeluk agama yang berbeda tetapi juga antar kelompok, golongan, madzhab, atau aliran yang berbeda-beda. Pemeluk agama yang sama tetapi berbeda dalam aliran, organisasi, dan atau madzhab, mereka belum merasa sama, dan bahkan sebaliknya, masih bermusuhan.
Kenyataan itu bisa dilihat di dalam kehidupan sehari-hari. Antara pemeluk agama yang sama, tetapi masih merasa perlu memiliki tempat ibadah yang berbeda, pemimpin yang berlainan, simbol-simboil yang beraneka ragam, dan lain-lain. Kenyataan itu muncul, oleh karena masing-masing memiliki faham, penafsiran, dan madzhab yang berbeda-beda itu. Agama dalam kenyataan hidup sehari-hari menjadi sangat sosiologis, yakni melahirkan kelompok-kelompok yang satu sama lain selalu saling melakukan proses-proses sosial sebagaimana hal itu berlaku di dalam kehidupan lain pada umumnya.
Oleh karena itu, tatkala agama sudah menjadi bagian kehidupan sosial, maka tidak bisa dihindari lagi terjadinya kompetisi, integrasi, konflik dan lain-lain sebagaimana kehidupan sosial lain pada umumnya. Apalagi tatkala agama menjadi simbol-simbol kekuatan politik, atau kekuasaan, maka kompetisi dan konflik itu akan semakin tajam. Padahal kehadiran agama adalah untuk menjadikan sesama orang semakin damai, hidup rukun, untuk meraih keselamatan dan kesejahteraan bersama.
Mungkin saja, agama baru akan menjadi kekuatan pemersatu manakala benar-benar diposisikan sebagai sumber inspirasi untuk membangun pandangan kehidupan yang lebih luas melebihi pemikiran yang bersifat sosiologis itu. Atau dalam bahasa lain, agama bukan dijadikan lagi sebagai sumber perbedaan, dan apalagi lebih sempit, yaitu beraliran dan atau bermadzhab, melainkan pandangan yang bersifat universal. Memperjuangkan agama diidentikkann sebagai upaya membela kemanusiaan pada umumnya. Manakala pandangan itu yang berhasil dibangun, maka apa yang disebut agama sebagai rakhmatan lil alamien akan benar-benar berhasil diwujudkan. Wallahu a'lam.



