Orang-Orang Tertinggal, Siapa Yang Salah ?
Prof. Dr. H. Imam Suprayogo Sabtu, 9 Agustus 2014 . in Dosen . 2927 views

Sementara orang mengatakan bahwa, dalam kehidupan yang bebas dan terbuka seperti ini masih ada orang yang tertinggal. Terdapat sekelompok orang mengusai berbagai aset secara berlebihan, sementara lainnya tidak memperoleh bagian, sehingga menjadi t miskin dan tertinggal. Keadaan yang tampak tidak adil itu memunculkan pertanyaan, siapakah yang harus disalahkan. Apakah kesalahan itu harus ditimpakan kepada mereka yang menguasai aset berlebihan itu, ataukah justru kepada mereka yang tertinggal dan miskin itu.

Dalam dunia yang bebas dan terbuka seperti sekarang ini, setiap orang berpeluang untuk maju, menjadi sukses, dan bahkan juga memenangkan kompetisi kehidupan ini. Siapapun yang memiliki kekuatan lebih, maka merekalah yang unggul dan menang. Kekuatan itu bukan terletak pada yang bersifat fisik, melainkan pada ilmu pengetahuan. Siapapun yang menyandang ilmu pengetahuan dan kemampuan profesional, maka mereka itulah yang akan mendapatkan kemenangan dan penghargaan.

Adanya sementara orang yang tertinggal, maka sebenarnya adalah bersumber dari dirinya sendiri. Orang-orang yang tidak mau mengembangkan diri dan memanfaatkan potensi lingkungannya, maka mereka akan kalah di dalam bersaing. Demikian pula sebaliknya. Sementara itu, peluang atau pintu kemajuan sudah terbuka sedemikian rupa. Diskriminasi sudah tidak ada lagi, artinya semua orang diberi kebebasan dan peluang seluas-luasnya untuk meraih keberhasilan. Oleh karena itu, manakala masih ada sementara orang yang tertinggal, atau bahkan tertindas, ----- bisa jadi, kesalahan itu bersumber dari yang bersangkutan sendiri.

Kunci kemajuan dan keberhasilan adalah terletak pada penguasaan ilmu pengetahuan. Orang pintar, cerdas, dan berpengetahuan luas, maka kecil kemungkinannya akan mengalami kegagalan dalam hidupnya, dan apalagi masih bisa ditindas. Orang yang tertinggal biasanya disebabkan bahwa yang bersangkutan tidak mampu menguasai ilmu pengetahuan. Oleh karena itu,------ termasuk umat Islam misalnya, manakala masih merasa tertinggal, maka sebenarnya kesalahan itu bukan terletk pada pihak yang meninggalkannya, melainkan pada umat Islam sendiri. Kesalahan itu misalnya, umat Islam tidak segera membangun lembaga pendidikan yang berkualitas, membuat pusat-pusat pengembangan ilmu pengetahuan, laboratorium, riset, dan seterusnya.

Padahal, Islam mengajarkan tentang kemajuan itu . Disebutkan bahwa, Tuhan akan mengangkat derajat orang yang beriman dan berilmu pengetahuan hingga beberapa derajat. Selain itu, ayat yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca. Sementara itu, jendela dan atau bahkan pintu ilmu adalah membaca. Nabi mewajibkan agar umat Islam mencari ilmu mulai dari ayunan hingga masuk ke liang lahat. Bahkan dalam mencari ilmu, hendaknya supaya dilakukan sampai kemana saja, sekalipun hingga ke negeri yang jauh, China misalnya. Islam sangat menjunjung tinggi dan menghargai orang-orang yang selalu haus dengan ilmu pengetahuan.

Selain itu, Islam juga mengajarkan agar kaum muslimin berlomba-lomba dalam kebaikan. Fastabiqul khairaat. Dalam konsep Islam, berlomba tidak mengenal garis finish, dan siapapun akan berhak mendapatkan kemenangan. Perlombaan itu adalah tentang kebaikan, sehingga siapapun bisa melakukannya. Perbedaan di antara peserta yang menang dan yang kalah adalah terletak pada tingkat kualitasnya. Maka artinya, Islam mendorong pada kemajuan, dan bahkan kemenangan.

Islam juga menganjurkan agar setiap orang peduli terhadap sesamanya. Dianjurkan agar kaum muslimin mengeluarkan shadaqah, infaq, zakat, wakaq, dan lain-lain. Tangan di atas jauh lebih baik dibanding tangan di bawah. Maka artinya, Islam menganjurkan agar menjadi pihak yang memberi, atau menjadi orang yang kuat. Sebaliknya, Islam tidak mewajibkan untuk menerima pemberian, dan apalagi dengan cara meminta-minta. Oleh karena itu, orang yang merasa tertinggal dan apalagi tertindas, maka kesalahan itu terletak pada dirinya sendiri. Mereka tidak mau berusaha maksimal, padahal Islam mendorong kepada siapapun agar berusaha dan hidup sukses. Wallahu a'lam.

(Author)


Berita Terkait


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Jalan Gajayana No. 50 Malang 65144
Telp: +62-341 551-354 | Email : info@uin-malang.ac.id

facebook twitter instagram youtube
keyboard_arrow_up